Why?

Why?
Kuat Adalah Keharusan


__ADS_3

Helena terduduk di tanah, tubuhnya lemas tak berdaya, matanya juga tak bisa menahan laju air matanya yang terus saja menitihkan air mata. Sejak awal mulai di bongkarnya makam Velerie, Helena memang tak kuasa menahan dirinya, menahan tubuhnya yang seperti kehilangan seluruh energi.


Cukup lama dia berada di posisi itu, tapi pada akhirnya dia mencoba untuk bangkit, dia menatap dengan pilu saat tubuh Velerie yang sudah tak bisa di jelaskan lagi di angkat dari sana. Rasanya dia benar-benar seperti ingin. berteriak memaki dirinya sendiri yang begitu bodoh sehingga putrinya bisa menjadi seperti ini.


Padahal Velerie memiliki tubuh yang gendut, kulitnya putih bersih, sekarang benar-benar tak berbentuk, bau busuk juga masih tercium dengan jelas.


Martin menatap Helena yang terlihat sangat sedih, tubuhnya gemetar hebat, tangannya mengepal kuat menahan diri untuk tetap kuat apapun yang sedang ia lihat saat itu. Sebenarnya perasaan bersalah, sedih dan juga tidak nyaman di rasakan benar oleh Martin. Bagiamana pun dia juga memiliki seorang putri, tentu sulit mengatasi perasaan campur aduk apalagi selama ini Helena benar-benar memfokuskan dirinya untuk putrinya seorang.


Martin terdiam sebelum dia mencoba untuk menenangkan perasaannya, dia kembali melihat kepakan tangan Helena yang semakin kuat dan gemetar hebat. Martin memberanikan diri meraih tangan Helena, perlahan membuatnya terbuka karena kuku Helena yang panjang mulai melukai telapak tangannya sendiri.


"Kuatlah, dan percayalah jika pada akhirnya semua kesakitan ini akan berakhir, perlahan hatimu akan membaik."


Helena tak mengatakan apapun, sebenarnya dia sama sekali tidak pernah dekat dengan pria manapun setelah dia bercerai dengan David, tapi kali ini dia benar-benar tidak mampu menepis tangan Martin karena perasaannya yang amanat kacau, dan mungkin ini adalah sisi lemah Helena, dia sebenarnya membutuhkan sosok yang menguatkannya. Jika mengingat sejak awal memang tidak ada satupun orang yang menguatkan Helena, semua seperti merasa bahagia dan lega karena Velerie tidak ada lagi. Ibunya yang tidak perduli dengan Velerie, Ayahnya yang memilih untuk diam tak mengatakan apapun, kakak dan adiknya Helena yang terlihat lega setelah kematian Velerie. Kali ini Martin seperti memintanya untuk kuat, dia seperti memahami bagaimana perasaannya, dia seperti merasakan kesedihan yang di rasakan oleh Helena.

__ADS_1


Martin dengan serat menggenggam tangan Helena, jemari mereka yang saling bertautan kuat membuat telapak tangan Helena tak terluka semakin dalam.


"Kau harus kuat, putrimu pasti menginginkan itu darimu. Dia pasti menyukai wajahmu yang tersenyum seperti saat dia masih ada di dunia ini, jadi jangan terlalu lama bersedih, Tuhan tidak begitu kejam sampai menciptakan kesedihan yang kekal."


Helena masih tidak ingin bicara, iya tentu saja dia tau benar tentang itu. Velerie biasanya akan tersenyum bahagia saat melihat Helena tersenyum padanya, apalagi kalau Helena tertawa, Velerie akan ikut terbahak-bahak meski dia tidak paham apa yang lucu hingga Ibunya bisa tertawa.


Di sisi lain.


David dengan cepat menjalankan kakinya untuk keluar dari ruang kerjanya, menuju pintu utama. Tapi baru saja sampai ke ruang keluarga, Melisa menghentikan langkah kakinya karena dia merasa curiga dengan mimik David yang tidak biasa.


David menghela nafas, menatap Melisa sebentar sebelum dia menatap ke arah lain karena dia merasa malas dengan Melisa hang begitu hebat membuat suasana tidak nyaman dan damai selama mereka bersama.


"Ada yang harus aku kerjakan di luar." Jawab David yang justru semakin membuat Melisa merasa curiga.

__ADS_1


Melisa tersenyum dengan mimik kesal, dia tahu kalau sudah seperti ini pasti ada hal yang sangat penting, Melisa cukup mengenali David dengan baik, kalau hanya masalah pekerjaan tentu saja David tidak akan terlihat panik dan tergesa-gesa seperti ini. Kalau bukan Velerie, pasti Helena bukan? Karena Velerie sidah tidak ada, maka artinya sikap David yang tidak biasa ini adalah karena Helena.


"David, jangan berani-beraninya membuat kesalahan yang tidak akan bisa di maafkan oleh orang tuaku. Ingatlah baik-baik, David. Apa yang orang tuaku berikan kepada mu, kepada keluargamu adalah bayaran untuk kau memperlakukan ku, memperlakukan anak kita dengan baik. Kau seharusnya sadar benar bahwa apa yang akan kau lakukan adalah hal yang akan membuatmu, membuat keluargamu merugi bukan?"


David menatap Melisa dengan tatapan tak percaya, lagi? Seharusnya dia hidup di bawah kaki istrinya dan diam saja apapun yang terjadi seperti manusia tidak memiliki pikiran? Padahal sudah sejauh ini mereka berumah tangga, sebesar apapun cinta yang dia miliki terhadap Helena, tetap saja David juga cukup sadar bahwa Helena tidak kan pernah menerimanya kembali apapun yang terjadi. Helena bukanlah wanita yang akan menerima saat dia di khianati, dia tidak akan memperdulikannya apapun yang terjadi seandainya saja dia bukan Ayahnya Velerie, Helena pasti sudah tidak akan mengingat lagi siapa David di dalam hidupnya.


"Sebenarnya apa aku bagimu, Melisa? di menderita atau bahagia menikah denganmu aku sudah menjalaninya dan berusaha menjadi suami yang baik, Ayah yang baik karena aku sadar benar itu bukan tuntutan tapi kewajiban yang harus aku lakukan. Kau selalu menekan ku, menginjak harga diriku dengan mengungkit apa yang sudah orang tuamu berikan pada ku, dan keluargaku. Kau memaki putri pertama ku sesuka hatimu dan aku hanya bisa diam, menangis di dalam hati karena aku tidak berdaya. Kau istriku, aku sudah memberikan mu nasehat, meminta pengertian darimu, tapi kau tidak memperdulikan itu, kau tidak bisa menahan makian mu terhadap Erie ku. Kau ingin aku bagaimana sebenarnya? Kenapa tidak kau minta saja orang tuamu untuk membunuhku? Aku lelah, Melisa."


Melisa tak mengatakan apapun. Sejak dulu dia hanya bisa mencintai David dalam diam dan merasakan sakit dalam hati melihat bagaimana David dan Helena yang terlihat begitu bahagia dan saling mencintai. Dia begitu tidak rela membiarkan David memiliki urusan atau hubungan dengan Helena, dan itu adalah sebab kenapa dia begitu tak menyukai Velerie. Velerie adalah anak dari David dan juga Helena, mengingat fakta itu Melisa benar-benar tidak bisa menerimanya. Dia akan terus mengingat bahwa masih ada bekas Helena di tubuh David, membayangkan bagaimana mereka pernah saling memeluk, saling berciuman, melakukan hubungan suami istri, Melisa benar-benar kesal sekali.


"Kalau begitu, batalkan saja niatmu yang ingin pergi."


David menatap Melisa dengan kesal.

__ADS_1


"Aku harus ke makam Velerie, tidak ada niat lain!"


Bersambung.


__ADS_2