Why?

Why?
Malam Pertama Tapi Bukan Yang Pertama


__ADS_3

Martin mengangkat tubuh Helena, mengarahkan kedua kaki Helena untuk melingkar pada pinggangnya. Tangan Matiin kiri erat menahan tubuh Helena sementara bibirnya tak henti mencium, menyesap dengan dalam bibir Helena, menggunakan lidah dia menyerang mulut Helena tanpa ampun. Ya, ini adalah malam pertama untuk Helena dan Matiin sebagai suami dan istri jadi mereka berdua benar-benar tidak akan merasakan bosan meski memang bukan untuk pertama kalinya mereka melakukan hubungan badan.


Bruk!


Martin merebahkan tubuh Helena ke atas tempat tidur, mengungkung tanpa menghentikan bibir mereka yang masih menyatu saling menyesap dan melilitkan benda kenyal di dalam mulut. Mata mereka terpejam karena perasaan indah yang timbul dari sebuah ciuman itu benar-benar membuat mereka berdua tak bisa mengelak sama sekali.


Perlahan namun pasti, Martin mengeraskan tangannya dengan lembut, menyentuh bagian benda kembar yang kenyal dan begitu pas di tangannya. Dia menggerakkan jemarinya dengan gerakan memijat namun lembut, menyentuh ujungnya hingga pemilik benda itu mulai merasakan sesuatu yang pada akhirnya menginginkan lebih dari pada ciuman dan sentuhan itu.


Tak cukup puas hanya menyentuh saja, Martin dengan segera bangkit tanpa beranjak dari posisinya, melepaskan satu persatu helai yang di gunakan Helena, hingga bagian tubuh atas sudah tak lagi memiliki penutup.


Uh!


Benar-benar indah, dan mulus sekali, lagi mana bisa dia akan melewati saja bagian tubuh Helena yang seperti memiliki daya tarik yang begitu kuat?


Martin menyesap dengan kuat tapi juga lembut, cepat dan begitu hebat memainkan bagian ujung benda kembar Helena membuat Helena tak mampu lagi menahan dirinya, menahan suara yang begitu meronta ingin keluar dari bibirnya. Memang sudah hal biasa bersuara saat melakukan hal seperti itu, tapi entah mengapa Helena masih belum selepas itu membuat Martin ingin melakukan lebih lagi agar Helena benar-benar tak memiliki batasan dalam hal apapun.


Martin memijat kedua benda kembar nan kenyal itu, bibirnya masih di sana, menyusu layaknya bayi yang kehausan. Sementara Helena, dia memejamkan matanya menikmati perasaan yang timbul karena apa yang di lakukan Martin, dadanya naik beberapa centimeter karena melengkung tak kuasa menahan rasa itu.

__ADS_1


Masih belum ingin menyerah, Martin menggerakkan satu tangannya perlahan turun ke bawah, menyusup ke dalam kain yang berbentuk celana itu, dua lembar lapisan kini jemari Martin benar-benar berhasil menyentuh bagian inti milik Helena. Dia masih memainkan ujung benda kembar milik Helena dengan satu tangan dan lidahnya, sementara satu tangannya yang sudah berhasil menyusup masuk itu dia gunakan untuk memainkan sesuatu yang membuat Helena semakin tak tahan. Seperti geli, tapi geli itu di rasakan oleh seluruh tubuhnya sehingga Helena benar-benar tak bisa tenang, tubuhnya menggeliat merasakan apa yang di lakukan Martin.


Sungguh, semua itu benar-benar begitu berbeda dari sebelumnya. Maklum saja sebelumnya mereka berdua melakukan itu dengan terburu-buru dan juga takut Sofia akan menyaksikan apa yang sedang mereka lakukan. Sekarang Sofia sedang bersama Ibunya Helena, dia akan tidur bersama Ibunya Helena yang sudah seperti neneknya sendiri.


"Sayang, kenapa kau begitu hebat menahan ini?"


Martin yang merasa masih belum berhasil segera bangkit, dia menanggalkan kain yang menutupi bagian bawah Helena, entah kemana perginya dia tidak perduli karena dia membuang ke sembarang arah.


Martin dengan segera mengambil posisi, kali ini dia benar-benar tidak akan memberikan ampun bagi Helena yang masih terlihat begitu kuat menahan dirinya. Martin menggunakan lidahnya untuk menyesap bagian ** milik Helena, jemarinya digunakan untuk masuk ke dalam sana dengan ritme beiringan membuat Helena kembali menggeliat merasakan dahsyatnya perasaan yang timbul karena Martin. Tidak, sekarang dia benar-benar tidak tahan lagi. Helena mulai merintih dan melenguh, mengeluh dengan suara yang indah membuat Martin justru semakin menjadi karena dia begitu menyukai suara itu.


Cukup lama Martin melakukan itu, hingga masa untuknya bersabar benar-benar habis. Martin kembali bangkit, mengeluarkan jemarinya dari sana untuk melepaskan kain yang menutupi tubuhnya hingga benar-benar tidak ada lagi yang tersisa.


Dia tidak ingin Helena melakukan seperti yang banyak di lakukan wanita pada video dewasa dengan menyamakan miliknya seperti lolipop. Kalau memang Helena menginginkan itu tentu dia akan dengan bahagia dan senang hati menyerahkan miliknya, tapi jika tidak dia juga tidak masalah karena dia sudah cukup dengan seperti sekarang ini.


Martin meletakkan benda miliknya di atas milik Helena, membuatnya saling bergesekan untuk beberapa saat karena kegiatan seperti itu nyatanya menimbulkan rasa enak dan indah yang tidak kalah dari saat milik mereka benar-benar menyatu.


"Em...! Aghh.......!" Helena dan Martin sama-sama meringis dan memejamkan mata menikmati apa yang terasa di bawah sana tapi menjalar sampai ke seluruh tubuh.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Martin benar-benar menyatukan milik mereka, bergerak dengan pelan pada awalnya. Tapi siapa yang akan sanggup kalau gerakannya hanya akan pelan seperti terus? Tentu saja Martin gerakan itu semakin cepat dan semakin menjadi, maju mundur, kadang juga seperti gerakan memutar semakin cepat dan semakin jelas pula suara lenguhan dan rintihan indah dari bibit mereka berdua.


Martin menekan kuat penyatuan mereka, dia memejamkan mata setelah sampai pada sesuatu yang disebut surga dunia. Helena, dia juga benar-benar seperti kehabisan tenaga karena kegiatan yang mereka lakukan seperti begitu menghabiskan seluruh energi.


"Kita baru saja selesai, tapi aku benar-benar ingin melakukannya lagi." Ujar Martin yang masih memeluk tubuh Helena, menatap dan tersenyum kepada wanita yang masih berada di bawah tubuhnya.


"Bahkan kau belum juga mengeluarkan milik mu, tapi kau sudah memikirkan ini lagi? Martin, bersikaplah seperti manusia."


Martin terkekeh, memang siapa orangnya yang tidak akan gila kalau melakukan sesuatu sedalam ini dengan wanita cantik seperti Helena? Duh! Kalau begini, dia benar-benar harus menjaga Helena dua puluh empat jam kan?


"Sayang, ternyata menikah itu enak sekali ya? Benar-benar tidak perlu terburu-buru seperti sebelumnya."


Di sisi lain.


Tuan Feto membuang nafasnya, dia tersenyum setelah melihat photo pernikahan Helena yang di berikan oleh asisten pribadinya. Tentu saja dia merasa bahagia karena putrinya tengah bahagia, tapi dia juga sedih karena tidak dapat melihat secara langsung bagiamana saja bahagia putrinya.


"Kau harus bahagia, nak. Ayah janji akan terus mempertahankan wajah bahagia mu ini. Tidak akan ada yang berani macam-macam apalagi mencelakai mu. Biarpun Ayah berada di dalam penjara, Ayah pastikan kau tetap aman, kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan." Tuan Feto mengusap wajah Helena dalam photo itu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2