
" Bang, Senja maunya rujak serut bukan rujak uleg." Senja kesal melihat pesanan yang dia inginkan tidak sesuai harapan.
" Nggak ada sayang, yang biasa jualan nggak ada. Ini Abang muter - muter loh, masa nggak di makan." Ucap Putra dengan wajah kecewa.
" Nggak akh,Abang saja Sana yang makan." Ucap Senja marah dan langsung duduk di sofa memainkan ponsel nya.
" Abang cari buah saja ya, nanti Abang bikin rujak serutnya."
" Nggak mau, rasa nya nggak enak. Mau nya tuh Bang, rujak. serut yang depan gedung olah raga itu."
" Ya maaf sayang nggak jualan, beli yang lain saja ya."
" Udah akh.. Sana gih,Senja nggak mau lihat Abang." Ucap Senja sembari mendorong tubuh Putra untuk pergi meninggalkan rumah nya.
" Kok Abang di usir yang, dosa loh ngusir suami."
" Senja mual lihat Abang!!" Lalu Senja berlari menuju kamar mandi, dan memuntahkan semua isi perut nya.
Putra memijat tengkuk leher Senja, namun Senja menepisnya dan muntah kembali.
" Abang, Sana akh jadi mual nih." Bentak Senja.
" Ya Allah yank, gara - gara ngidam nggak keturutan malah ayah nya yang di benci sampe muntah. " Ucap Putra sambil cemberut.
**
Putra berjalan menuju Batalyon dengan wajah yang di tekuk membuat dua sahabatnya Aswin dan Arya menghampiri nya.
" Pak Kapten kenapa? Kayanya sama Ibu Putra habis di aniaya." Ledek Arya dan membuat Aswin tertawa terbahak - bahak.
" Senja ngidam rujak serut, nggak ada saya beliin rujak uleg eh dia marah. Masa gara - gara rujak, lihat muka Saya mual dan muntah - muntah." Ucap Putra langsung mendapatkan tawa dari Arya dan Aswin.
" Akh.. kalau kayak gini, bakalan alamat tidur di Barak." Ucap Putra.
" Masih mending tidur di Barak, kalau ada tempat kosong malah suruh tidur di pos penjagaan." Sindir Aswin.
__ADS_1
" Hahaha hahaha.....!!! Benar banget itu." Ucap Arya tertawa sambil terpingkal.
***
Putra pun berjalan pulang menuju rumah nya, Putra merasa ragu saat akan membuka pintu rumah. Lantas dengan mengetuk jendela kamarnya, Putra memanggil Senja.
" Yank, Abang boleh masuk nggak? "
Putra sambil mengetuk kaca jendela kamarnya, namun nggak ada sahutan dari istri nya.
Tok.. Tok.. Tok...
" Yank, buka pintunya dong. Masa Abang tidur di teras,bagaimana nanti kalau di lihat sama junior Abang, apalagi senior Abang Mau taro di mana muka Abang."
Namun tidak ada sahutan suara dari Senja, Putra pun lantas mencoba membuka pintu rumah nya namun di kunci dan lupa membawa kunci serep.Putra mencoba menelepon Senja, nada dering yang terdengar nyaring tapi tak di angkat.
Putra pun panik, lalu mencoba mendobrag pintu rumah, dan langsung menuju kamarnya. Ternyata Senja sedang tertidur lelap, dengan posisi yang sudah tidak beraturan.
" Ya ampun sayang, Abang khawatir di luar kamu malah lagi tidur posisi menguasai tempat tidur. Bumil nya Kapten Putra, paling bisa bikin jantung Ayah jedag jedug." Ucap Putra lalu mencium kening Senja.
***
Senja mengeliatkan badan nya, saat Adzan Shubuh berkumandang. Senja meraba tidak ada Putra di samping nya, dia pun lalu langsung keluar kamar di lihat nya suami nya sedang mendegur halus tidur nyenyak di kasur lipat depan tv.
" Ya Allah Abang, kok nggak tidur di kamar."
Senja lalu mencolek hidung suami nya, namun tidak bergeming malah menyingkirkan tangan Senja. Lalu dengan usil Senja memencet hidung mancung suami nya, dan otomatis langsung gelagapan.
Hahaha hahahaha...
Senja tertawa saat suami nya bangun dengan nyawa yang masih belum terkumpul.
" Yank, masih ngantuk ini kan hari minggu." Ucap Putra lalu menempelkan kepala nya di atas bantal.
" Ih.. Abang bangun, Sholat Shubuh dulu Bang. Nanti Abang tidur lagi, buruan cuci muka kita sholat bareng."
__ADS_1
Setelah sholat berjamaah, Senja mencium punggung tangan suaminya. Dan Putra pun mencium kedua pipi Senja dan kening nya. Saat Putra sedang berdzikir Senja menyandarkan kepala nya di punggung Suami nya, dan tangan Putra pun sambil mengusap perut istri nya.
Setelah ber dzikir Putra menghadapkan badanya ke arah Senja.
" Bang maaf kan Senja kemarin ya."
" Iya sayang, Abang juga minta maaf kalau Abang nggak bisa memenuhi keinginan Bunda kemarin, anak Ayah jangan marah lagi ya, jangan hukum Ayah lagi." Ucap Putra sambil mengusap perut Senja.
" Ayah nggak marah kan sama Bunda? "
" Nggak sayang, masa Ayah marah sama Bunda."
Senja lalu tersenyum pada Putra, dan terus meminta Putra untuk mengusap perut nya yang sedikit sudah mulai tampak membesar.
***
" Abang...!!! " Teriak Senja sambil membawa gagang sapu.
" Ada apa Yank?? " Ucap Putra sembari berjalan ke arah Senja.
" Ini pintu kenapa bisa miring kayak gini? " Tanya Senja.
" Anu Bund, tadi Ayah dobrag karena tadi malam Ayah mau masuk susah, Bunda sudah tidur ya sudah di dobrag saja. " Jawab Putra dengan rasa yang tidak bersalah.
" Kan bisa telpon Bang." Ucap Senja.
" Kan bisa telpon Bang." Sindir Putra menirukan gaya bicara Senja.
" Abang mencoba menghubungi kamu, malah nggak di jawab jadi Abang kan khawatir takut ada apa - apa. " Ucap Putra.
" Ya Allah Abang maaf ya, gara - gara kemarin Senja kesel sama Abang pintu rumah di kunci." Ucap Senja menyesal.
" Lain kali jangan begitu sama suami, dosa loh Bund, jangan ulangi lagi ya sayang." Ucap Putra sambil membelai rambut Senja.
" Iya Ayah, maafin Bunda ya." Senja mencium punggung tangan suami nya. Putra pun lalu mencium pucuk kepala Senja.
__ADS_1
" Selalu jadi Sholeha nya Abang ya sayang, nak kalau sudah lahir jangan suka meniru sifat Bunda, tirulah Sifat Ayah."
" Ih... Abang..!!! " Senja langsung menekuk kembali wajah nya. Putra hanya terkekeh beli, melihat istri nya yang sekarang tambah sensitive setelah hamil anak pertama.