
Kedua pria itu benar-benar tak bisa menahan tawanya mendengar apa yang di katakan Helena. Bagiamana pun mereka juga merasa kesal, tapi melihat Helena yang begitu berani mereka jutsru menganggap kalau Helena benar-benar menarik sekali.
"Baiklah, karena kau begitu penasaran, biarkan aku tunjukkan pada mu." Salah satu pria itu mulai mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir Helena, tapi begitu jarak bibir mereka sudah dekat, Helena langsung meludah membuat pria itu sontak menjauh dan menyeka bibirnya dengan ekspresi kesal.
Helena terkekeh melihat ekspresi kesal pria itu.
"Kau mau apa? Kalau kau ingin berhubungan badan, bukankah seharusnya kau mencari anjing betina dulu? Manusia sepertiku benar-benar tidak Sudi dengan anjing seperti kalian berdua."
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi Helena. Kapok? Tidak! Helena sengaja memancing emosi kedua orang itu agar dapat kehilangan kendali dan memukulinya hingga mati. Sejak tadi Helena mencoba untuk mendengar suara dari luar, tapi benar-benar sunyi dan sepertinya dia berada di tempat yang jauh, atau bahkan bisa saja dia ada di dalam hutan. Jadi jika Martin menyadari bahwa Helena menghilang, jelas akan membutuhkan banyak waktu, dan kedua pria itu pasti sudah akan melakukan apa yang dia katakan tadi. Di banding mati setelah di nodai, alangkah baiknya mati mengenaskan setelah di pukuli.
"Lebih baik kau jaga mulut mu, atau kalau tidak kau akan lihat bagaimana aku akan begitu kasar dalam menerkam mu nanti!"
Helena terkekeh dengan tatapan menghina, dia juga dengan jelas menunjukkan wajah jijiknya seolah memaki habis pria yang mengatakan kalimat ancaman barusan. Jika memang pada akhirnya Helena harus berakhir seperti ini, maka mati adalah pilihan yang sangat baik bukan?
"Dasar wanita menyebalkan!" Satu lagi tamparan kuat mendarat di pipi Helena. Sungguh itu sama sekali tak membuat Helena merasa takut, dia masih akan terus maju tidak perduli sebanyak apa luka yang dia dapatkan.
__ADS_1
Helena tertawa cukup kuat, bahkan sampai ekor matanya basah karena tawa yang begitu kuat. Jika memang mau mati, maka matilah aja tidak perlu mengulur waktu lebih lama lagi, dan baik-baik menemui Velerie, seperti itulah yang di batin Helena saat ini.
"Kalian pikir kalian bisa menakuti ku? Apa kalian juga pikir aku akan membiarkan kalian menyentuh tubuh ku? Bermimpi sepuas kalian, selama nyawaku masih ada, kalian tidak akan bisa melakukan apa yang kalian katakan tadi."
Kedua pria itu kembali tertawa, tapi tatapan matanya begitu sinis seolah benar-benar ingin menunjukkan kepada Helena bahwa mereka mampu melakukan apa yang mereka katakan tadi.
"Nona cantik, kau meremehkan kami begitu keterlaluan, bagiamana jika sekarang aku membuktikan apa yang aku katakan kepada mu?"
Helena mengepalkan tangannya, sialan! Dia benar-benar butuh orang melepaskan ikatan pada pergelangan tangannya yang begitu kuat. Helena seperti tak memiliki kekuatan lagi untuk bicara dengan kalimat mengancam. Mereka berdua sudah mulai mendekati Helena dengan tatapan yang begitu menjijikan, tai untunglah suara telepon membuat mereka menghentikan niat mereka, dan sepertinya orang yang menghubungi mereka sangat penting sekali. Helena benar-benar bernafas lega, setidaknya dia bisa sebentar tenang dan memikirkan kembali apa yang harus di lakukan setelah ini.
"Sial! Kita harus segera menuju ke tempat yang sudah di siapkan."
Di sisi lain.
"Apanya dua puluh empat jam?! Helena sudah menghilang sekitar lebih dari tujuh jam! Kita sama-sama tahu bagaimana situasi sekarang ini kan?! dia bisa tidak selama kalau tidak bergerak!" Kesal Martin yang beberapa saat tai memukul meja. Dia sudah berusaha untuk mencari Helena, setelah berkali-kali menghubungi Helena dan tidak mendapatkan jawaban. Semalam dia benar-benar khawatir, dan untunglah mereka terhubung dengan GPS sehingga Martin bisa mencari keberadaan Helena. Tapi, yang di temukan Martin jutsru tas Helena di halaman rumah kedua orang tuanya lengkap dengan semua isinya. Tentu saja tas itu sudah cukup menjelaskan bahwa Helena menghilang, dan dugaan Martin adalah keluarga Tuan Feto.
"Bergeraklah sekarang, aku butuh bantuan polisi karena aku tidak mungkin bisa dengan muda menemukannya! Aku sudah mencari Helena di manapun, tai dia benar-benar tidak ada! Kalian bisa bayangkan apa konsekuensinya jika harus menunggu dua puluh empat jam bukan?!"
__ADS_1
Polisi itu menghela nafas, dia juga ingin membantu tapi prosedur memang seperti itu.
"Kalian masih tidak ingin membantu?!"
"Sungguh, kami tidak bisa melakukan itu sebelum dia puluh empat jam, Tuan Martin." Ucap Polisi itu dengan tatapan pasrah karena dia benar-benar tidak bisa membantu sekarang.
Martin benar-benar kesal, sungguh! Mungkinkah dia harus membuat petisi dan mengajak semua masyarakat untuk menghilangkan peraturan itu? Menunggu dua puluh empat jam dulu? Sejak dia tahu Helena menghilang saja dia sama sekali tak bisa tenang, bahkan dia juga terus menerka masihkah Helena hidup, ataukah Helena sudah tiada? Setiap kali memikirkannya jantung serta kepalanya seperti ingin pecah jadi bagaimana bisa dia menahan semua itu hingga dia puluh empat jam? Sekarang bisa saja Helena masih hidup, tapi tujuh belas jam lagi benar-benar dia tidak yakin apakah Helena masih hidup atau tidak.
Martin menjalankan mobilnya, dia mencoba kembali mendatangi rumah kedua orang tua Helena meski dia tidak yakin benar kalau Helena ada di sana. Begitu Martin datang, kedua kaka Helena sudah berdiri seolah ingin tahu siapa yang datang pagi itu.
"Selamat pagi menjelang siang? Saya ingin tanya apakah Helena ada di dalam?" Sebenarnya semalam Martin ingin masuk ke dalam dan bertanya, tapi Martin begitu yakin kalau Helena tidak mungkin berada di sana dan memilih segera mencari Helena ke apartemen dan ke tempat Airi lebih dulu, setelah itu Martin terus mengemudikan kendaraannya sembari meminta sahabatnya untuk membantu mencari tahu keberadaan Helena. Sayang sekali tidak ada kamera pengawas di jalanan, di rumah kedua orang tua Helena juga tidak ada.
"Helena? Tentu saja dia sibuk dengan dunianya sendiri, dia bahkan tidak datang saya Ibunya sakit padahal kami sudah memberitahu berkali-kali." Jawab Freya dengan mimik sinis, karena membicarakan Helena memang cukup membuatnya kesal.
Martin mengeraskan rahangnya, sungguh dia kesal sekali, tapi dia benar-benar harus menahan itu bukan?
"Akan ku beritahu kepada kalian, Helena datang semalam, hanya saja dia tidak sempat masuk karena dia di culik di depan rumah kalian. Semalam aku menemukan tasnya di halaman rumah kalian."
__ADS_1
"Tidak! Helena, dia di culik?" Tanya Ibunya Helena yang baru saja datang dan tidak sengaja mendengar apa yang di katakan Martin.
Bersambung.