
Owaaaa.... Owaaaa.....
" Sayang.. cup.. cup.. ya.. jangan nangis dong, kalau ketahuan bagaimana."
Owaaaa..... owaaa.....
Kanaya terus berusaha menenangkan Avan, namun tangis nya semakin menjadi.
***
" Itu suara tangis Avan." Putra segera beranjak berlari keluar gua.
Semua Pasukan pun ikut keluar dari dalam gua walau hujan yang lebat mengguyur mereka.
Owaaa.... Owaaaa....
" Seperti nya arah dari jam 9 Kapten." Ucap Andra.
Mereka semua pun memastikan kembali karena terdengar samar bersama dengan guyuran air hujan.
" Iya benar arah jam 9,ayo kita kesana." Ucap Putra memberi perintah.
***
" Tunggu, berhenti semua." Perintah Selir Wangi.
Owaaaa..... owaaaa.....
" Kalian dengar!!! " Ucap Selir Wangi.
" Suara bayi." Ucap Walaode.
" kanaya ada di sekitar sini." Seringai senyum Selir Wangi mengembang.
****
Jedeeerr.... Jedeeerr...
Suara petir terus menggelegar, Avan terus menangis hingga membuat Kanaya bingung dan sedikit panik dengan kedatangan anak Buah Walaode dan Selir Wangi.
Kanaya berusaha menutup mulut Avan, agar tidak menangis terlalu kencang, hingga tangisnya membuat sedikit tidak terlalu terdengar.
" Ssttt... jangan menangis." Ucap Kanaya.
****
" Suara nya berhenti disini." Ucap Aswin.
" Iya kemana suara tangis itu." Ucap Putra.
Semua Pasukan menyebar mencari suara tangisan bayi tersebut, Putra pun terus mencari hingga semak - semak. Namun saat sedang mencari Buah hati Kapten Putra, Hanum melihat kedatangan tamu yang tak di undang.
" Sembunyi." Ucap Hanum.
Semua Pasukan pun bersembunyi di semak - semak, dengan guyuran air hujan yang sangat deras.
Semua Pasukan melihat kedatangan tamu tak di undang itu, mereka bersenjata dan wajah yang sangat sangar.
" Seperti nya mereka anak buah Walaode." Bisik Aswin.
" Jangan sampai anak Saya bertemu dengan mereka." Ucap Pelan Putra.
Walaode dan Pasukan nya berhenti tepat di dimana dimana mereka bersembunyi.
__ADS_1
" Kemana mereka? " Ucap Walaode.
Selir Wangi pun tepat berdiri memunggungi Putra yang tepat bersembunyi di semak - semak belakang nya.
Namun saat Putra melirik, dia melihat Avan yang tengah duduk bersama seorang wanita di bawah batu yang tertutup sebuah dedaunan.
Putra memberi kode pada anak buah nya, dengan menggunakan kode sebuah Mata mengarahkan ke arah yang di maksud.
" Sabar nak, Ayah akan menyelamatkan kamu."
Ucap Putra dalam hati nya.
Namun salah satu anak buah Walaode dan Selir Wangi melihat Kanaya dan bayi yang dia bawa bersembunyi di balik dedaunan yang sedikit rimbun dengan sebuah kode.
" Rupanya tikus kecil sedang bersembunyi." Bisik Walaode di telinga Selir Wangi.
Selir Wangi dan Walaode saling berpandangan mata dan tersenyum seakan penuh arti. Meraka berdua pun lalu mendekati semak yang ada di sekitar an bebatuan.
" Gawat!! " Ucap Putra pelan.
" Diam, tahan." Ucap Aswin saat mereka melihat Selir Wangi dan Walaode mengetahui Avan dan seorang Wanita yang bersembunyi di balik baru dan semak - semak.
" Halo... sayang!!! " Sapa Walaode.
Kanaya kaget saat melihat kedua kakaknya, dan dia pun langsung memeluk erat Avan.
" Ka - kalian!! " Ucap Kanaya.
" Kenapa, kaget? " Tanya Selir Wangi.
" Aaarrgggg....!!! "
Walaode menarik paksa Kanaya yang masih memeluk Avan hingga tersungkur ke tanah yang basah dan masih hujan deras.
Semua Pasukan Khusus pun menodongkan Senjata mereka, saat Walaode sudah menarik paksa Kanaya yang masih memeluk Avan.
" Angkat tangan, kalian semua di kepung." Ucap Putra.
Anak buah Walaode dan Selir Wangi pun menodongkan Senjata mereka, dan Walaode serta Selir Wangi hanya tersenyum santai saat melihat Pasukan Khusus yang di pimpin oleh Kapten Putra Nagara.
" Menyerahlah, kalian sudah di kepung." Ucap Putra.
" Apa kabar Pak Kapten, bagaimana pestanya?" Tanya Selir Wangi dengan senyum licik nya.
" Sangat buruk, karena ulah wanita seperti kamu." Jawab Putra.
" Lihat lah, wajah ini." Tunjuk Selir Wangi pada Kanaya yang masih memeluk Avan dengan melindunginya dari derasnya air hujan.
Putra melirik ke arah apa yang di tunjuk Selir Wangi, dan Mata pun terbelak saat melihat wajah yang sama.
" Ini Kanaya yang menolong kamu, hingga dia jatuh cinta dengan kamu. Tapi sayang aksinya ketahuan saat dia mengambil alat pengirim sandi millik kamu." Ucap Selir Wangi.
" Jadi kalian kembar?? " Tanya Putra.
" Iya, kami kembar tapi dia berkhianat ingin membela Negara ini, wanita yang tidak tahu apa - apa kenapa kami melawan Negara ini." Jawab Selir Wangi.
" Apa hubungan nya kamu menculik anak saya?"
Selir Wangi tersenyum ke arah Putra yang masih menodongkan Senjata nya, lalu menodongkan Senjata nya ke arah Avan yang sedang di peluk oleh Kanaya.
" Gara - gara wanita yang melahirkan anak itu, pernikahan Saya dengan Mike hancur. Saat mengetahui siapa Tentara yang di tolong oleh Kanaya, ternyata suami dari Senja." Ucap Selir Wangi menodongkan Senjata ke arah Avan.
Seketika darah berhenti mengalir, saat Senjata itu terarah ke Avan yang masih dalam pelukan Kanaya.
__ADS_1
" Suami kamu yang telah bikin rusak istri Saya, karena perbuatan suami kamu istri Saya menderita.Saya berjuang untuk memulihkan nya kembali karena ulah suami kamu." Ucap Putra dengan suara lantang.
Diam - diam, Hanum pun memberikan kode tanda bahaya ke Markas besar untuk mengirimkan beberapa Pasukan dengan titik lokasi yang sudah di tentukan.
Beberapa Pasukan terlatih mundur secara perlahan, saat pandangan mereka semua teralihkan.
Sreett..
Sreeett...
Satu persatu anak buah Walaode tumbang, dengan di lumpuhkan oleh beberapa Pasukan Khusus yang menyelinap saat genting saling todong Senjata.
" Saat nya Pesta." Ucap Putra dengan senyum licik nya langsung menyerang Selir Wangi.
Tembakan dan baku hantam mewarnai malam dengan berselimut mendung dengan siraman air hujan.
Door....
Door....
" Cepat lindungi anak Saya dan Wanita itu." Teriak Putra saat sedang adu jotos dengan Selir Wangi.
Owaaa..... Owaaa.....
Avan menangis saat mendengar suara tembakan dan suara teriakan, Kanaya pun yang di bantu Hanum berlari meninggalkan tempat tersebut.
Walaode yang mengetahui Kanaya pergi, langsung berlari mengejar nya dengan Senjata yang dia letuskan.
Door...
Door...
Saat Senjata membrondong mereka, Hanum pun membalas dengan tembakan nya, saling baku tembak pun mewarnai malam ini.
Door....
Door...
Sreeeeettt.....
Aaaarrgghhh....
Baku tembak, baku hantam dan hantaman Senjata tanjam pun terjadi hingga darah mengalir dengan derasnya air hujan, bahkan para Pasukan pun tak pantang menyerah hingga satu persatu anak buah mereka tumbang.
Door...
Door.....
" Cepat lari, dan bersembunyi." Teriak Hanum para Kanaya saat baku tembak terjadi karena Walaode terus mengejarnya.
Owaaa..... Owaaa.....
Avan terus menangis, saat mendengar suara letusan tembakan, dan Kanaya terus mendekap erat Avan mencari sebuah perlindungan.
" Arah pukul 12 , Butterfly memerlukan bantuan kami di serang oleh Walaode." Ucap Hanum melalui earpeace nya.
Door....
Door....
" Akh.. sial." Ucap Hanum saat pelurunya habis.
" Cepat lari dan cari perlindungan." Ucap Hanum kembali pada Kanaya saat mereka berlari dari kejaran Walaode.
__ADS_1