
Yuri mengepalkan tangannya, ternyata semua orang benar-benar menganggap Helena berjuta kali lipat lebih baik dari nya ya? Win, dan juga Martin, mereka berdua benar-benar memiliki penilaian yang sama, jadi sekarang Yuri juga sudah tahu seberapa nilai seorang Yuri di mata Martin.
"Kau, benar-benar sudah berubah, Martin."
"Bukan, aku bukan berubah tapi memang seperti ini lah diriku yang sesungguhnya. Dulu aku memilih untuk selalu diam dan membiarkan mu dengan segala pemikiran mu. Dulu kau menyudutkan ku terus menerus, tapi karena perasaan cinta yang aku miliki ini amat besar padamu, aku menutup mata dan menerima saja meski rasanya sakit. Bersama Helena aku benar-benar belajar banyak, terutama untuk lebih menghargai diri sendiri."
Martin sudah tidak ingin bicara lagi, dia berjalan masuk ke dalam kamarnya, lalu mengambil dompetnya dan kembali ke ruang tamu. Martin mengeluarkan sekitar sepuluh lembar uang dan dia berikan kepada Yuri.
"Aku tidak banyak uang cash, tapi kalau untuk satu malam tentu saja itu cukup kan?"
Yuri berjalan meninggalkan apartemen sembari menangis tanpa suara, dia menggenggam erat uang yang di berikan Martin padanya. Tidak pernah terpikirkan bahwa pada akhirnya dia akan datang kembali kepada Martin, bahkan sampai mengemis uang seperti sekarang ini.
Sekarang dia tidak mungkin kembali kepada Win setelah susah payah lari darinya, tapi juga tidak mungkin akan mendapatkan tempat di sisi Martin lagi. Yuri sudah tidak memiliki Ayah maupun Ibu, saudara yang hanya satu itu juga tidak menginginkan dirinya karena sikap sombong Yuri yang telah melukai hatinya. Sudah tidak ada tepat lagi untuknya, dia tidak bisa pergi kemanapun, sudah tidak memiliki tujuan sama sekali.
Besok paginya.
Martin tersenyum begitu lebar saat Helena datang pagi pagi sekali. Yah, tentu saja itu karena permintaan alias paksaan dari Martin.
"Akhir pekan begini seharusnya aku yang pengangguran ini akan lebih baik kalau menghabiskan waktu di tempat tidur kan?" Kesal Helena.
Martin memeluk Helena dari belakang karena saat Martin membukakan pintu, Helena langsung menerobos masuk dan posisi Martin berada di belakang Helena.
"Apa-apaan?! Kau mau Sofia melihat kita seperti ini?" Protes Helena seraya mencoba untuk melepaskan tangan Martin yang memeluknya erat.
__ADS_1
Martin justru tak mendengarkan apa yang di katakan Helena, dia kini sibuk mencium tengkuk dan juga punggung Helena. Sudah dua hari dia tidak bertemu langsung dengan Helena karena kesibukannya, di tambah Helena juga sedang sibuk mengurus masalah harta warisan yang masih belum kelar hingga detik ini.
"Martin!" Bentak Helena dengan nada suara kecil karena dia tidak ingin Sofia melihat bagiamana Ayahnya memeluk Helena seperti sekarang.
"Sayang, Sofia masih tidur. Jadi sebelum dia bangun bagaimana kalau kita-"
"Tutup mulut mu, Martin! Jangan membuat ulah, aku akan melibat Sofia dulu. Cepat lepaskan!" Helena memukul pelan tangan Martin, dan Martin benar-benar paling tidak menolak ucapan Helena. Yah, tidak masalah dia gagal pagi ini, toh masih ada waktu nanti kan?
Helena tersenyum melihat Sofia yang masih tertidur pulas padahal ini sudah setengah delapan pagi. Perlahan Helena mendekati Sofia, memperhatikan wajahnya, lalu mengusap perlahan dengan lembut kepala Sofia. Yah, dia merindukan anak kecil itu.
Tidak ingin mengganggu Sofia lagi, Helena segera bangkit dan keluar dari kamar Sofia.
"Kau sudah menyiapkan sarapan untuk Sofia?" Tanya Helena seraya berjalan mendekati Martin yang tengah duduk di sofa sembari memainkan ponselnya.
"Aku sudah sarapan."
"Aku pesan-"
Ucapan Martin terhenti saat pintu apartemennya ada yang mengetuk. Helena bangkit dari duduknya, tentu saja biarkan dia yang akan membukakan pintu.
"Kau?" Helena mengeryit melihat Yuri yang kini berdiri di depan pintu tanpa bicara. Tentu saja Helena tidak bisa menahan Yuri, dia juga bisa melihat sendiri bagaimana Yuri terlihat sedang tidak baik-baik saja.
"Masuklah." Ucap Helena.
__ADS_1
Yuri masuk ke dalam, dia tidak mengatakan apapun tapi dia langsung duduk menunggu Helena atau Martin datang untuk bicara dengannya.
Helena yang tentu saja sudah paham segera meminta Martin untuk datang. Awalnya memang Martin terlihat malas, tapi karena tidak mungkin membiarkan Yuri berada di sana sendiri, Martin bangkit untuk menemui Yuri, tapi dia juga tidak membiarkan Helena meninggalkan mereka berdua di ruang tamu dengan menggenggam tangan Helena erat menuju ruang tamu.
"Kau datang untuk ke rumah sakit? Kau sudah siap untuk visum?" Tanya Martin yang jelas terkesan tidak sabaran sehingga Yuri hanya bisa menggapainya dengan senyum pahit.
Helena dan Martin kini sudah duduk berseberangan meja dengan Yuri untuk bicara.
"Tidak, aku tidak akan melakukan pemeriksaan visum. Aku datang kemari untuk berpamitan kepada kalian berdua, juga berpamitan dengan Sofia."
Martin dan Helena sontak terdiam karena mereka benar-benar terkejut sekali dengan apa yang di katakan Yuri.
"Aku memang tidak memiliki tujuan yang tetap, tapi aku sudah memutuskan untuk pergi dari sini. Aku akan menemui kenalan ku yang menjadi pengurus panti di sebuah daerah yang jauh dari kota. Aku tidak tahu apakah aku akan betah berada di sana atau tidak, tapi sepertinya itu akan lebih baik untuk ku." Yuri menyeka air matanya yang jatuh begitu saja.
"Aku tidak tahu harus dari mana memulai untuk meminta maaf terutama pada mu, Martin dan Sofia. Aku minta maaf karena aku begitu egois, aku begitu arogan dan begitu buta untuk mengejar sesuatu yang semu. Aku mengorbankan kalian berdua, meninggalkan kalian berdua, aku menyesal sekali, tapi penyesalan ini juga tidak akan cukup berarti." Yuri menatap Martin dan Helena dengan tatapan memohon.
"Helena, Sofia memang bukan anak kandung mu, tapi aku melihat sendiri bagaimana Sofia menganggap mu sebagai Ibu kandungnya. Dia tidak membutuhkan ku, jadi aku benar-benar meminta tolong untuk ikut menjaganya dengan baik bersama Martin. Aku titipkan Putri ku pada mu, tolong jangan lakukan apa yang pernah aku lakukan, tolong jangan memberikan luka lagi untuk putriku dan Martin. Aku berharap kalian bahagia, aku berharap kalian akan tetap teguh dan saling menguatkan sehingga sebesar apapun ujian dalam hubungan kalian tidak akan mengubah apapun."
Helena tak mampu berkata-kata. Dari cara Yuri berbicara dan menangis, dia benar-benar terlihat sangat tulus sehingga Helena seperti bisa merasakan betapa sakitnya menjadi Yuri saat ini.
"Kau yakin dengan pilihan mu ini?" Tanya Martin.
Yuri mengangguk, yakin tidak yakin intinya dia tidak boleh berada di sekitar Martin dan juga Win. Dia tidak ingin buta karena Win lagi, dan dia juga tidak ingin memiliki niat jahat jika terus melihat Martin dan Sofia.
__ADS_1
Bersambung.