Why?

Why?
Prolog


__ADS_3

Di bawah langit jingga yang hangat dan tentram, terpadulah dengannya laut berwarna biru kemerahan. Suara ombak yang tenang, sesekali menerpa dan dibelah bebatuan. Burung-burung camar yang beterbangan dan berkelana bebas di pesisir semakin memperindah pemandangan sore ini.


Tidak jauh dari pantai yang sepi tersebut, berdiri sebuah restoran terbuka yang luas dan ramai akan pengunjung. Setiap meja yang tersedia telah penuh ditempati, termasuk ruang jalan juga terisi beberapa pengunjung yang makan sambil berdiri. Makanan beraneka pilihan terhidang rapi di tepi ruangan menghadap pantai, membebaskan tamu untuk mengambil dan menambah sesuka hati. Bahkan, berdiri pula dua koki di samping bersiap untuk melayani.


Di antara lautan manusia berbusana rapi serta menawan, terlihat satu di antaranya yang sangat mencolok dengan gaun panjang berwarna biru langit. Meski gaunnya bermodel polos dan berornamen minim, senyuman yang cemerlang dan bahagia dari wanita inilah yang menjadikannya pusat perhatian. Dia sang pengantin, pemeran utama hari ini.


“Selamat, ya, Eva. Akhirnya kamu menikah juga.”


Sang mempelai wanita yang bernama Eva itu menyalami tangan sahabatnya. “Terima kasih, Fiona,” ucapnya sambil tersenyum lebar. “Apa kamu sudah makan? Makanannya tersedia di sana, jangan sungkan-sungkan, ya.”


“Oh, tentu saja. Aku bahkan meninggalkan bayiku di rumah sama bapaknya. Kapan lagi aku bisa bebas seperti ini?” Fiona tertawa dengan riang. “Ngomong-ngomong mana suamimu? Aku belum sempat melihatnya dari dekat.”


Mengikuti Fiona, Eva memandang sekeliling mencari pasangannya. “Sepertinya dia ada di sana dengan temannya yang lain,” ucapnya sambil menunjuk ke arah yang berlawanan. Siapa sangka ia bisa kehilangan sosok suaminya? Kebalikan dari dirinya yang mencolok, mempelai pria dengan setelan berwarna biru tua telah menyembunyikan dirinya dengan sempurna di dalam keramaian.


“Aku sering melihatnya menjemputmu pulang kerja dari jauh saja, jadi aku penasaran banget. Apa aku samperin saja?”


Eva menaikkan sebelah alisnya. “Kamu tidak sedang naksir dengan suamiku, kan?”


“Hei, ini anak ngomong apa sih? Ya, aku memang masih menyimpan banyak foto oppa, tapi gak mungkin dong aku naksir suami orang? Dari jauh lihat sepertinya keren sih, ya, tapi tetap saja tidak. Sudah cukup nyimpan satu di rumah, eh, tidak, sudah dua karena anakku sama rewel dengan bapaknya. Eh, ini aku lagi ngomong apa sih? Intinya kamu tenang saja, my dear. Aku sama sekali tidak punya niat apa-apa selain melihatnya.”

__ADS_1


Eva tertawa ringan. “Baiklah, untuk kali ini aku percaya. Tapi kamu tidak boleh curi-curi fotonya untuk simpan di album ‘Ganteng’, ya.”


“Eh? Tidak boleh, ya?” Fiona yang hendak mengeluarkan ponsel dari tas tangan pun mengurungkan niatnya.


Eva tertawa lagi. “Aku hanya bercanda, kok. Ayo, kukenalkan padamu.”


Sambil permisi dengan sopan, Eva menuntun Fiona menyebrangi lautan manusia. Sesuai dugaannya, sang pengantin pria sedang bercengkrama dengan para tamu yang diyakini adalah teman sepekerja, termasuk atasan dan bawahan di antaranya. Eva dan Fiona berjalan mendekati mereka.


“Alex,” panggil Eva dengan pelan.


Sang pemilik nama, yang ternyata adalah si mempelai pria, seketika berbalik. Senyuman langsung tercipta begitu menyadari istrinyalah yang memanggilnya. Ia melingkar pinggang Eva dengan lembut. “Ada apa, Sayang?” ujarnya.


Dengan langkah yang pelan dan hati-hati, pria tersebut memasuki area pesta. Wajah yang datar, gerakan yang kaku. Ia yang tampak kebingungan ini tengah berjalan tanpa arah mengelilingi restoran. Melihat bagaimana dirinya mengamati setiap wajah yang ia lewati, dapat diduga bahwa ia sedang mencari seseorang.


“Akhirnya kamu datang juga.”


Mendengar suara, pria yang linglung seketika menoleh. Begitu menyadari yang memanggilnya adalah satu-satunya orang yang ia kenal di sini, si pria langsung tersenyum dengan lega. Sang pemilik suara, yang ternyata adalah Alex, kemudian berjalan mendekatinya.


“Lama tidak bertemu,” ucap Alex sambil merangkulnya. “Aku kira kamu gak bakalan pulang. Gimana? Kamu tidak tersesat, kan?”

__ADS_1


“Hampir,” jawabnya. Terus terang, boleh katakan bahwa dia memang sudah tersesat sebelum tiba. Itu alasannya kenapa dia bisa telat hadir, tetapi ia tidak ingin mengutarakannya. Lantas ia memeluk dan menepuk bahu sang pengantin. “Selamat, akhirnya menikah juga. Kukira kamu akan melajang selamanya.”


“Hampir,” ulangnya dengan sengaja. Mereka sama-sama tertawa setelahnya.


Si pria celingak-celinguk. “Di mana istrimu?”


“Dia pergi ke toilet barusan, sepertinya sudah mau kembali,” jawab Alex. “Nah, itu, sudah kembali.”


Mengikuti arah tunjuk Alex, si pria menoleh. Tepat di hadapannya terpampang seorang wanita yang cantik jelita sedang dalam perjalanan kemari. Meski berbalutan gaun dan ber-make up sederhana, entah mengapa sosok wanita ini sungguh menyita pandangan. Tanpa sadar, si pria terus memandang istri Alex tanpa berkedip sama sekali.


Sementara yang dipandang sama sekali tidak menyadari. Setelah lama tidak, ini adalah pertama kalinya Eva memakai gaun pesta yang panjang. Ketimbang berjalan dengan lurus memandang ke depan, ia justru sibuk memperhatikan dan mengangkat gaunnya, takut tersandung lalu jatuh. Meskipun Eva tidak begitu peduli jikalau ia akan ditertawai, tapi sebagai istri orang, Eva harus menjaga image sekarang. Ia juga tidak ingin merusakkan gaun yang bagus seperti ini.


“Sayang,” panggil Alex dan Eva langsung menengadah. “Ayo, sini, ada yang ingin kukenalkan padamu.”


Eva tidak menjawab, tidak pula bergerak. Pada detik ia mengangkat kepalanya, di detik berikutnya kedua mata telah membelalak. Tatapannya tidak terhadap Alex, melainkan terhadap pria yang berdiri di samping suaminya. Eva sungguh ingin mengucek kedua mata dengan kuat, tapi tidak bisa—karena make up-nya. Namun serius, Eva tidak bisa mempercayai apa, maksudnya, siapa yang telah ia lihat. Kenapa bisa?


Kenapa Ren, pacarnya yang tidak pernah memberikan kabar sama sekali lalu menghilang begitu saja, bisa muncul di sini, tepat di samping suaminya?


***

__ADS_1


__ADS_2