Why?

Why?
Pesan Dari Melisa


__ADS_3

"Tidak....!" Ibunya Melisa menangis sejadinya saya mendapatkan kabar bahwa Melisa tengah meningal dunia karena mengakhiri hidupnya sendiri. Air matanya benar-benar luruh tak tertahankan karena hatinya sangat tidak siap dengan kenyataan itu. Sebagai seorang Ibu jelas dia merasa bersalah dan akan lebih baik jika Melisa bebas, lalu menikmati hidupnya. Dia sungguh tidak pernah menayangkan bahwa pada akhirnya dia akan kehilangan banyak hal hanya karena sikap egois dan arogan yang dia miliki.


"Tidak, ini tidak mungkin!" Ibunya Melisa menjatuhkan dirinya, duduk di lantai penjara sembari memukuli dadanya yang terasa sesak, penuh dan nyeri. Tidak kan cukup setelah dia kehilangan anak laki-laki, lalu cucu satu-satunya, lalu harus hidup di dalam penjara bersama suami dan juga anaknya? Kenapa dia harus kembali merasakan bagaimana sakitnya kehilangan untuk selamanya?


Benar, dia bukanlah Ibu yang baik, dia memiliki banyak kekurangan terlebih dalam mengasuh fan mendidik anaknya. Tapi, dia juga seorang Ibu yang mencintai putri dan putranya, dia menyayangi anaknya, serta cucunya sehingga kehilangan mereka sama artinya kehilangan arti hidup.


"Nyonya, ini adalah pesan yang di tinggalkan putri anda untuk anda. Sore nanti jenazah Putri anda akan di makamkan di sebelah makam cucu anda, jadi anda bisa datang kesana untuk mengantar kepergian putri anda ke sisi Tuhan."


Ibunya Melisa meraih kertas yang di berikan Sipir kepadanya, dengan mata yang terus berair, juga suara tangisnya yang tak bisa di hentikan, perlahan Ibunya Melisa membuka untuk membaca isi pesan yang di tulis Melisa untuknya. Begitu matanya membaca tulisan putrinya yang agak acak-acakan, Ibunya Melisa paham benar kalau Melisa menulis semua pesan itu pasti dengan tangannya gemetar dan menangis tanpa suara.


( Pesan Melisa )

__ADS_1


Ibu, apa kabar Ibu hari ini? Aku harap Ibu baik-baik saja, dan jangan terus menyalahkan orang lain, jangan menyalahkan diri Ibu sendiri, dan jangan menyalahkan Tuhan. Ibu, pesan ini aku tulis saat aku merasa keputusan yang aku buat adalah keputusan yang aku inginkan dan tidak akan pernah aku sesali. Ibu, tahukah Ibu bagiamana perasaan ku saat ini? Aku sedih sekali, tapi aku juga merasa bahagia di waktu yang bersamaan. Ruangan yang sesak ini, ruangan yang membatasi gerak dan langkah kita membuatku merasa hidup benar-benar tidak berarti, tapi jika aku bisa keluar aku juga akan merasa hidupku tidak berarti. Ibu, setelah menerima ini mungkin saja aku sudah tidak lagi memiliki denyut nadi dan jantung, aku sudah tidak bisa lagi mengambil nafas dan terdiam tanpa bisa mendoakan apapun. Ibu, maafkan aku karena pada akhirnya aku hanya menambakan luka di hati Ibu, maafkan aku juga yang bahkan tidak pernah membiarkan Ibu merasa lega sebelumnya. Tolong jangan terlalu lama bersedih, jangan terlalu lama menangis, dan jangan memiliki niatan seperti yang aku lakukan. Ibu, terimakasih banyak karena telah melahirkan ku dengan susah payah, terimakasih banyak tetap menjaga ku dan melakukan banyak hal untuk kebahagiaan ku. Walaupun Ibu memang bukan Ibu yang baik di mata orang kain, tapi kenyataannya adalah Ibu adalah Ibu terbaik bagiku. Jika ada kehidupan selanjutnya, aku benar-benar berharap akan tetap menjadi anak Ibu. Ibu, aku pamit. Aku tidak bisa menemui Ibu lagi, tapi aku akan mengamati Ibu dengan baik, Jadi pastikan Ibu tetap baik-baik saja. Aku mencintai mu, Ibu.


Selesai.


"Putri ku, putriku.....!" Ibunya Melisa membawa lembar kertas itu ke dalam pelukannya, kembali menangis sejadinya hingga suaranya tak terdengar sama sekali.


Di sisi lain.


Melisa, putri yang dia besarkan dengan kasih sayang berlimpah, putri yang saat kecil selalu betah di dalam pelukan dan gendongannya, dia yang paling tidak bisa jauh dari Ayahnya, tidak bisa tidur kalau tidak ada Ayahnya, juga tidak pernah melewatkan hari tanpa mencium pipi Ayahnya. Putrinya yang selalu akan menjadi gadis kecil untuknya justru pergi jauh lebih cepat di banding dirinya. Tentu saja dia sangat sedih, dia sangat menyesali apa yang terjadi, dia juga kecewa dengan kenyataan yang begitu menyakiti ini. Tapi, apa yang bisa di lakukan jika semua sudah terjadi? Dia tentu tidak akan bisa mengubah kenyataan ini bukan?


Melisa.......

__ADS_1


Sekarang semua tentang Melisa hanya sebuah kenangan saja, sekarang semua tentang Melisa hanya akan ada di dalam hatinya, dan di dalam hati orang yang menyayanginya. Ini sangat berat, berat sekali untuk seorang pria lima puluh tahun yang seharusnya menghabiskan waktu bersama keluarga dan bahagia dengan suara gelak tawa cucu, menantu, semuanya.


Bruk!


Tuan Feto perlahan membuka lembaran kertas yang di berikan padanya. Jelas itu adalah pesan terakhir yang di tinggalkan Melisa untuknya, jadi dia benar-benar hanya bisa membaca pesan itu meski hatinya merasa tidak siap.


( Pesan Melisa )


Ayah, apa kabar Ayah hari ini? Ayah, setelah melewati beberapa waktu di dalam penjara, setelah kehilangan kebebasan dan kehilangan Denise aku juga telah menyetujui ajakan bercerai dari David. Aku juga ingin dia bahagia, ingin dia lepas dari jerat yang menyakitkan ini. Ayah, aku tahu keputusanku ini akan amat menyakiti hati Ayah, aku tahu Ayah pasti akan kecewa dan bersedih, tapi ini adalah pilihan ku, Ayah. Maafkan aku yang tetap saja egois dan arogan bahkan menginginkan kematian datang padaku lebih cepat dari pada ketetapan Tuhan. Ayah, aku ingin jujur kalau ini, aku benar-benar lelah sekali, Ayah. Tubuhku seolah menolak untuk hidup, hati ku seperti mati rasa dan tak dapat merasakan apapun selain kesedihan ini. Aku sudah berusaha bertahan, aku sudah berusaha mencoba untuk menjauhkan pemikiran serta niat seperti ini, tapi pada akhirnya aku juga tetap tidak sanggup lagi. Maafkan aku yang mengecewakan Ayah lagi, maafkan aku yang masih saja semena-mena terhadap kehidupan ini, maafkan aku yang menambahkan luka di hati Ayah. Ayah, terimakasih banyak karena sudah menjadi Ayahku, terimakasih banyak karena membuatku merasa Ayah adalah Ayah terbaik di dunia ini. Ayah, tolong jangan bersedih telah lama, jangan terus menangis, jangan menyalahkan diri sendiri pula, dan hiduplah dengan baik. Dalam beberapa tahun lagi Ayah akan bebas, jadi tolong pergunakan waktu Ayah dengan baik untuk Ayah dan Helena. Titip salam ku padanya, katakan jika aku hanya bisa meminta maaf dan terimakasih padanya. Aku mencintai, amat mencintai mu, Ayah.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2