
Putra sembari menyandarkan kepala Senja di dada nya, sembari menuntun Andra yang tengah berkutat untuk mematikan Bom waktu tersebut.
" Tinggal kan Senja Bang, kalian harus pergi sebelum Bom ini meledak." Ucap Senja.
" Nggak sayang, kami berdua akan menjinakkan Bom ini." Ucap Putra.
Andra sudah tampak berkeringat, dengan melepaskan satu persatu lilitan kabel tersebut.
" Bang, waktu kita tidak banyak, hanya sisa tiga puluh lima menit lagi." Ucap Andra.
" Berapa warna kabel tersebut? " Tanya Putra.
" Empat Bang, merah, kuning, hijau dan hitam." Jawab Andra.
" Ini Bom yang langka, hanya kelompok international yang bisa merakit Bom jenis seperti ini." Ucap Andra kembali.
" Kita biasa memutus warna kuning, ini bukan warna kuning tapi ketiga warna itu." Ucap Putra.
Senja sudah tampak pucat, tangan yang sebelum nya terborgol sudah di lepas oleh Andra.
" Enngghh.. "
Andra menatap sekilas Senja yang sedang sedikit mengerang, dan tatapan itu pun terlihat oleh Putra.
" Biar Abang yang berganti, kamu gantian jaga Senja. " Ucap Putra.
" Nggak Bang, Senja mau sama Abang." Ucap Senja pelan.
" Abang disini sayang, hanya menggantikan Andra yang sudah pusing mengatasi Bom ini." Ucap Putra.
Andra pun beralih posisi, Putra dengan punggung yang masih sakit mencoba untuk menemukan titik dimana Bom waktu tersebut berhenti.
Senja menyandarkan kepala nya di dada Andra, dengan rasa canggung dan tidak nyaman membuat Putra sedikit menyunggingkan senyumnya.
" Apakah kalian tidak mau bicara, nikmati saja mungkin esok kalian tidak bisa bertemu kembali karena saya gagal memutus kabelnya." Ucap Putra .
Andra hanya diam tetap fokus ke arah Bom tersebut agar bisa lepas dari tubuh Senja, sesekali Andra melirik ke arah Senja yang sedang mencengkram kaki suami nya.
" Tinggal kan Saya, kalian harus pergi sebelum Bom ini meledak." Ucap Senja.
" Kalau Bom ini tidak bisa di Kendalikan kita bertiga akan bersama - sama meregang nyawa." Ucap Andra .
__ADS_1
Senja menatap Andra dengan penuh pertanyaan, Andra yang menyadari bahwa Senja menatap nya hanya diam dan Putra pun hanya fokus pada Bom tersebut.
" Abang membenci Saya, kenapa Abang ingin menyelamatkan saya." Ucap Senja.
" Kalau boleh jujur, Abang tidak ingin melihat masa lalu Abang mati konyol, terserah Bang Putra setelah ini mau menghajar saya juga nggak apa - apa." Ucap Andra.
Putra mendengar ucapan Andra, namun saat ini konsentrasinya hanya melepaskan satu kabel lagi yang masih mengunci sehingga tidak bisa lepas dari tubuh Senja.
" Saya hanya ingin minta maaf sama Abang, seandainya umur kita sampai disini Saya ingin Bang Andra memaafkan Tari. Disini Tari memang salah, telah menyiakan cinta tulus Abang, dan disisi lain ada hati yang selalu tertanam dia yang Abang lihat saat ini." Ucap Senja.
" Bagaimana Bang, sisa satu kabel warna hitam dan merah." Ucap Andra.
" Hanya diantara dua warna ini yang menentukan hidup mati kita. " Ucap Putra.
" Waktu sisa hanya tinggal 15 menit." Ucap Andra.
" Bang, cepat pergi dari sini." Ucap Senja pada Putra dan Andra.
" Diam, jangan ganggu konsentrasi suami kamu." Bisik Andra.
Putra dan Andra menatap dua kabel tersebut, karena model Bom tersebut sangat berbeda dengan Bom yang selama ini mereka taklukan.
" Saya serahkan pada Abang." Ucap Andra.
Bunyi waktu pada Bom tersebut terus berjalan, keringat Putra yang membasahi pelipis nya karena berjuang antara hidup dan mati diantara Bom waktu yang terus berjalan.
" Sumpah, terasa gugup dan Bingung karena disini Saya yang harus menentukan hidup dan mati Anak istri saya." Ucap Putra.
" Yakin Bang, harus yakin insya Allah kalau Abang yakin apa yang Abang putus nanti itu adalah yang akan menolong kita." Ucap Andra.
Senja terus memegang dada nya yang sakit, dan perutnya sedikit meremas, dan sesekali tangan nya meremas paha suami nya yang sedang duduk sembari berkonsentrasi pada Bom waktu yang menempel pada tubuh istri Pak Kapten.
Putra dengan pisau nya masing menggantung di depan Bom tersebut dengan gemetar Putra tak sanggup memutus nya.
" Bang, kenapa? " Tanya Andra.
" Saya takut melukai anak istri saya." Jawab Putra.
" Yakin Bang, harus yakin." Ucap Andra.
Putra menatap ke arah Senja yang sedang meringis kesakitan dan menatap perut buncit yang sudah menginjak usia 7 bulan.
__ADS_1
" Maafkan Abang sayang, kalau Abang melakukan kesalahan. Abang sudah berusaha semaksimal mungkin. " Ucap Putra.
" Yakin Bang, lihat istri dan calon anak Abang." Ucap Andra.
Senja lalu menahan pisau yang di pegang suami nya, dan menyingkirkan nya.
" Biarlah ini meledak dengan sendiri nya, sudah 10 menit lagi kalian harus cepat pergi dari sini."
" Omongan apa itu, Abang pasti bisa." Ucap Putra.
Putra lalu memilih kabel warna merah dan hitam, dia harus memutus salah satu kabel tersebut, dan dengan memejamkan mata nya Putra memilih kabel warna hitam yang dia putus.
Seketika Bunyi alat penghitung waktu pada Bom tersebut berhenti, ada rasa lega dan tegang bagi seorang Tentara untuk menjinakan sebuah Bom.
" Alhamdulillah kita selamat." Ucap Putra.
" Alhamdulillah, kita selamat Tari." Ucap Andra.
Semua pasukan khusus pun di tarik dari balik persembunyian mereka, dan Tim medis pun segera menaiki anak tangga paling ujung untuk menolong keadaan korban dan satu anggota TNI yang terkena lemparan getaran sebuah ledakan tadi.
" Eenngghh... Abang..!! " Senja merintih kesakitan pada bagian perut dan sesak di dada nya.
" Sayang sabar, Tim medis sedang menuju ke atap, kamu sabar ya sayang." Ucap Putra.
Namun saat sedang menunggu Tim medis datang tiba - tiba rompi yang sudah terlepas dari tubuh Senja tersebut aktif kembali.
Tit.... Tit.... Tit.... Tit....
Seketika bersamaan para Tim medis datang dengan 2 tandu, dan Putra serta Adnan saling menatap tajam.
" Sial kita terkecoh dengan warna kabel, ternyata kabel warna merah yang hanya bisa menjinakkan Bom waktu tersebut.
Andra lalu beranjak berdiri dan menatap ke arah Senja, lalu sedikit berjongkok.
" Abang sudah maafkan kamu." Ucap Andra sembari mencium kening Senja sehingga mendapatkan tatapan mata tajam dari Putra.
Andra berlari menuju ke arah rompi hitam tersebut dan mengambilnya dengan di dekapnya Andra melompat dari atap gedung.
" Andra....!!!! "
Teriak Putra dan membuat kaget para Tim medis dan beberapa pasukan yang berada di atap yang sama.
__ADS_1
Boooommmmm.....