
Dengan sambil memegang perut yang terasa sakit, Senja masih tetap menjalankan tugas sebagai seorang istri sebelum berangkat mengajar Senja menyiapkan sarapan pagi untuk suami nya.
" Bund, sarapan sama apa? " Tanya Putra sambil melingkarkan tangan nya di pinggang Senja dan sambil mencium pucuk kepala nya.
" Sarapan Sapa tumis buncis sama capcai Yah." Jawab Senja.
Putra pun lalu duduk, dan menunggu Senja yang sedang menyiapkan sarapan pagi nya.
" Bunda nggak makan? " Tanya Putra.
" Bunda nggak ***** makan, kalau ada yang sedang di rasa." Jawab Senja.
Putra meletakkan sendoknya, dan menggeser kursi nya duduk lebih dekat dengan Senja.
" Perut nya sakit? " Tanya Putra sambil mengusap perut nya.
Senja mengangguk sembari menahan rasa sakit.
" Ijin saja mengajar nya, setelah Apel Abang antar ke Dokter."
***
" Bagaimana kandungan istri saya." Tanya Putra panik.
Dokter yang menangani Senja menarik nafasnya lalu menatap lekat pada Putra dan Senja.
" Kandungan nya sehat tapi semakin bertambah usia kandungan nya efek rahim yang luka akibat kecelakaan itu akan tambah sakit, saya tidak yakin istri anda bisa menahan nya, karena ini beresiko pada istri anda." Ucap Dokter kandungan tersebut.
" Tindakan apa agar terbaik buat semuanya? " Tanya Putra.
" Pilih salah satu, karena ini juga beresiko." Jawab Dokter kandungan.
" Maksudnya saya harus merelakanny
a yang tak berdosa ini, nggak saya akan mempertahankan nya walau nyawa saya taruhannya." Ucap Senja.
" Sayang, dengarin kehamilan kamu sangat beresiko dan kamu akan merasakan sakit terus." Ucap Putra.
__ADS_1
" Abang tidak mementingkan anak kita, Abang lebih peduli sama Senja di bandingkan anak ini." Bentak Senja.
" Bukan begitu sayang, Abang hanya ingin yang terbaik." Ucap Putra.
" Terbaik buat Abang, tapi ini anak kita punya masa depan Bang, bukan mengehentikan masa depan nya."
Senja pergi meninggalkan Putra yang masih berada di dalam ruang praktek Dokter spesialis kandungan.
Di dalam mobil Senja terus menangis tanpa menatap ke arah suami nya, dan terus menatap keluar jendela. Putra hanya diam tak bisa berkata apa - apa lagi, dan hanya tetap fokus mengemudikan mobilnya.
Setelah sampai di Asrama, Senja langsung turun dari mobil walau Putra sudah turun dan akan membuka kan mobilnya.
" Yank!! " Putra memegang tangan Senja, namun Senja menepisnya.
Senja langsung masuk ke dalam kamar, dan menangis dengan wajah dia tutupi dengan bantal.
" Sayang, maaf kan Abang. Tidak ada niat untuk menyakiti, dan Abang juga tidak mau kehilangan kedua nya. Abang sayang kalian semua." Ucap Putra duduk di samping Senja.
Senja melemparkan bantal nya ke arah muka Putra, dan Putra hanya diam saat Senja terus memukuli suami nya.
" Kalau Abang sayang, ijinkan Senja mengandung hingga 9 bulan, walau ini sangat beresiko. Senja ingin anak kita lahir Bang hiks... hiks.. jangan ambil anak kita Bang hiks... hiks... "
" Andai sakit mu bisa Abang ganti, Abang rela kesakitan. Sekarang apalah daya, Abang nggak bisa berbuat apa - apa, hanya ingin yang terbaik buat anak dan istri Abang."
" Senja mohon, jangan ambil anak kita Bang hiks.. hiks.. "
***********
Buuuggghhh.....
Arrggghhh......
" Akh payah, Harimau kalah." Sindir Arya saat selesai bertarung.
" Maaf, nggak fokus tadi." Ucap Putra.
" Bagaimana posisi begini, kalau ada musuh tiba - tiba menyerang, kamu akan habis di tangan nya. "
__ADS_1
" Katakan ada masalah apa? " Tanya Arya kembali.
" Kandungan Senja masalah, janin sehat, tapi beresiko pada ibunya. Akan selalu merasa sakit, Dokter kan dulu minta untuk di angkat tapi Senja menolak dan berharap bisa hamil, akhirnya Allah mengabulkan kita memiliki seorang anak, tapi beresiko pada Ibunya. Dokter untuk memilih salah satu, tapi Senja ingin tetap mempertahankan nya, dia rela bertaruh nyawa." Jawab Putra.
" Kita berdoa, semoga anak dan istri kamu selamat dan sehat semua. "
" Amin!! "
*********
" Bang!! " Sapa Senja menyambut Putra yang baru pulang berdinas dengan mencium punggung tangan suami nya.
" Bagaimana anak ayah rewel nggak?" Tanya Putra sembari mengusap perut Senja yang sudah mulai terlihat buncit.
" Nggak rewel kok ayah." Jawab Senja.
" Bunda nya gimana?" Tanya Putra.
" Bunda kangen sama Ayahnya." Ucap Senja tersipu malu.
" Akh.. Bunda, bisa aja jadi Ayah pengen makan Bunda." Goda Putra sambil memainkan jarinya di dada Senja.
" Bunda lakukan yang berbeda ya Ayah, walau nggak kaya dulu puasa dulu masuk hutan rimbanya."
" Iya sayang, yang penting pelatuk Ayah ada yang ngurusin nggak nganggur." Bisik Putra.
***
Setelah pelepasan Putra yang masih bertelanjang dada, dan melihat istri nya tertidur pulas akibat ulah Putra yang ingin terus si pelatuk di main kan.
" Abang ikhlas sayang, walau kita seperti ini. Abang tidak akan pernah berpaling dari kamu, karena kamu adalah permata hati Abang yang tak ternilai harganya."
Putra pun lalu memeluk erat tubuh Senja, dan menelusupkan wajah nya ke tengkuk leher istri nya.
Senja membuka mata nya, terdengar ucapan Putra karena dirinya tidak tertidur hanya lelah.
" Maaf kan istri mu ini Bang, terima kasih sudah menjadi suami terbaik dan menjadi imam terbaik buat Senja. Abang adalah perisai hidup Senja, yang akan selalu Senja simpan di hati sampai mata ini tertutup.
__ADS_1
Lalu mereka berdua tertidur dalam satu selimut, menikmati malam yang dingin dalam satu dekapan hangat.