Why?

Why?
Kabar Buruk


__ADS_3

Di sisi lain.


"Jadi Ibu pergi lagi? Apa dia pergi untuk mengurus masalah Helena?" Tanya kakaknya Helena yang bernama Freya kepada adik bungsunya yang bernama Kath.


Kath menghela nafas, lalu mengangguk.


"Menang kemana lagi? Sejak kejadian Erie dia benar-benar sibuk tidak jelas, bahkan sering tida membuat sarapan juga makan malam harus sering makan mie dan telur saja." Ujar Kath mengingat bagaimana sebalnya dia harus melewati hari di mana yang dia makan adalah makanan yang jelas tidak sehat.


"Anak cacat itu sudah mati aku pikir keluarga kita akan tenang, ternyata tidak juga? Dulu Helena selalu saja bersikap dingin karena kita menolak untuk menjaga Erie, sekarang masih saja meninggalkan masalah?" Ujar Freya.


Kath menjauhkan makanan kaleng yang sejak tadi dia makan.


"Kalau saja Erie itu bisa mengontrol air liurnya, bisa membersihkan kotorannya sendiri, bisa makan dan ganti baju sendiri, aku mungkin masih mau menjaga dia. Tapi kakak tahu kenapa kita menolak kan? Menjada dua anak kak Freya sama kami sudah kesalahan, di tambah Erie bisa mati berdiri kami di rumah. Ditambah lagi Erie itu bisa tiba-tiba sesak nafas, mana mungkin sanggup menjaga dia?" Ujar Kath sembari memperlihatkan bagiamana ekspresi sebalnya.


"Sejak awal Helena memang menyebalkan, dia selalu saja memperlihatkan wajahnya yang dingin, tidak bicara dan sulit untuk di ajak bercanda. Mengingat bagiamana sifatnya selama ini, tentu saja aku malas kalau dia meminta tolong untuk menjaga anaknya buat cuma sebentar."


Kath memaksakan senyumnya, bukannya dia memiliki perasaan yang sama seperti Freya, dia tidak membenci Helena, tapi juga tidak menyukai Helena karena dia adalah satu-satunya kakak yang sama sekali tidak pernah dekat dengannya. Helena hanya akan menghela nafas saat di mintai pendapat, lalu melirik saja tanpa bicara, atau bahkan hanya mengangkat bahu dengan wajahnya yang terlihat tidak perduli. Seiring berjalannya watu Kath merasa biasa dan enggan mengambil pusing bagiamana Helena bersikap, tapi untuk kedua kakaknya yang lain yaitu, Freya dan Mark justru semakin jelas memperlihatkan betapa dia membenci Helena, dan seperti sikap Helena biasanya, dia hanya akan mengacuhkan kedua orang itu tanpa mengatakan sepatah katapun, bahkan menatap mereka sedetik saja hampir tidak pernah Helena lakukan.


"Kak, sebenarnya aku agak aneh dengan sikap Kak Helena selama ini, dia benar-benar dingin selain seperti gunung es. Dia igi apakah memang sifatnya seperti itu, apa dia merasakan tekanan batin menjadi anak dari orang tua kita?" Tanya Kath yang memang terlihat bingung mengingat Helena.


Freya membuang nafasnya, sebenarnya malas sekali membicarakan Helena, tapi adiknya juga tidak akan berhenti bertanya jika tidak mendapatkan jawaban dari apa yang dia tanyakan.


"Aku tidak tahu sejak kapan dia menjadi sedingin itu, tapi sejak sekolah menengah pertama dia memang sudah seperti itu. Dia jarang tersenyum, jarang bicara, bahkan jarang berinteraksi dengan siapapun. Makanya itu dia bisa memiliki teman seperti Farah dan Melisa aku agak kaget. Tapi begitu mengetahui kalau Farah dan Melisa mengkhianatinya, aku langsung membatin kalau tentu saja mereka adalah orang-orang dengan hati busuk dan memiliki niat lain dalam berteman. Helena memang perlu di sakiti orang lain supaya dia bisa berpikir dengan benar, kalau aku jadi temanya aku juga tidak akan Sudi berteman jika tidak ada maksud."

__ADS_1


Kath berdecih menatap Freya yang terlihat begitu bersemangat menceritakan bagaimana Helena seolah dia mensyukuri apa yang terjadi kepada Helena.


"Tapi tetap saja mereka yang menyakiti kak Helena salah, bagaimanapun kak Helena memang sangat cantik di banding kedua orang itu, kita yang saudarinya juga tidak ada apa-apanya kalau masalah kecantikan. Yah, memang wajar kala orang cantik bersikap dingin kan? Nanti kalau terlalu ramah bisa di bilang tebar pesona kan?"


Freya menaikkan sisi bibirnya, menatap Freya dengan tatapan sinis.


"Kau tidak tahu apapun, kala kau tahu yang sebenarnya, kau pasti akan menyesal telah memujinya seperti itu." Ujar Freya.


Di sisi lain.


Martin terdiam menahan kesal setelah semua bukti yang dia cari untuk menjebloskan tuan Feto tak juga di temukan. Transaksi keuangan untuk suap ternyata menggunakan akun bak milik orang lain yang bahkan sudah meninggal sekitar dua tahun lalu. Rekaman kamera pengawas di jalan entah menghilang kemana, bahkan dokumen penting yang dia dapatkan juga tidak ada yang menunjukkan satu pun adanya keterlibatan tuan Feto.


"Sial!"


Sial, benar-benar sungguh sial! Melisa bahkan Melisa bertahan tidak ingin membuka mulut, begitu juga dengan pengacara Jhon.


Martin meraih ponselnya, lalu menghubungi seseorang untuk menyelidiki lagi lebih dalam semua tentang pengacara Jhon. Sungguh sangat membingungkan, juga mencurigakan kalau pria yang memiliki banyak uang tidak memiliki wanita sama sekali, bahkan kedua orang tuanya yang sudah meninggal juga tak di ketahui di mana makamnya. Pengacara Jhon benar-benar ahli dalam me sembunyikan jati diri, dia seperti tidak membuatkan musuh memiliki kelemahannya.


"Tunggu! Pengacara Jhon tidak ingin bicara bisa jadi kalau sebenarnya dia sudah mendapatkan ancaman serius bukan? Dia pasti memiliki kelemahan hanya saja aku yang belum tahu." Gumam Martin laku segera bangkit dari duduknya. Dia benar-benar mengabaikan hal itu, dia terlalu terbiasa minat pengacara Jhon yang tidak pernah terlibat hubungan asmara dengan wanita, kecuali mode ons saja.


Kali ini dia akan mengusahakan segalanya, yang terbaik yang bisa dia lakukan, dan dia tidak akan menyerah begitu saja walaupun memang menghadapi Tuan Feto adalah sama sulitnya dengan melawan angin badai di tengah lautan.


Di tempat lain.

__ADS_1


"Sayang, semuanya sudah selesai bukan?" Tanya Ibunya Melisa begitu membuka pintu dan mendapati suaminya alias Tian Feto tengah duduk dengan santai di ruang kerjanya.


"Tentu saja, setelah ini dia tentu saja akan kesulitan seorang diri."


Ibunya Melisa benar-benar terlihat begitu senang dan bahagia.


"Jadi, bagiamana kalau segera kita akhiri saja semua ini?"


Tuan Feto menghela nafas, menatap istrinya dengan tatapan datar. Sebenarnya dia masih malas membicarakan soal Helena dan Martin, tapi kalau tidak di bahasa istrinya pasti akan mengoceh tidak jelas dan dia pula lah yang akan sakit kepala.


"Apa yang ingin kau aku lakukan kepada dua orang itu?"


"Tentu saja me-"


Suara dering ponsel menghentikan ucapan Ibunya Melisa karena Tian Feto segera menerima panggilan suara yang masuk ke ponselnya.


"Ada apa?" Mata Tuan Feto membulat terkejut, segara doa menjatuhkan begitu saja ponselnya dan bergegas untuk pergi.


"Ada apa?" Tanya Ibunya Melisa.


"Denise, dia kritis sekarang!"


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2