Why?

Why?
Selain Yuri


__ADS_3

Melihat Yuri datang, juga penampilannya yang begitu menjelaskan apa saja yang baru saja dia lakukan, wanita itu menatap Yuri dengan tatapan tajam.


"Kau, kenapa kau ada di sini lagi?! Kau pasti merayu Win kan? Kau pasti memohon, bersujud supaya kau bisa kembali ke sini kan?!"


Yuri tersenyum dengan mimik pilu, sebegitu rendah ya seorang Yuri di mata asisten Win yang juga adalah selingkuhannya? Walaupun memang benar tidak ada lagi harga diri yang bisa Yuri lindungi, tapi dia benar-benar tidak tahan mendengarnya. Yuri menatap wanita itu dengan tatapan matanya yang menunjukkan benar kalau dia merasa tidak suka dengan apa yang wanita itu katakan.


"Percayalah, aku pernah begitu sok hebat seperti mu, tapi pada akhirnya aku bukanlah siapapun yang memiliki arti untuk Win. Kau begitu gelisah dan emosional saat melihat ku, tentu saja aku sudah bisa menebak bahwa selama aku pergi pun kau masih belum memilki arti bagi Win bukan? Win hanya sedang bermain-main saja dengan mu, seharusnya kau cukup menikmatinya saja, jangan coba untuk mengontrol permainan, kau sungguh hanya akan berakhir dengan mengasihani diri sendiri."


Wanita itu terlihat semakin kesal, dia berjalan mendekat dengan emosinya. Dia sudah bersiap dengan mengangkat tangannya, berniat menampar wajah Yuri karena terdorong oleh emosi. Memang benar selama Yuri pergi dia sama sekali tak di anggap oleh Win. Setiap kali dia datang Win benar-benar mengacuhkan dirinya, bahkan juga mengabaikan saat dia sedang menyapa atau bertanya, dan berbicara. Dia tidak ingin kehilangan Win, di tidak ingin Win dekat dengan wanita lain, dia tidak ingin berbagi dengan siapapun.


Yuri menahan tangan wanita itu, membuangnya dengan kuat sehingga wanita itu merasa sakit tapi dia juga masih tidak berhenti terlihat kesal kepada Yuri.


"Tolong jangan berlebihan, jangan menganggap Win milik mu, sejak asal Win bukan milik siapapun. Kau ingin menggenggam angin? Ini hanya sekedar saran saja dari ku, lebih baik ambil langkah mundur, jangan pernah mencoba maju karena semakin kau melangkah maju kau hanya akan terluka. Sungguh, aku mengatakan ini karena aku tahu benar bagaimana Win, bagaimana dia menilai wanita yang tidak ada bedanya dengan pakaiannya saja."


Wanita itu masih terlihat menolak apa yang di katakan Yuri, dia tentu saja tidak akan percaya karena baginya Win bukankah kita semacam itu. Memang benar kadang Win akan tersenyum, kadang juga terlihat dingin seperti tak memilki rasa apapun, seperti tak memiliki sesuatu yang membuat dia terlihat bahagia. Wanita itu pikir selama dia berada di sisi Win, tidak perduli seberapa sakit dan sulit pasti akan ada jalannya, pasti akan berubah seperti yang wanita itu inginkan.


"Kau ingin menyingkirkan ku dengan menakuti ku? Kau benar-benar wanita sialan!"


Yuri membuang nafasnya, dia tersenyum kelu karena melihat bagaimana kukuhnya pendirian wanita itu membuat Yuri teringat dirinya dulu. Saat itu Martin mengatakan semua hal buruk kepadanya tentang Win, tentu saja dia lebih memilih untuk mempercayai Win dan menganggap kalau Martin sengaja mengatakan itu hanya untuk membuat Yuri merasa takut dan membatalkan niatnya untuk pergi kepada Win. Saat itu Yuri benar-benar begitu buta sehingga siapapun yang mencoba untuk memberitahunya justru dia tanggapi dengan sinis dan dingin.


"Baiklah, berpikir saja sesuka mu. Aku sudah mengatakan apa yang ingin aku katakan padamu. Percayalah bahwa kebahagiaan diri kadang tidak selalu dengan mendapatkan apa yang kita inginkan. Win terlihat indah, tapi belum tentu cocok untuk mu, dan belum tentu dia baik untuk mu."

__ADS_1


"Diam!"


Wanita itu menatap Yuri dengan tatapan Tama. Yah, tentu saja Yuri akan diam dan tidak mengatakan apapun, terserah wanita itu saja. Semoga saja wanita itu tidak mengalami apa yang di rasakan Yuri.


"Apa kalian sudah selesai berdebat?"


Wanita itu dan Yuri menatap ke arah lantai atas dan orang yang berbicara adalah Win. Entah sejak kapan Win berada di sana, dan sudah berapa banyak yang dia dengar mereka benar-benar tidak tahu.


Yuri segera berjalan untuk keluar, dia pikir dia tidak akan bisa kaur jika Win menangkapnya lagi kan? Sementara Wanita itu masih berdiri menatap Win dengan tatapan sedih karena mengingat kembali apa yang di lakukan Win dan juga Yuri.


Melihat Yuri berniat kabur, Win hanya tersenyum saja, dengan santai dia berjalan menuruni anak tangga dan berhenti tepat di hadapan wanita yang adalah selingkuhannya. Tidak perlu mengkhawatirkan soal Yuri, kalau bukan karena izin dari Win secara langsung, mana mungkin Yuri bisa keluar dari rumahnya?


"Apa kau sudah selesai?" Tanya Win kepada wanita selingkuhannya, matanya yang terlihat dingin dan tegas itu membuat wanita selingkuhannya merasa gugup dan tertekan.


"Bayaran yang seharusnya sudah di bayar lunas kan? untuk apa lagi kau datang kesini?"


Wanita itu terdiam sebentar.


"Bayaran?" Tanya wanita itu, dia terlihat bingung.


"Satu bulan enam puluh lima juta, dia luar gaji mu sebagai asisten kan? Kau pikir uang itu untuk apa? Barang yang kau beli dengan uang ku juga tidak aku hitung, ambil saja untukmu."

__ADS_1


Wanita itu tercekat, dia menatap Win dengan tatapan kecewa dan jelas dia terlihat sangat sedih.


"Maksudnya, kau menyamakan aku seperti-"


"Benar, itu bayaran untuk jasa mu di atas ranjang."


Win tak menunjukkan ekspresi apapun, dia tidak terlihat menyesal sama sekali, bukankah itu keterlaluan?


"Kenapa?" Tanya wanita itu.


"Karena sejak awal, kau sendiri yang datang dan naik ke atas ranjang untuk ku. Tentu saja aku perlu mengucapkan terimakasih sehingga aku memberikan bulanan tetap di luar gaji kerja mu dan barang yang kau beli dengan uang ku. Seperti yang kau pikirkan, di mata ku kau tidak ada bedanya dengan pela***"


Wanita itu menitihkan air matanya tanpa suara, kenapa? Padahal dia sudah jatuh cinta begitu dalam kepada Win, kenapa pada akhirnya dia juga tidak memiliki arti bagi Win?


"Pergilah, jangan membuat ku melihat mu lagi. Mulai besok juga kau akan di pindahkan ke kantor cabang jadi bersiaplah."


Setelah mengatakan itu, Win pergi meninggalkan wanita itu. Menuju di mana Yuri berada yaitu, di gerbang yang terkunci rapat.


"Berhentilah untuk berlari, sungguh kau tidak akan bisa lari."


Win merah tubuh Yuri, memaksanya dan memanggulnya tak perduli bagaimana Yuri memukul punggungnya dan berteriak meminta untuk di lepaskan.

__ADS_1


Melihat bagaimana cara Yuri memberontak dan Win yang membawa Yuri masuk, sekarang dia sadar benar kalau tidak ada wanita yang bisa menggantikan Yuri meski sebelumnya Win terus menyakiti Yuri.


Bersambung.


__ADS_2