
"Aku juga baru tahu kebenaran itu saat aku duduk di bangku sekolah menengah pertama. Ibu ku akhirnya membawa ku bertemu Ayah yang selama ini aku impikan. Kami bertemu dan dia memeluk ku sangat erat, dia menangis dan meminta maaf karena tidak berada di sisi kami. Tapi saat di bawa ke rumah Ayah ku, aku benar-benar mulai memahami banyak hal bahwa, Ayahku memiliki istri dan anak, Ibu ku hanya selingkuhan Ayah ku saja. Ayah ku bilang bahwa pernikahan dengan Ibunya Win adalah pernikahan aliansi yang tidak bisa dia hindari, tapi sejak awal hingga akhir dia benar-benar hanya mencintai Ibu ku. Aku pikir itu hanyalah omong kosong belaka, tapi sejak Ibu ku di temukan tewas, dia benar-benar terlihat sangat terpukul dan sakit-sakitan hingga sekarang. Sejak pertama aku bertemu Win dan Ibunya, mereka selalu saja mencoba untuk mencelakai ku, dan mendorong ku untuk menjauh. Makanya aku pikir akan lebih baik jika aku menghapus nama belakang dari Ayah ku, hidup jauh dari keluarga itu. Sepertinya semua yang aku lakukan masih tidak cukup untuk mereka, jadi aku yakin setelah ini mereka akan menjadi lebih tidak terkontrol."
Helena menghela nafasnya, ternyata pada dasarnya semua orang memiliki banyak tindakan hah berdampak untuk generasinya. Seperti Helena, begitu juga dengan Martin. Mereka berdua lahir ke dunia tanpa bisa menolak, tapi tetap harus merasakan dampak buruk dari perbuatan orang tuanya.
"Tentu saja itu tidak akan menjadi masalah untuk kita berdua. Bagaimanapun aku akan tetap berada di dekat mu, aku akan menemani mu, jadi jangan takut apapun, jadilah Martin yang hebat supaya aku benar-benar bisa merasa lega menitipkan hidup dan masa depan ku bersama mu." Helena tersenyum menatap Martin yang kini mulai bisa tersenyum. Bagaimanapun kehidupan seseorang sudah jelas si maha pemilik segalanya yang telah mengatur, bak Helena dan Martin hanya bisa berusaha sebaik mungkin bertahan dan berjuang, bagaimana hasilnya tentu saja mereka harus percaya kalau tidak akan ada usaha yang mengkhianati hasil, atau mungkin hasil yang mengkhianati usaha.
"Jadi sebenarnya kau juga adalah orang yang seharusnya memiliki lebih banyak harta ya?" Ujar Helena membuat Martin terkekeh geli mendengarnya.
"Sebenarnya Ayah ku sudah mengatakan pada ku kalau dia akan mewariskan perusahaan milik keluarganya pada ku. Semua itu sudah dia pertimbangkan dengan sungguh-sungguh, tapi tetap saja dia tidak bisa melakukan apa yang ingin dia lakukan saat Win dan Ibunya bertindak. Dulu aku hampir saja mengambil jurusan bisnis saat kuliah, tapi karena aku mendapatkan ketidak adilan terus menerus, di tambah aku juga selalu di sakiti oleh Win dan Ibunya, aku akhirnya mengambil jurusan hukum dengan tujuan agar mereka tidak akan bisa lagi memperlakukan ku seenaknya, dan aku juga bersumpah akan melakukan segalanya agar mereka mendapatkan hukuman dari semua perbuatan jahat mereka."
Helena mengangguk setuju.
"Tentu saja, selama kau bersungguh-sungguh dan tidak melenceng dari jalan kebenaran, maka aku yakin kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan."
"Seperti mendapatkan hati mu?" Ledek Martin yang langsung membuat senyum di bibir Helena menghilang berganti dengan helaan nafas sebal.
__ADS_1
Di sisi lain.
Prang!
Bruk!
Semua barang yang ada di kamar Win udah benar-benar porak poranda akibat kekesalannya sejak kemarin malam saat mengetahui Yuri benar-benar memilih untuk lari tanpa membawa apapun. Mana bisa begitu? Bukankah urutan yang seharusnya adalah dia yang membuang Yuri? Kenapa Yuri lari seolah menolak dirinya? Peliharaan mana boleh tidak menginginkan tuannya? Tentu saja Win tidak akan menerima itu dengan mudah.
"Dasar perempuan tidak tahu diri, sudah bagus aku pelihara hanya tinggal makan, tidur, mengutus diri dan membuka kaki lebar-lebar untuk melayani ku! Berani sekali dia mengeluh lalu kabut begitu saja? Sehari kau mencium sepatu ku dulu, memohon sampai menangis dan memeluk kaki ku seperti seorang budak!"
Entah lah, Win sepertinya tidak dapat memahami benar tengah dirinya sendiri. Bukankah sudah jelas Yuri tidak akan ada gunanya lagi? Martin sudah memiliki wanita lain untuk dia cintai, sebentar lagi juga mereka akan segera menikah. Tapi, kenapa dia merasa begitu tidak terima Yuri kabur darinya? Apakah benar selama ini dia menganggap Yuri hanyalah sebatas peliharaan, atau sebenarnya dia tidak menerima kepergian Yuri karena dia merasa kehilangan Yuri dalam arti dia mencintai Yuri tanpa sadar?
Tok Tok
"Sayang, bagaimana kalau kau keluar saja dulu dari kamar? Orang yang kau minta untuk mencari Yuri sudah kembali, tapi menurutnya Yuri tidak tinggal di tempat Martin." Ucap asisten Win yang juga adalah salah satu sanita yang Win gunakan untuk memenuhi apa yang dia inginkan.
__ADS_1
Win terlihat kesal, dia menatap pintu yang tertutup rapat itu dengan dingin.
"Enyah lah sana! Kau juga hanya sampah bagi ku, dan kau tidak memiliki hal untuk mengatur apapun tentang ku!"
Asisten Win tersentak, dia benar-benar tidak menyangka kalau pada akhirnya dia juga akan di hina dan di rendahkan oleh Win seperti yang di rasakan oleh Yuri. Padahal dia benar-benar menginginkan kebersamaan bersama degan Win, bahkan dia juga tidak segan-segan membantu Win dalam segala hal, bahkan hanya untuk memikirkan tentang pengkhianatan juga sama sekali gak terlintas di benaknya.
"Sayang, tolong dengarkan aku sekali ini saja oke! Sebentar lagi Ibu mu akan datang, kau harus bersiap, dan jangan memperlihatkan diri mu yang seperti ini." Bujuk asistennya Win.
Win yang sudah tidak tahan lagi dengan suara wanita itu dengan segera meraih kerangka bingkai photo yang kacanya sudah hancur tak karuan. Win melemparkan bingkai photo itu ke pintu dengan sangat kuat hingga menimbulkan suara bising yang cukup parah.
"Tutup mulut mu! Jangan bertingkah seolah kau adalah Nyonya, sungguh kau tidak pantas!"
Ucapan Win barusan benar-benar sukses membuat wanita itu terdiam menelan kepahitan dan kepedihan karena sebelumnya Win sama sekali tidak pernah membentaknya cukup parah seperti ini.
"Tapi aku juga tidak bisa berhenti, Ibu mu sudah menghubungi ku dan sedang dalam perjalanan kemari!"
__ADS_1
Bersambung.