Ujung Timur (Penantian Sang Prajurit)

Ujung Timur (Penantian Sang Prajurit)
Calon Keluarga Baru


__ADS_3

" Bagaimana Dokter? " Tanya Putra saat melihat di layar monitor.


" Alhamdulillah Pak Putra sama Dokter Dahlia sehat, di jaga janin nya ya say jangan capek - capek."


" Siap.. !! " Ucap Dahlia.


" Jangan siap - siap aja Yank, kalau Ada apa - apa Abang yang repot." Ucap Putra.


" Tuh denger nggak say apa kata suami kamu." Ucap Dokter Hilda.


Dahlia hanya tersenyum ke arah Putra dan Dokter Hilda, Dokter kandungan satu rumah sakit dimana mereka berdua praktek.


*******


" Jadi Avan Mau jadi Abang yah." Ucap Avan saat di pangku oleh Putra .


" Iya Avan Mau jadi Abang."


" Terus adek bayinya mana? " Tanya polos Avan.


" Nih adek bayinya!! " Tunjuk Dahlia pada perut nya.


Avan lalu turun dan mencium perut Dahlia lalu mengusap nya.


" Dede nanti kalau sudah keluar kita main perang - perangan sama - Sama." Ucap Avan.


" Loh kok perang sih Avan? " Ucap Dahlia.


" Kan Dede nya laki - laki." Ucap Avan.


" Emang Avan sudah tahu? "


" Ini cowok Ayah Bunda."


" Mau cowok atau cewek yang penting lahir selamat." Ucap Putra.


" Tapi Avan Mau nya cowok bisa main perang - perangan sama - sama."


" Sayang Mau cewek atau cowok kita harus menerima nya, yang penting sehat selamat saat lahir." Ucap Dahlia.

__ADS_1


******


Hoek.. hoek...


" Gimana masih mual? " Putra memijat tengkuk leher Dahlia.


" Mual banget Bang." Dahlia menyandarkan Kepala nya di dada Putra.


" Istirahat dulu." Putra membawa Dahlia ke kamar dan berbaring di atas tempat tidur.


Putra pun lalu membawa minya angin untuk Dahlia hirup agar mengurangi rasa mual nya.


" Bang, tolong pijitin punggung Dahlia."


Putra pun memijit punggung Dahlia, hingga pijatan nya membuat Dahlia merasakan sangat nyaman.


" Gimana enak? "


" Enak Bang terus ya pijitin."


******


" Bunda bangun...!! " Teriak Avan.


" Iya sayang ada apa? " Tanya Dahlia dengan suara khas orang bangun tidur.


" Bunda main yuk."


" Bunda lemes sayang pusing m mual, main sama Ayah ya nak."


" Nggak mau ingin sama Bunda."


" Abang Mau main apa? "


" Perang - perangan, Avan jadi Tentara Bunda jadi Dokter nya."


" Main sama Ayah ya kalau ini sih atau main sama om - om di luar."


" Nggak Mau, ingin nya sama Bunda." Ucap Avan merajuk.

__ADS_1


Akhir nya Dahlia menuruti apa kata anaknya itu, hingga perang - perangan pun berlangsung dimana semua isi rumah berantakan dan buat Avan membayangkan rumah terkena serangan bom.


" Astaghfirullah ini rumah kenapa? " Tanya Putra tiba - tiba baru pulang Dinas.


" Ayah... Avan tembak.. dor... dor.. dor... " Avan mengarahkan Senjatanya.


Putra pun mengikuti permainan Avan dan langsung tumbang tergelatak di lantai.


" Horeeee... Avan menang.. " Teriak Avan sambil berjingkrak kegirangan.


Hap


Putra mengangkat tubuh Avan ke atas hingga Avan memukul wajah Putra.


" Ayah curang, ayah ceritanya sudah tewas."


" Ayah Mau tanya kenapa aja Bunda untuk main perang - perangan hah.. "


" Kan di latih dulu ayah, agar dedek bayi pas lahir sudah jago tembak."


" Astaghfirullah Avan, kamu ya.. " Ucap Putra yang gemas melihat tingkah laku anak lelakinya.


" Kamu tahu Bunda lagi kurang sehat, kalau Ada apa - apa bagaimana dengan si dedek di dalam perut."


Avan yang tahu ayah nya marah menundukkan wajah nya, lalu Putra menurunkan Avan.


" Bunda maaf kan Avan ya."


" Iya sayang, Avan nggak salah kok." Ucap Dahlia hingga mendekap tubuh Avan.


" Di bela terus anaknya ya bund." Putra menyelonong pergi sambil merapikan rumah yah sudah seperti kapal pecah.


" Avan nggak salah Ayah, dia hanya ingin bermain."


" Iya lain kali ajarkan Avan bund, kalau main jangan seperti ini kasihan Bunda nggak boleh capek - capek, kamu dengar nggak ayah bicara Ada calon adek kamu katanya ingin nanti main perang - perangan." Ucap Putra sambil merapikan benda - benda yang berserakan.


" Maaf Abang Avan Bund, maaf Abang Avan ya dek." Avan memeluk tubuh Dahlia dengan sesenggukan.


" Loh kok Abang nangis, cowok nggak boleh nangis dong." Ucap Dahlia sambil mengusap air mata Avan.

__ADS_1


" Maaf kan Ayah kalau keras ke Abang, sekarang Abang sudah jadi calon kakak, Ayah ke Abang begini biar Abang menjadi seorang pria yang peduli dan bertanggung jawab. "


__ADS_2