
"Setelah apa yang kau lakukan, kau masih berani datang kemari?" Tanya Ayah mereka, menatap Martin dengan tatapan seolah dia begitu membenci Martin yang telah begitu banyak menciptakan masalah untuk hidupnya, juga untuk hidup Martin.
Win tersenyum, dia melangkah masuk ke dalam meski Ajudan Ayahnya mencoba untuk menghentikannya. Win tentu saja adalah orang yang tidak bisa di cegah, dia akan melakukan segala cara agar dapat mencapai tujuannya, jadi mengapa dia bisa sampai ke sana. Win mengambil kursi yang berada di kamar Ayahnya, lalu duduk dengan mengangkat satu kakinya, meletakkan di atas satu lagi kakinya. Menatap Ayahnya dengan tatapan yang mencemooh membuat Martin benar-benar tidak habis pikir dengan Win. Dia terlihat seperti tidak ada rasa puas sama sekali padahal sudah jelas Martin mengalah dan tidak membawa sepeserpun harta keluarga.
"Untuk apa kau datang, dan kenapa kau duduk si sana?" Tanya Ayah mereka meski suaranya terdengar begitu lemah, namun Win masih bisa merasakan kebencian dari cara bicara Ayahnya itu.
Win menatap Ayahnya, dia memiringkan kepala tapi dia tak mengatakan apapun. Dia hanya duduk memegang sebuah amplop yang entah apa isinya, Ayahnya juga tidak merasa begitu ingin tahu apa isi di dalamnya.
"Karena kau sudah ada di sini, maka akan lebih baik jadi aku tidak perlu memberitahu lagi pada mu soal apa yang akan aku katakan kepada Martin."
Win hanya menghela nafas, dia tidak mengatakan apapun, dia juga tidak melihat bagaimana ekspresi Martin karena dia sama sekali tidak tertarik.
"Aku akan memberikan perusahaan dan semua aset yang aku miliki untuk Martin."
Pft......!
Win menutup bibirnya menggunakan kepakan tangannya, menahan tawa yang begitu sulit untuk dia tahan. Sungguh, kalimat yang keluar dari mulut Ayahnya itu terdengar begitu menggelikan sekali rasanya.
"Apa kau pikir ini lucu?" Martin menatap Win dengan tatapan kesal. Bukan kesal karena mengetahui jika Win pasti akan mempermasalahkan soal harta yang di sebutkan Ayahnya, Martin hanya kesal karena Win sama sekali tak menunjukkan sikap yang harus dia tunjukan seorang anak kepada Ayahnya.
__ADS_1
"Lucu? Memangnya aku sebodoh itu sampai tidak bisa menggunakan tawa di waktu yang tepat?"
Win kini menatap Ayahnya dengan tatapan menghina dan seolah meremehkan ucapan Ayahnya barusan.
"Menyerahkan semua harta yang di miliki kepada Martin? Menggelikan sekali, tapi aku tidak akan keberatan. Tapi, jangan lupa untuk membayar semua modal yang di pinjam perusahaan kepada keluarga Ibu."Win bangkit dari duduknya, menyerahkan amplop coklat itu kepada ajudan Ayahnya Martin dan memintanya untuk melihat dengan benar.
"Jangan pura-pura bodoh, Ayah tercinta. Kau pikir perusahaan yang sudah krisis parah dan hampir bangkrut itu bisa membaik dengan sendirinya? Gunakan mata mu dengan baik, bagiamana aku menjadi budak perusahaan, menyelamatkan perusahaan itu beserta pegawainya. Aku sudah mengatakan tidak akan keberatan jika kau menyerahkan perusahaan dan juga harta untuk anakmu si fakir miskin itu. Tapi, anak mu juga harus menerima hutang perusahaan kepada Ibu, beserta keluarga Ibu, juga padaku. Enam ratus dua puluh empat miliar, itu belum di hitung uang Ibu, dan uang ku. Yah, mungkin satu triliun." Win tersenyum puas karena yang dia lihat adalah tatapan terkejut Ayahnya, dan juga ajudan Ayahnya yang tak bisa mengelak karena semua data itu jelas valid dan tidak bisa di sangkal.
"Perusahaan itu hanyalah sebuah cangkang tua jika tidak ada sentuhan dari ku, dan keluarga Ibuku. Orang yang kau khianati itu, anak yang kau paksa untuk bisa meniru anak mu yang lain ini, adalah tokoh yang membuat kau masih bisa hidup mewah dan menggunakan oksigen sepanjang hari. Hah.....Upah ajudan dan sekretaris mu saja Ibuku yang membayarnya, apa kau tidak malu saat membicarakan harta yang bahkan tidak kau miliki?"
Ayahnya benar-benar terlihat sangat terkejut, tubuhnya gemetar hebat karena dia tidak pernah membayangkan jika Win memang begitu licik dan teliti.
"Tuan besar, keadaan perusahaan saat anda tinggalkan memang kacau balau. Semua pemegang saham kompak menarik saham mereka, bahkan kita juga sudah menyatakan tidak sanggup lagi kan? Saya juga tidak menyangka kalau hutang perusahaan sebesar ini, kalau kita menyerahkan kepada Tuan Martin, ini artinya kita hanya meminta Tuan Martin untuk melunasi hutang anda saja, Tuan besar. Kalaupun menjual perusahaan, sepertinya akan sulit karena adanya masalah ini, walaupun Tuan Win memang kurang baik dalam bersikap, tapi dia adalah anak anda yang memiliki kemapuan berbisnis dan sosok pemimpin yang kuat."
Martin terdiam tanpa kata, yah bahkan dia juga tidak menginginkan apapun. Dia sudah cukup dengan apa yang dia miliki, dia sudah bahagia meski harta yang dia miliki tidak bisa di bandingkan dengan keluarga Ayahnya. Ibunya Win adalah anak konglomerat, dia memiliki harta pribadi yang jelas tidak akan membuat Win kesulitan.
"Kau pasti mengeksploitasi perusahaan kan?!"
Win menghela nafasnya, dia menatap Ayahnya yang selalu saja menatapnya seolah begitu mencurigai Win.
__ADS_1
"Lihatlah betapa menjijikannya dirimu." Ucap Win kepada Ayahnya yang membuat Martin terkejut sekali.
"Win!" Martin.
"Tuan Win." Ajudan.
"Seorang Ayah yang terus menatap anaknya dengan dingin, mengacuhkan anaknya, bahkan terang-terangan mengatakan jika anak yang lahir dari hubungan yang di paksakan sulit untuk di terima oleh hatimu bukan? Lalu pernahkah kau berkaca? Kau bahkan tidak mungkin bisa mempertahankan perusahaan jika tidak ada keluarga Ibu ku, kau bahkan memiliki anak haram dan membawa anak haram itu beserta wanita simpanan mu. Kalaupun kau tidak mencintai Ibu ku, seharusnya kau cukup tahu diri kan? Kau pikir Ibu ku tidak menangis saat itu? kau pikir Ibu ku baik-baik saja? Bahkan jika mau Ibuku bisa menceraikan mu dan mendapatkan pria yang lebih baik bukan?" Win memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana yang dia gunakan. Dia menatap Ayahnya dengan tatapan dingin dan menghina.
"Andai saja kau tahu diri, andai saja kau tidak arogan, andai saja kau ingat bahwa Ibuku hanyalah manusia biasa, andai saja kau tidak meminta ku untuk menjadi seperti anak kesayangan mu itu, andai saja kau tidak menatapku sinis sepanjang waktu, andai saja kau bisa sedikit saja lebih baik padaku meski itu pura-pura, mungkin sekarang yang akan aku lakukan adalah, memegang tangan mu erat-erat dan menangisi kondisi mu."
"Tuan Win, tolong hentikan. Tuan besar sedang tidak baik sekarang." Pinta Ajudan kepada Win dengan tatapan memohon.
"Tentu saja, tapi aku belum selesai."
Win kembali menatap Ayahnya yang kini terlihat tertekan dan menahan tangis.
"Lihatlah baik-baik wanita yang kau manfaatkan tubuh serta hartanya, lihatlah dia masih saja membantumu tanpa bicara, tapi kau tetap tidak bisa merasakannya bukan? Matilah, mati lah secepat mungkin. Jangan hidup terlalu lama dan menyiksa Ibu ku."
Bersambung.
__ADS_1