Why?

Why?
Sejuta Keberuntungan


__ADS_3

Benar saja seperti dugaan Helena dan juga Martin, media sosial kembali di hebohkan dengan pernyataan Helena yang menyebutkan adanya saksi yang menghilang. Mereka mulai mempertanyakan saksi yang sudah menyatakan akan bersaksi saat persidangan nanti. Bukankah aneh jika Helena mengungkit saksi saat saksi sudah ada, pernyataan Helena itu seolah mengarahkan dan menjelaskan bahwa saksi sebelumnya, atau saksi yang akan bersaksi nanti bukanlah saksi yang mengetahui dan melihat langsung kejadian itu.


Jelas, akun media sosial Helena kembali di serbu pengguna internet. Mereka menanyakan sebenarnya kenapa Helena mengatakan itu, dan dugaan mereka tentang saksi yang sebenarnya, bahkan ada yang menuduh saksi yang sudah ada adalah saksi palsu? Tapi Helena tidak akan menggubris satupun dari mereka yang sebagian mendukung dirinya, dan sebagian lagi mencela Helena karena seperti merendahkan pengacara Jhon dan menganggap Helena tidak mempercayai pengacaranya sendiri.


"Benar-benar membuatku terus keheranan, ternyata keadilan di negeri ini hanya sebatas ini? Keadilan? Pft....! Keadilan apa? Mereka semua berkonspirasi, saling menggigit untuk mendapatkan keuntungan masing-masing. Lihat saja, kalian semua yang telah membuat putriku meninggal, tertawalah sepuasnya, aku akan datang membuat kalian kehilangan tawa kalian semua."


Helena meletakkan photo putrinya, persis di tempat sebelumnya dia meletakkan. Photo yang memperlihatkan betapa cantik dan manisnya Velerie dengan senyumnya, jepit rambut warna pink yang dia gunakan juga adalah jepit rambut yang paling dia sukai. Dress itu juga, adalah dress yang di pilih langsung oleh Velerie saat mereka pergi ke pusat belanja beberapa bulan lalu.


Saat ini Helena tengah berada di kamar Velerie, kamar yang serba pink itu benar-benar terasa sangat sepi, sunyi, dan menyedihkan. Entah akan butuh betapa lama luka hati seorag Ibu kehilangan anak sembuh, tapi Helena yang sekarang ini memiliki luka begitu besar, adalah Helena yang paling kuat meski matanya masih sering menitihkan air mata.


Di kantor firma hukum.


Martin menyerahkan amplop coklat, amplop berisi surat pengunduran dirinya kepada kepala pengacara yang tak lain adalah Pengacara Jhon.


"Bisa bekerja di firma hukum sebesar ini saja kau seperti sudah mengerahkan sejuta keberuntungan mu, dan sekarang kau ingin berhenti bekerja? Kenapa? Karena kau tidak bisa sekaya teman-teman mu yang lain? Ataukah kau merasa tidak layak berada di sini?" Pengacara Jhon tersenyum, tentu saja senyum itu terbuat di iringi tatapan matanya yang menghina dan merendahkan.


Martin tersenyum, menunduk bukan karena merasa takut dan tidak mampu membalas tatapan menyebalkan pengacara Jhon, hanya saja Martin merasa jijik melihat wajah itu. Wajah yang begitu mudah menghina orang lain, merendahkan orang lain, menilai sesuka hati, bahkan terang-terangan memaki padahal seharusnya dia paham benar tentang apa yang dia ucapkan secara dia adalah seorang pengacara yang katanya hebat, dan memiliki kualitas diri yang sangat tidak di ragukan lagi.

__ADS_1


"Benar sekali, aku merasa tidak pantas berada di sini. Aku merasa malu berada di lingkungan orang-orang hebat yang luar biasa seperti kalian semua. Aku merasa ini bukan tempat yang cocok untukku, jadi aku akan mengakhiri semua ini, anda juga tahu dan paham benar bahwa anda tidak akan kehilangan orang bodoh sepertiku bukan?" Martin tersenyum, sebentar menatap Pengacara Jhon yang sedari tadi menatapnya tanpa ekspresi.


Pengacara Jhon terus menatap Martin seolah mencari tahu ada yang di sembunyikan Martin? Bagaimanapun ini jelas tidak masuk akal, Martin dulu begitu gigih hanya untuk menjadi pengacara di firma hukum itu, jadi kenapa sekarang dia ingin berhenti? Bukankah Jelas ada yang tidak beres?


"Pengacara Martin, bukankah lebih baik jika kau pikirkan dulu? Surat pengunduran dirimu ini akan aku tahan, jadi kembalilah dulu dan pikirkan baik-baik sebelum kau akan menyesalinya."


Martin menatap Pengacara Jhon dengan yakin.


"Aku yakin dengan ini, pengacara Jhon."


Pengacara Jhon nampak semakin curiga, jadi dia tidak akan membiarkan Martin pergi.


Martin membuang nafasnya, dia terlihat tak berdaya menolak ucapan Pengacara Jhon. Martin mengangguk dengan mimik kelu, dan keluar dari ruangan setelah beberapa saat. Tapi begitu dia menutup pintu ruangan pengacara Jhon, dia menunduk, menyembunyikan senyum tipis penuh maksud sembari melangkah pergi.


Bagus, curigai aku sebanyak mungkin. Kau tunggu sekali, dan bersiaplah karena mulai dari hari ini kau tidak akan merasa tenang.


Iya, tujuan Martin menyerahkan surat pengunduran diri hanyalah demi membuat Pengacara Jhon merasa curiga padanya. Dengan begitu pengacara Jhon tidak akan begitu detail memperhatikan Helena dan menyadari akan adanya hal yang tidak beres dengannya.

__ADS_1


Di tempat lain.


Farah membuang nafasnya, sudah tiga hari ini dia sakit dan beristirahat di rumah. Sejak unggahan Helena di media sosial begitu menarik perhatian banyak masyarakat, Farah yang juga melakukan sesuatu di belakang Helena merasa terusik dan tidak tenang. Sebenarnya sejak awal dia juga sudah merasa tidak tenang, tapi dia bisa mengatasi ini semua karena melihat kedua orang tuanya yang selalu mendukung dirinya. Tapi, jika unggahan Helena semakin marak seperti sekarang ini, bagaimana dia akan berpura-pura tidak terjadi apapun?


Selama ini dia sudah mencoba untuk menghindari Helena karena dia tahu Helena pasti akan mencecarnya dan menekannya agar dia bisa mendapatkan apa yang di tanyakan oleh hatinya. Memang benar dia bisa menggunakan kesalahan telah merapihkan jenazah Velerie tanpa izin darinya, tapi tetap saja dia gugup saat bertemu Helena.


"Farah, apa kau masih merasa tidak nyaman? Bagaimana kalau meminta tolong Helena untuk membelikan vitamin yang biasanya dia belikan untukmu? Kau selalu segar saya meminum vitamin itu." Ucap Ibunya Farah yang merasa kasihan melihat putrinya terus berada di tempat tidur, bahkan makan juga hanya sekali sehari, itupun sangat sedikit sekali.


Farah menatap Ibunya dengan tatapan kesal, sungguh hanya dengan mendengar nama Helena saja sudah membuatnya merasa tidak nyaman. Memang benar Helena cukup baik selama ini kepada dia dan keluarganya, tapi memiliki hubungan baik saja dan tidak memiliki keuntungan untuk apa juga?


"Berhentilah membahas tentang Helena, aku tidak ingin membicarakan soal dia."


Ibunya Farah menghela nafasnya.


"Jangan begitu, Farah. Bagiamana pun hubungan kalian sebelumnya sangat baik, walaupun memang benar dia marah karena kau merapihkan jenazah putrinya tanpa izin darinya, dia juga harus paham kalau nenek dari putrinya yang menyetujui itu kan? Dia harus berhenti menyalahkan mu, dan menerima kenyataan ini dengan sabar. Ibu sebenarnya sedih dan kasihan sekali melihat dia begitu berjuang untuk keadilan putrinya, tapi sayang sekali kita tidak bisa membantu apapun."


"Cukup! Jangan bicara lagi tentang Helena, jangan!" Kesal Farah.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2