
Mobil pun memasuki Batalyon, setelah sebuah motor yang telah membantunya mobil yang mereka ikuti tak terlihat lagi.
" Hiks.. hiks... Abang tega banget sih sama kita berdua." Ucap Kinan sembari menangis.
" Maaf kan Abang, maafin Ayah sayang." Ucap Putra pada Kinan sembari mengusap kepala Avan yang masih sesenggukkan.
Putra lalu turun dari mobil nya, dan langsung menggendong Avan, dan mengusap punggungnya.
" Mulai sekarang kamu tidak boleh keluar dari Batalyon atau bawa Avan keluar. Dan mobil kamu, akan berada di garasi gak boleh keluar."
" Kenapa Bang? " Tanya Kinan.
" Jangan banyak tanya, kamu menanggung resiko sendiri Karena ingin menjadi baby sisternya Avan." Jawab Putra.
Putra pun menempati rumah yang dulu dia tempati bersama Senja, ada rasa getir sekilas mengingat Almarhum istrinya.
" Tidurlah di kamar tengah, jangan pernah tidur di kamar utama." Ucap Putra.
" Iya Bang." Ucap Kinan.
Saat Putra sedang menggendong Avan, Aswin menghampiri Putra lalu mencium sekilas pipi Avan.
" Jadi bawa Avan?" Tanya Aswin.
" Benar kata kamu, mereka jadi kan Saya Umpan. Nyawa keluarga Saya terancam, Avan lebih aman disini." Jawab Putra dengan suara pelan nya.
" Kamu ajak Kinan? " Saat Aswin melihat kinan keluar dari kamar nya.
" Iya dia baby sister Avan."
" Wah parah."
" Saya tidur di Mess, nggak tahu dia punya rencana apa, katanya ada misi disini." Ucap Putra sembari menatap malas ke arah Kinan.
*******
" Bang Saya boleh bawa jalan - jalan Avan?" Tanya Kinan.
" Iya tapi di sekitar Asrama saja, jangan bawa Avan keluar dari sini."
" Memang nya kenapa Bang?"
" Jangan banyak tanya turuti apa kata Abang."
" Iya Bang." Ucap Kinan sedikit cemberut.
" Anak Ayah sekarang sama Tante dulu ya, Ayah mau berangkat dinas."
" Panggilnya Mami nggak ada kata Tante." Ucap sembari tersenyum.
***********
Saat Putra melangkahkan kakinya di Batalyon dia melihat sebuah motor seperti yang dia kenali. Putra masih berpikir sambil berjalan, tentang motor tersebut.
__ADS_1
" Ini motor yang tadi malam menolong saat dari kejaran mobil itu."
Putra pun lalu berjalan meninggalkan motor tersebut, dan saat berjalan dari jauh Putra melihat Andra berjalan dengan seorang wanita yang seperti nya tidak asing dimata nya.
" Bang." Sapa Andra.
" Loh kamu kan? " Ucap Putra.
" Kenalin Bang, dia letting saya namanya Letda Hanum, dia pasukan khusus." Ucap Andra pada Putra
" Jadi kamu Tentara." Ucap Putra melihat penampilan Hanum dengan seragam lorengnya.
" Iya, Saya Tentara nama Saya Letda Hanum Syafa."
" Saya Kapten Putra Nagara." Ucap Putra sembari bersalaman dengan Hanum.
********
" Jadi motor itu kamu? " Tanya Putra.
" Iya itu Saya, saat kalian dari Panti Saya kan pulang ke Asrama dan ternyata kita memang satu Batalyon pas Saya di belakang mobil kalian seperti ada yang ngikutin, ternyata memang benar mereka ada niat jahat." Jawab Hanum.
" Terus mereka bagaimana? " Tanya Putra
" Saya alihkan saja, mereka langsung pergi kehilangan jejak kalian." Jawab Hanum.
" Jadi benar kamu di ikuti oleh anak buah Selir Wangi." Ucap Andra.
" Hati - hati, dia sangat licik." Ucap Aswin.
" Jadi bagaimana rencana kita? "
********
" Tolong jangan lakukan apa - apa terhadap nya, Saya yang salah."
" Hei.. saya tahu kamu itu mencintainya kan? Saya nggak akan pernah lepaskan dia, karena dia sudah masuk ke sarang kita. Kalau kamu ingin dia selamat, dia harus bergabung dengan kami dan berpaling dari pengabdian nya terhadap negaranya."
" Makan nya jangan pernah main di belakang kami, apa lagi kamu ingin menghancurkan kami. Sebelum kamu melaporkannya kami bikin kamu hancur dulu."
******
Putra membuka dompetnya saat berada di mushola, setelah sholat malam Putra terus memandang wajah istrinya.
" Abang kangen kamu sayang, lama kamu tidak hadir di mimpi Abang. Dalam setiap Sholat, Doa Abang untuk kamu, selalu Abang kirim kan. Semoga kelak kita akan bersatu kembali.
Namun saat sedang memandang photo Senja, Putra mendengar isak tangis yang sangat pilu. Saat menoleh, Putra melihat Hanum dengan mukena nya sedang berdoa sembari menangis.
" Ada apa dia? Seperti mempunyai sebuah masalah." Ucap Putra dalam hati nya.
********
Hari minggu pagi, Putra duduk di teras depan rumah dinas nya, dia dan Avan sedang berjemur. Dengan menggunakan celana pendek dan kaos lengan pendek, Putra berjemur dengan Avan yang hanya menggunakan Pampers saja.
__ADS_1
" Pagi anak Papi, lagi berjemur ya." Sapa Andra.
" Iya nih Papi, biar sehat." Ucap Putra menirukan suara anak kecil.
" Avan sama siapa? "
" Sama Baby sisternya."
" Kok nggak pernah liat." Ucap Andra.
" Ada di dalam."
" Ohh..!! "
********
Aswin pun baru pulang setelah di undang di sebuah kecamatan untuk sebuah kegiatan. Namun saat sedang masih di atas motor nya dari balik helm nya, dia melihat di depan Batalyon dengan jarak 500 meter, ada seseorang yang begitu sangat mencurigakan.
Aswin pun lalu berhenti, tepat di depan pintu gerbang Batalyon dan terus menatap orang tersebut. Sadar akan dirinya di perhatikan kembali, dia pun kembali dengan berjalan kaki lalu di jemput oleh sebuah motor.
" Apa yang di ingin kan Selir Wangi, sehingga membuntuti Putra?" Aswin berguman dalam hati nya.
********
Kinan menuju dapur namun saat akan membuat susu untuk Avan ternyata habis, dan Kinan pun mencoba menghubungi Putra namun tak ada jawab an.
" Ih Bang Putra kemana lagi, ini Avan susu nya habis." kesal Kinan saat mencoba menghubungi Putra.
" Duh gimana ya, kalau keluar Avan nggak boleh dibawa. Kinan juga nggak boleh keluar dari Asrama, jadi gimana dong. Akh mendingan keluar saja, Kinan bawa Avan saja bodo amat Bang Putra marah salah dia nggak di angkat, anak nya mau mimik susu Ayahnya nggak ada respons.
Namun saat Kinan sedang menggendong Avan berbalut mantel tebal, setelah sampai pintu gerbang Prajurit yang sedang berada di pos menghampiri Kinan yang sedang menggendong Avan.
" Mba Mau kemana? " Tanya nya.
" Ini Om, saya mau ke minimarket sebelah anak Kapten Putra mau beli susu." Jawab Kinan.
" Pak Kapten sudah pesan, mba nggak boleh keluar."
" Ini darurat anak nya kasihan belum minum susu." Ucap Kinan sengaja berbohong.
" Tapi.. "
" Udah percaya sama saya." Kinan pun lalu meninggalkan Om Prajurit tersebut. Dan berjalan sembari menggendong Avan meninggalkan gerbang Batalyon.
Kinan pun berjalan sembari menggendong Avan, namun saat dia berjalan sejauh 300 meter dari Batalyon seperti ada seseorang yang mengikuti nya.
Kinan terus mendekap erat Avan, dan mempercepat langkahnya. Kinan lalu mencoba berlari, dan sosok tubun tinggi besar itu pun ikut mengejarnya.
" Toloongggg.....!!! "
Kinan terus berlari, dan terus menoleh ke arah belakang.
" Tolooonggg....!!!
__ADS_1