
Pemakaman telah usia, Denise kini telah menyatu dengan tanah dengan tenang. Tubuh kecil, kurus, dan pucat itu kini sudah tertidur dengan bahagia selamanya. Meski memang meninggalkan luka, nyatanya kepergian Denise juga sama halnya dengan pengakhiran dari rasa sakit yang selama ini dia rasakan.
David, pria itu benar-benar tida mengatakan sepatah katapun sejak meninggalnya Denise. Dia sudah pasrah bagaimana Tuhan akan membawa hidupnya sekarang, dan bagiamana perjalanan yang mungkin akan menyakitkan di masa depan.
Tidak ada Velerie, tidak ada Denise, tidak akan ada masa depan bahagia bersama mereka berdua di dunia ini. Dia memang adalah seorang Ayah dari dua orang putri, namun sekarang dia benar-benar seperti seorang diri di dunia ini. Ibunya jelas selama ini hanya tahu menyalahkan David saja karena ingin posisinya terus aman. Sudah tidak ada lagi sosok yang bisa membuatnya merasa kuat, dan sekarang dia benar-benar harus menjalani kehidupan seorang diri saja.
Berbeda dengan Tuan Feto, pria itu benar-benar penuh dendam dan menjadi semakin hilang kendali. Dia mendendam kepada semua orang, menyalahkan semua orang hingga mulai muncul ide dan niat untuk memenuhi rasa haus akan balas dendam yang tidak memiliki arah sama sekali. Pertama dia menyalahkan Helena atas semua yang terjadi, dia menyalahkan ginjal yang di donor kan kepada cucunya adalah ginjal yang rusak dan tidak layak, di tambah dia juga mengalahkan Martin yang terus menekan keadaan dan membuat dirinya tak begitu fokus untuk memperhatikan cucunya sehingga cucunya meninggal di usia yang masih begitu kecil.
Helena juga datang bersama dengan Martin, mendengar kabar itu dari David tentu saja Helena segera datang untuk mengatakan jenazah Denise ke peristirahatan terakhir. Sejujurnya Helena juga merasakan kepedihan itu, dia mengingat bagaimana sakitnya mengantarkan Velerie untuk di kubur dan tidak lagi bisa melihatnya seumur hidup.
Perasaan puas melihat kesengsaraan Melisa sepertinya lenyap begitu saja saat kedua bola matanya melihat David yang terlihat begitu bersedih hingga sepatah katapun tak keluar dari bibirnya. Dia terus menangis meski tanpa suara, tapi Helena benar-benar bisa merasakan benar bagaimana hancurnya hati David sekarang ini.
"Kau baik-baik saja? Apa kau ingin melihat lebih dekat lagi?" Tanya Martin kepada Helena dengan nada bicara yang pelan. Martin tahu benar kalau Helena pasti memiliki perasaan sedih sendiri melihat apa yang terjadi, dan sudah jelas pula dia senang mengingat Velerie bukan?
__ADS_1
"Aku benar-benar tidak menyangka kalau pada akhirnya akan berakhir seperti ini, Martin. Aku pikir dia akan hidup dengan bahagia setelah perjuangan ibunya yang sampai seperti orang gila."
Martin menghela nafasnya, matanya terus menatap ke arah dimana orang sedang berkerumun di dekat makan Denise. Begini cara kehidupan mempermainkan manusia, tidak ada yang tahu pada akhirnya jalan kehidupan akan berakhir seperti apa, tidak akan ada yang tahu bahwa Tuhan selalu menyiapkan kejutan dalam setiap kehidupan. Siang dan malam datang silih bergantian, dua masa itu memiliki kelebihan dan kekurangan, memiliki kebahagiaan dan kesedihan maka kehidupan juga akan seperti itu bukan?
"Tuhan adil dalam memberikan jalan hidup, Helena. Sekarang boleh terasa menyakitkan, boleh saja kau membenci dan mengutuknya, tapi percayalah dia akan tetap memberikan apa yang kau butuhkan di banding apa yang kau inginkan. Dunia ini bukan milik kita, kita bukan siapa-siapa yang pantas menentukan nasib orang lain, dan jika dengan lancangnya manusia melakukan itu, maka pada akhirnya balasan Tuhan pasti akan terasa lebih menyakitkan. Ibunya melenyapkan Velerie karena dia adalah seorang Ibu yang ingin menyelamatkan putrinya. Sekarang Tuhan membiarkan dia merasakan bagiamana menjadi Ibunya Velerie, jadi biarkanlah dunia dan Tuhan menentukan jalan hidup seseorang, kita hanya perlu menjalani kehidupan dengan baik."
Helena tak mengatakan apapun, mungkinkah maksud dari ucapan Martin adalah untuk jangan memikirkan hal yang seharusnya tidak di lakukan? Bahkan hingga detik ini dia masih terus memikirkan untuk segera mengakhiri hidup apa bila kasus ini telah berakhir. Mungkin yang di maksud Martin adalah, manusia tidak memiliki hak untuk melakukan apa yang seharusnya tidak di lakukan terutama mengakhiri hidup yang seharusnya masih harus terus berjalan.
Beberapa saat kemudian.
Helena masih tidak ingin melangkah maju, baginya benar-benar cukup melihat dari jauh toh hanya doa yang di butuhkan Denise dan keluarganya bukan?
"Kenapa harus pergi seperti ini, nak? Ibu hanya meninggalkan mu sebentar kenapa bisa seperti ini? Ibu tidak rela, kau tidak boleh pergi meninggalkan Ibu, jangan pergi, Ibu mohon........!"
__ADS_1
Helena menghela nafasnya.
"Martin, ayi kita kembali. Aku merasa sudah tidak sanggup minat lebih dari pada ini."
Martin mengangguk paham dan setuju, segera dia mengikuti langkah kaki Helena yang mulai meninggalkan tempat itu. Tidak perlu bertanya lagi kenapa dan kemana toh dia akan tahu pada akhirnya bukan?
Kepergian Helena rupanya di sadari oleh Tuan Feto yang kini mulai memusatkan tatapan matanya dengan maksud yang sungguh tidak baik.
"Wanita itu datang, apakah dia sempat menunjukkan senyum bahagianya setelah cucu ku meninggal? Tidak, aku tidak akan membiarkan semua itu, aku tidak akan membiarkan mu hidup dengan bahagia setelah cucu ku meninggal."Gumam Tuan Feto yang terus menatap punggung Helena yang kini mulai semakin menjauh dan menghilang karena beberapa objek yang menghalangi arah matanya.
Perasaan kesal dan dendam yang begitu membabi buta benar-benar tidak akan mungkin bisa di tahan, dia butuh melupakan semua itu agar bisa merasa lega tidak perduli dengan cara apapun, dan tidak perduli akan sebesar apa resiko yang ia dapatkan nanti.
Beberapa saat kemudian.
__ADS_1
"Buatlah orang yang ada di photo itu untuk menuju ke tempat yang sudah aku siapkan. Pastikan benar tidak ada kesalahan yang kau lakukan, masalah bayaran aku akan mentransfer jika pekerjaan yang aku minta selesai dengan hasil akhir seperti yang aku inginkan." Tuan Feto menjauhkan ponselnya, kedua bola matanya kini tengah menatap photo kelurga di mana masih ada Melisa dan juga Denise di sisinya. Dia kembali membatin marah dan menyalahkan Helena yang telah membuat Melisa masuk ke dalam penjara, mencemarkan nama baiknya, bahkan dia kembali menghubungkan kematian Denise dengan dirinya. Sungguh aneh dan tidak masuk akal bukan? Tapi begini kebanyakan orang yang selalu saja berpikir menggunakan emosinya.
Bersambung.