Why?

Why?
Sedikit Bukti Dari Tuhan


__ADS_3

Satu minggu kemudian.


Martin bergegas menjalankan kemudi mobilnya menuju sebuah tempat dimana dia bisa mendapatkan satu saksi yang sudah lama menghilang. Dia adalah, Vethie Jolie atau guru sekolah SLB yang juga satu-satunya saksi yang sesungguhnya. Berkat m dia sosial yang terus aktif membicarakan perihal kasih Velerie, bahkan bukan satu atau dua akun ternama yang mengagungkan agar menyelamatkan keadilan untuk Velerie. Sekarang semua orang ramai-ramai menuntut pihak berwajib, bahkan juga menuntut negara untuk lebih memperhatikan kasus Velerie ini.


Martin awalnya benar-benar tidak percaya karena tiba-tiba saja ada nomor asing yang menghubunginya, lalu mengaku kalau dia malah Vethie Jolie, guru SLB sekaligus saksi tinggal dalam peristiwa yang merenggut nyawa Velerie. Dia mengatakan jika dia mendapatkan nomor telepon Martin dari internet setelah maraknya kasus Velerie, dan Martin resmi menggantikan pengacara Jhon, atau lebih tepatnya mengambil posisi Martin yang di pakai oleh pengacara Jhon.


Dampaknya tidak main-main, media sosial mulai merambah kepada kemampuan pengacara Jhon yang justru tak sehebat dugaan mereka. Pengacara Jhon bahkan bisa melewatkan banyak informasi penting padahal semua sudah tersebar di media sosial. Belum lagi pihak kepolisian yang menangani kasus Velerie juga di pertanyakan dan seperti di desak untuk menyelesaikan kasus yang tragis ini. Tentu saja kehebohan ini membuat semua pihak yang terkait, terlibat konspirasi menjadi gelisah dan mulai mencari cara bagaimana dia akan menyelamatkan diri seandainya mereka terbukti bersalah.


Tidak seorang diri, Martin kini sudah menjemput Helena yang menunggunya di halte Bus, lalu menuju ke tepat yang mereka tuju bersama.


"Kau sudah memastikan benar kalau dia adalah Vethie Jolie kan? Aku tidak ingin kita kecewa setelah datang jauh-jauh begini." Ujar Helena yang tentu saja adalah wajar. Bagaimanapun sulit di percaya karena saksi yang menghilang bak di telan bumi itu tiba-tiba saja muncul dan memintanya untuk datang dan bicara.


"Tentu saja, aku dan dia sudah melakukan panggilan video dan aku juga sudah merekam pembicaraan kami. Ada banyak hal yang perlu kita tanyakan, juga pastikan benar jadi akan lebih baik kalau kita menemui beliau langsung."


Helena mengangguk cepat, tersenyum senang meski coba dia sembunyikan. Sungguh dia tidak tahu kalau pada akhirnya Tuhan akan membuat hidupnya sedikit merasa begitu lega setelah perjuangan yang seperti tak berujung ini. Sebenarnya di banding dirinya, Martin adalah sosok yang paling banyak membantu, bahkan usaha Martin jauh lebih banyak di banding dirinya.


"Aku harap semua segera berakhir, kau juga bisa tenang setelah ini." Ujar Martin segera mendapatkan anggukan setuju dari Helena.


Sudah hampir satu jam mereka berada di dalam perjalanan, dan hampir satu jam pula Sofia yang sejak tadi tidur di kursi belakang masih terlihat nyenyak. Helena sebentar menoleh untuk mematikan keadaan Sofia, begitu melihat Sofia yang masih terlihat nyaman, Helena kembali melihat ke arah depan tapi tanpa sadar ternyata Martin sejak tadi memperhatikan bagiamana Helena menatap putrinya. Dia benar-benar terlihat sangat perhatian, tatapan matanya juga begitu lembut melebihi Ibu kandung Sofia sendiri.

__ADS_1


Alangkah bagusnya jika Helena menjadi Ibunya Sofia.


Batin Martin menahan senyumnya sendiri di dalam hati, tentu saja itu tidak mungkin bukan? Helena lebih muda di banding dirinya, dia sangat cantik dan juga cerdas, rasanya seperti tidak tahu diri jika menginginkan hal itu bukan?


Beberapa saat kemudian.


Helena terdiam menahan dirinya yang gugup dan gemetar karena perasaan yang begitu campur aduk. Martin yah sudah turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Helena, lalu membukakan pintu untuk mengambil Sofia yang sudah terbangun dari setengah jam yang lalu. Martin sudah siap sembari menggendong Sofia, tapi langkah kakinya tak dia lanjutkan karena Helena masih terdiam tak bergerak sama sekali.


Martin mendekati Helena, meraih tangannya dan menepuk pelan punggung tangannya. Iya, tahu, apa yang dia lakukan kepada Helena sering kali di luar kendali. Tapi tak bisa menampik kalau apa yang dia lakukan juga membuat Helena merasa lebih baik.


"Helena, sedikit lagi, kau bisa melangkah lebih jauh karena kau adalah wanita yang hebat."


"Ayo!" Ajak Martin yang dengan tidak ragu-ragu menarik tangan Helena yang kini di genggamnya.


Helena benar-benar tidak tahu kenapa dia justru merasa begitu nyaman, perasaan di lindungi yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Helena menatap genggaman tangan mereka, menatap punggung Martin dan juga tengah menggendong Sofia dengan satu tangannya, bukankah semua orang pasti akan menyangka kalau mereka adalah keluarga?


Entah kenapa hatinya begitu mudah memikirkan apa yang tidak pantas dan tidak harus dia pikirkan. Dia sudah cukup hancur setelah kehilangan Velerie, jadi rasanya dia tidak siap kalau harus berandai andai meski memang Martin begitu terasa berbeda dengan pria lain di luar sana, terutama David. Martin memiliki rupa yang tampan, dia juga memiliki perawakan yang begitu gagah, jadi sudah tentu ada banyak gadis di luaran sana yang bersedia untuk mendampingi Martin bukan?


Begitu mereka berdua sampai di sebuah pintu apartemen, Martin dan juga Helena mengetuk pintu itu perlahan. Sungguh tidak menyangka kalau guru Vethie Jolie akan tinggal di apartemen murah yang terbilang agak kumuh padahal dia baru menerima uang dua ratus juta. Aneh sekali bukan? Bahkan tempat seperti itu kenapa begitu sulit untuk di cari selama ini?

__ADS_1


Martin sudah mengetuk beberapa kali, tapi masih juga tak di buatkan pintu hingga Helena ikut mengetuk pintu karena kesal padahal dia sudah benar-benar lelah sekali.


Melihat ada penghuni sebelah yang keluar dari apartemen, segera Martin menghentikan untuk bertanya kepadanya.


"Tuan, maaf mengganggu!" Martin dengan segera berjalan mendekati orang itu.


"Anda tahu apakah orang di sebelah anda ada di dalam?" Tanya Martin.


"Sepertinya ada, tapi dia memang jarang sekali keluar. Belum lama juga ada tamu, dia memang jarang keluar, jadi aku yakin pasti ada di dalam."


Martin tersenyum, mengangguk paham dan mengucapkan terimakasih sebelum pria itu meninggalkan dirinya karena harus melakukan sesuatu.


"Bagaimana?" Tanya Helena.


"Dia bilang pasti ada di dalam, tapi ini aneh sekali karena dia tidak mau membuka pintunya."


Martin membuang nafas kadarnya, dia mengatakan satu tangan untuk menyentuh handle pintu, satu lagi terangkat untuk mengetuk pintunya. Tapi saat satu tangan yang menyentuh handle pintu tak sengaja tertekan, membuat pintu itu terbuka.


Martin dan Helena saling menatap kenapa begini? Mereka memutuskan untuk masuk ke dalam meski agak ragu. Tapi begitu dia sampai ke ruang tamu, dia benar-benar di buat terkejut karena keadaan guru SLB itu benar-benar tidak biasa.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2