
Helena mendekatkan dirinya untuk berbisik kepada Farah.
"Apa itu menyenangkan? Apa kau tidak bermimpi buruk setiap malam?"
Helena tersenyum seraya menjauhkan dirinya dan menatap Farah yang terlihat sangat terkejut hingga tak bisa mengatakan apapun.
"Bibi Farah, kembalikan ginjalku, kembalikan, jangan curi ginjalku, kembalikan, kembalikan.....Kau pernah bermimpi seperti itu? Apakah Velerieku lebih menakutkan di dalam mimpimu?"
Farah terdiam dengan tubuhnya yang mulai gemetar hebat, padahal awalnya dia ingin bersikap biasa saja dan akan lebih tegas kepada Helen agar Helena tidak mencurigai apapun padanya.
"Farah, aku memiliki banyak bukti betapa hinanya dirimu. Kau tidak lupa seberapa dekatnya kita dulu bukan? Aku bahkan memiliki rekaman kamera pengawas di mana kau dan kakak iparmu melakukan hal gila di apartemenku. Aku juga memiliki bukti bahwa kau mencuri kedua ginjal putriku. Tenang saja, aku tidak akan melaporkanmu ke polisi, tapi cobalah lihat unggahan di internet, lihatlah betapa banyaknya pengguna internet menikmati dan memuji aksimu."
Farah dengan segera mengeluarkan ponselnya meski tubuhnya gemetar hebat.
"Tidak, tidak, tidak, tidak mungkin! Kenapa begini?! aku tidak, tidak, tidak!" Farah menutup mulutnya dengan tangannya, matanya yang begitu terkejut tanpa sadar menitihkan air mata, bahkan ponselnya jatuh ke lantai Farah juga tidak memperdulikannya.
Helena tersenyum miring dengan tatapan yang begitu dingin. Ini adalah sebuah pelajaran berharga bagi para orang yang berteman, jangan terlalu dekat, jangan terlalu percaya dengan teman hingga begitu frontal tak merasa canggung menunjukkan bagaimana buruknya dirinya sendiri. Ini juga adalah sebuah keberuntungan bagi Helena, awalnya dia tidak menyangka jika Farah akan melakukan hubungan suami istri di kamarnya padahal saat itu Farah bilang hanya sebentar ingin istirahat karena sedang tidak enak. Helena pergi keluar untuk membelikan Farah makanan, dan obat, tapi tidak tahunya hubungan adik ipar dan kakak ipar itu begitu dekat padahal Helena sempat merasa sangat terharu karena dia Kakak ipar yang begitu memperdulikan adik kandung istrinya. Hah! Untung saja rekaman itu tidak sempat Helena hapus, batin Helena.
Farah kini menatap Helena dengan tatapan marah, dia berjalan mendekati Helena, mencengkram kedua lengan Helena dengan kuat.
"Kenapa kau melakukan ini?! Kau menghancurkan ku! Kau membunuhku!"
__ADS_1
Helena tersenyum miring, tatapannya masih begitu dingin. Helena menepis kedua tangan Farah, lalu kembali menunjukkan betapa tak kalahnya dia yang juga marah karena telah di hancurkan oleh Farah.
"Bagaimana denganku? Kau mengambil dua ginjal anakku, berkonspirasi untuk menipuku, kau juga sudah membunuh serta menghancurkan ku. Apa yang aku lakukan ini tentu saja tidak seberapa dengan apa yang kau lakukan padaku."
Farah mengigit bibirnya sembari menahan tangisnya yang seperti ingin pecah.
"Tetap saja, tetap saja apapun yang aku lakukan, putri cacat mu itu sudah mati! Dia tidak akan pernah menuntut saat ginjalnya di ambil untuk menyelamatkan orang lain, lagi pula anakmu itu tidak bisa berpikir, dia bahkan tidak akan tahu ginjalnya hilang!"
Plak!
Helena menampar wajah Farah sangat kuat, cacat? Lagi-lagi dia harus mendengar itu?
Farah memegangi pipinya, kembali menatap Helena dengan tatapan marah.
"Kenyataannya memang seperti itu, Helena. Putrimu itu cacat, kau tidak boleh menyangkalnya bukan? Kau seharusnya tidak perlu marah padahal apa yang orang lain katakan karena itu adalah kenyataannya!"
Helena masih terdiam, dia terus melihat Farah mendengarkan apa yang dia katakan.
"Hanya ginjal saja apa yang salah? Anakmu juga sudah jelas mati, mau di ambil ginjal, jantung, hati, usus, atau otaknya sekalipun dia tidak akan tahu dan tidak akan merasakan apapun, kau saja yang berlebihan!"
Helena mengeluarkan tangannya yang sejak tadi berada di dalam sakunya. Melipat kedua lengannya, meletakkan di depan dadanya, menatap Farah dengan segala pemikirannya.
__ADS_1
"Benar, putriku yang paling aku sayangi adalah penyandang cacat. Dia tidak seperti kebanyakan anak normal pada umumnya, tapi dia adalah gadis kecil yang paling baik, dia tidak pernah mengumpat, dia hanya tahu bagaimana mengatakan kalimat-kalimat yang baik, jadi orang yang cacat sesungguhnya adalah orang sepertimu, Farah. Kau cacat, otakmu cacat! Kau memiliki otak tapi kau tidak tahu bagaimana caranya berpikir, memalukan bukan? Kau memaki sesuka hatimu, tapi selama hidup Erie selalu tersenyum padamu, mengucapkan selamat datang saat kau datang, mengatakan untuk hati-hati di jalan saat kau pulang. Dia selalu mengatakan, bibi cantik saat tersenyum, jadi jangan menangis. Putriku sebaik itu padamu, lalu kau? Penyandang gelar dokter sepertimu apakah kau bisa melakukan seperti yang Erie cacat itu lakukan?"
Farah terdiam tak tahu harus mengatakan apa. Tidak, dia tidak menerima ucapan Helena yang begitu menyakitkan setelah apa yang di lakukan Helena padanya. Hancur, hancur sudah nama baiknya, hancur sudah kariernya, hancur sudah hubungannya dengan kakaknya karena cepat atau lambat kakaknya pasti akan melihat video itu bukan? Bukan, Orang tuanya, adiknya, teman-temannya juga.
"Aku belum akan berhenti, Farah. Kau masih akan melakukan yang lebih lagi, aku tidak akan berhenti sebelum kau benar hancur hingga tidak bisa memiliki kesempatan untuk bangkit sedikit pun. Lihatlah, lihatlah kejamnya perbuatan seorang Ibu yang anaknya kau curi ginjalnya setelah dia mengalami kematian tragis."
Bruk!
Farah menjatuhkan tubuhnya hingga jatuh duduk di lantai sembari menangis.
"Tidak boleh, kau tidak boleh menghancurkan ku, iya, kau tidak boleh!" Farah mendongak menatap Helena dengan tegas dan menantang membuat Helena membatin kalau pada akhirnya Farah akan mengatakan kalimat yang dia tunggu.
"Kau pikir kau bisa? Akan ada orang yang melindungi ku, kau tidak akan bisa menghadapinya. Kau tidak akan mendapatkan apa yang kau inginkan, aku akan memastikan itu!"
Helena tersenyum miring, menatap Farah sebentar sebelum dia menghela nafas dan terkekeh kecil.
"Aku tidak perduli, memangnya kau pikir aku tidak tahu semua itu? Tentu saja aku tahu, Farah. Kau mengambil kedua ginjal putriku jelas kau memenuhi keinginan seseorang yang kau anggap tinggi dan menjanjikan mu keselamatan setelah mendapatkan banyak uang. Mari kita lihat seberapa hebatnya orang itu, aku juga penasaran."
Farah menatap dalam diam, dia benar-benar tidak percaya kalau Helena justru sama sekali tidak perduli dan terlihat begitu santai dan tidak penasaran siapa orang di balik semua ini.
"Kenapa? Kau bingung karena aku tidak bertanya siapa orangnya? Tentu saja karena aku tahu kau bahkan tidak pernah bertemu langsung dengan orang itu bukan? Kau tahu kenapa dia tidak pernah muncul di hadapan mu? Tentu saja untuk mengantisipasi jika saja ini terbongkar, kau akan berada di urutan terakhir dan pertama yang akan menanggung semua ini."
__ADS_1
Bersambung.