
" Bagaimana Dokter? " Tanya Putra saat melihat di layar monitor.
" Alhamdulillah Pak Putra sama Dokter Dahlia sehat, di jaga janin nya ya say jangan capek - capek."
" Siap.. !! " Ucap Dahlia.
" Jangan siap - siap aja Yank, kalau Ada apa - apa Abang yang repot." Ucap Putra.
" Tuh denger nggak say apa kata suami kamu." Ucap Dokter Hilda.
Dahlia hanya tersenyum ke arah Putra dan Dokter Hilda, Dokter kandungan satu rumah sakit dimana mereka berdua praktek.
*******
" Jadi Avan Mau jadi Abang yah." Ucap Avan saat di pangku oleh Putra .
" Iya Avan Mau jadi Abang."
" Terus adek bayinya mana? " Tanya polos Avan.
" Nih adek bayinya!! " Tunjuk Dahlia pada perut nya.
Avan lalu turun dan mencium perut Dahlia lalu mengusap nya.
" Dede nanti kalau sudah keluar kita main perang - perangan sama - Sama." Ucap Avan.
" Loh kok perang sih Avan? " Ucap Dahlia.
" Kan Dede nya laki - laki." Ucap Avan.
" Emang Avan sudah tahu? "
" Ini cowok Ayah Bunda."
" Mau cowok atau cewek yang penting lahir selamat." Ucap Putra.
" Tapi Avan Mau nya cowok bisa main perang - perangan sama - sama."
" Sayang Mau cewek atau cowok kita harus menerima nya, yang penting sehat selamat saat lahir." Ucap Dahlia.
__ADS_1
******
Hoek.. hoek...
" Gimana masih mual? " Putra memijat tengkuk leher Dahlia.
" Mual banget Bang." Dahlia menyandarkan Kepala nya di dada Putra.
" Istirahat dulu." Putra membawa Dahlia ke kamar dan berbaring di atas tempat tidur.
Putra pun lalu membawa minya angin untuk Dahlia hirup agar mengurangi rasa mual nya.
" Bang, tolong pijitin punggung Dahlia."
Putra pun memijit punggung Dahlia, hingga pijatan nya membuat Dahlia merasakan sangat nyaman.
" Gimana enak? "
" Enak Bang terus ya pijitin."
******
" Bunda bangun...!! " Teriak Avan.
" Iya sayang ada apa? " Tanya Dahlia dengan suara khas orang bangun tidur.
" Bunda main yuk."
" Bunda lemes sayang pusing m mual, main sama Ayah ya nak."
" Nggak mau ingin sama Bunda."
" Abang Mau main apa? "
" Perang - perangan, Avan jadi Tentara Bunda jadi Dokter nya."
" Main sama Ayah ya kalau ini sih atau main sama om - om di luar."
" Nggak Mau, ingin nya sama Bunda." Ucap Avan merajuk.
__ADS_1
Akhir nya Dahlia menuruti apa kata anaknya itu, hingga perang - perangan pun berlangsung dimana semua isi rumah berantakan dan buat Avan membayangkan rumah terkena serangan bom.
" Astaghfirullah ini rumah kenapa? " Tanya Putra tiba - tiba baru pulang Dinas.
" Ayah... Avan tembak.. dor... dor.. dor... " Avan mengarahkan Senjatanya.
Putra pun mengikuti permainan Avan dan langsung tumbang tergelatak di lantai.
" Horeeee... Avan menang.. " Teriak Avan sambil berjingkrak kegirangan.
Hap
Putra mengangkat tubuh Avan ke atas hingga Avan memukul wajah Putra.
" Ayah curang, ayah ceritanya sudah tewas."
" Ayah Mau tanya kenapa aja Bunda untuk main perang - perangan hah.. "
" Kan di latih dulu ayah, agar dedek bayi pas lahir sudah jago tembak."
" Astaghfirullah Avan, kamu ya.. " Ucap Putra yang gemas melihat tingkah laku anak lelakinya.
" Kamu tahu Bunda lagi kurang sehat, kalau Ada apa - apa bagaimana dengan si dedek di dalam perut."
Avan yang tahu ayah nya marah menundukkan wajah nya, lalu Putra menurunkan Avan.
" Bunda maaf kan Avan ya."
" Iya sayang, Avan nggak salah kok." Ucap Dahlia hingga mendekap tubuh Avan.
" Di bela terus anaknya ya bund." Putra menyelonong pergi sambil merapikan rumah yah sudah seperti kapal pecah.
" Avan nggak salah Ayah, dia hanya ingin bermain."
" Iya lain kali ajarkan Avan bund, kalau main jangan seperti ini kasihan Bunda nggak boleh capek - capek, kamu dengar nggak ayah bicara Ada calon adek kamu katanya ingin nanti main perang - perangan." Ucap Putra sambil merapikan benda - benda yang berserakan.
" Maaf Abang Avan Bund, maaf Abang Avan ya dek." Avan memeluk tubuh Dahlia dengan sesenggukan.
" Loh kok Abang nangis, cowok nggak boleh nangis dong." Ucap Dahlia sambil mengusap air mata Avan.
__ADS_1
" Maaf kan Ayah kalau keras ke Abang, sekarang Abang sudah jadi calon kakak, Ayah ke Abang begini biar Abang menjadi seorang pria yang peduli dan bertanggung jawab. "