
Martin sebentar melepaskan ciumannya, tujuannya adalah untuk mengambil posisi dan bisa dengan mudah mengatakan dress yang di gunakan Helena. Tentu saja Helena terlibat sangat malu dan tidak rela, tapi mau bagiamana lagi? Sepertinya Martin sudah tidak bisa di hentikan lagi, dia benar-benar seperti dahaga sekali yang membutuhkan air untuk melegakan dan menyegarkan tenggorokannya.
Kini Helena benar-benar hanya bisa menahan dirinya yang merasa begitu malu karena keadaannya benar-benar sangat memalukan sekali. Martin juga seperti tidak merasa. bersalah sama sekali, dia justru sudah dengan cepatnya melepaskan pakaian yang melekat di tubuhnya.
"Helena, sekarang kau benar-benar hanya milikku, kau di larang melihat melihat pria lain meskipun dia lebih tampan atau bahkan pria itu adalah aktor favorit mu."
Tak menunggu jawaban dari Helena, Martin kembali melanjutkan aksinya.
Beberapa saat kemudian.
Martin terus tersenyum menatap Helena yang kini duduk di hadapannya, bersebrangan meja dengannya. Martin benar-benar tidak bisa menahan dirinya yang ingin terus tersenyum bahagia mengingat apa yang terjadi di antara dia dan Helena. Mungkin berlebihan perasaan bahagia yang Martin rasakan, tapi kali ini dia benar tidak bisa menahan perasaan itu.
Berbeda dengan Martin, Helena justru merasa begitu risih dengan tatapan Martin. Iya, dia juga cukup gugup sekarang, tapi tidak perlu sejelas itu menunjukkannya bukan? Di tambah lagi ada Sofia.
Setelah hari itu, hubungan antara Martin dan Helena benar-benar jadi semakin dekat, begitu juga dengan Sofia. Mereka memutuskan untuk saling terbuka dalam segala hal, tentu saja sulit bagi Helena karena dia bukan orang yang semacam itu, tapi dengan sifat Martin sepertinya apapun akan terjadi bukan?
Hari ini, Nyonya Sera, alias Ibu kandung Melisa di tetapkan sebagai tersangka atas pembunuhan guru SLB, percobaan pembunuhan kepada Helena dan juga kepada Martin. Untuk sementara baru baru tengah itu yang terkuak, untuk kasus lainnya akan terus diselidiki oleh pihak berwajib.
"Orang itu juga pada akhirnya mendapatkan hasil dari perbuatannya." Ujar Martin sembari meletakkan ponselnya ke meja, menatap Helena yang sama sekali tak menunjukkan ekspresi apapun.
Farah, Melisa, Tuan Feto, dua Dokter yang membantu Farah, beberapa petugas kepolisian yang bekerja sama dengan Tuan Feto, kepala sekolah, Ibunya Melisa, pembunuh bayaran yang di sewa Ibunya Melisa, dan juga pengacara Jhon. Semua orang itu berada di dalam tempat di mana dia tidak akan bisa melihat matahari dengan benar, mereka mendapatkan hukuman yang mungkin mereka takuti. Guru Vethie Jolie telah tiada, meninggalkan putra dan Ibunya, memberikan kesedihan yang tak berujung, bahkan harus membiarkan wanita malang seperti Helena harus kehilangan putrinya. Bayangkan saja jika Melisa tidak membunuh Velerie, semua orang yang ada di sana mungkin sebagian yang tidak bersalah masih bisa hidup dengan baik, tapi mau di sesali bagiamana pun sepertinya tidak akan berguna.
"Jangan berekspresi seperti itu, kau tahu benar bahwa dunia ini adalah gudangnya misteri kan? Kau tidak bersalah sama sekali, Helen. Kau seharusnya tahu benar kalau kau adalah orang yang paling tidak boleh merasa sedih dan menyesal karena pada akhirnya mereka mendapatkan hukuman bukan?"
Helena menghela nafasnya, bagaiman mungkin dia merasa sedih karena semua yang salah mendapatkan hukuman? Dia hanya sedih membayangkan bahwa ada anak yang harus hidup tanpa Ibunya, dan ada Ibu yang kehilangan anaknya. Hanya karena sikap egois dan arogan pada akhirnya menciptakan luka ke beberapa sisi lain.
__ADS_1
"Martin, sebenarnya aku juga bersalah. Tapi aku juga tidak ingin mengakan diriku terus menerus karena aku percaya bahwa, aku akan menemukan kebahagiaan saat aku berhenti menyalahkan diri sendiri, berhenti meremehkan diri sendiri, berhenti mengasihani diri sendiri. Aku terlalu fokus dengan apa yang selama ini membuatku menderitanya, aku sampai tidak memiliki keinginan untuk melihat bagaimana orang lain menderita. Setelah aku pikirkan lagi, sebenarnya bukan hanya aku saja yang menderita dalam keluarga ku bukan? Ibuku, Ayahku, kakak dan adik ku, mereka pasti memiliki kesedihan mereka sendiri. Aku akan mencoba untuk memahami dan merelakan semua ini."
Martin tersenyum, mengangguk dengan cepat seraya meraih tangan Helena untuk dia genggam erat.
"Ini baru Helena yang sebenarnya."
Helena dan Martin saling menatap dengan senyuman yang begitu hangat dan manis.
"Ehem!" Pak Ken berdehem untuk menghentikan sepasang manusia yang kini benar-benar tengah di mabuk cinta sampai lupa kalau sedang berada di tempat kerja.
Segera Helena menjauhkan tangannya, membenahi ekspres wajahnya yang kini juga terlihat canggung.
"Pengacara Martin, Klien mu sudah antri sekali loh....."
"Jangan berekspresi seperti itu, salahkan saja dirimu yang sekarang sangat terkenal dan kinerja mu yang sangat bagus!" Pak Ken tersenyum kepada Martin, mengacungkan Ibu jarinya, lalu mengangkat tinggi-tinggi kepalan tangannya untuk menyemangati Martin.
Helena menghela nafas, dia bangkit dari posisinya setelah Pak Ken meninggalkan ruangan Martin.
"Kau bekerja saja dulu, aku dan Sofia akan pergi untuk jalan-jalan, nanti aku akan membawa Sofia untuk pulang ke apartemen ku. Nanti kalau sudah selesai kau bisa jemput dia di sana, oke?"
Martin menghela nafasnya, merengut seperti anak kecil saja.
"Berikan aku ciuman!"
"Apa?"
__ADS_1
"Ayo cepat! Aku butuh energi loh sayang....."
Helena menghela nafas, lalu segera dia membungkuk untuk mencium pipin Martin.
"Sudah, aku harus pergi!"
Setelah mengatakan itu Helena benar-benar meninggalkan ruangan kerja Martin dan menuju ke tepat di mana Sofia sedang bermain sekarang.
Helena dan Sofia kini berada di halaman rumah yang di gunakan Martin juga kawan-kawannya untuk di jadikan firma hukum. Helena benar-benar inga bagaimana perasaannya saat pertama kali datang ke sana, cukup menyeramkan karena bangunan itu seperti bangunan tua. Tapi sekarang, bangunan itu tampak hebat dan juga mahal berkat kerja keras mereka semua. Helena merasa kesedihan yang dia alami bermanfaat untuk orang lain, karena sejak menangani kasus Helena, firma hukum yang hampir tidak di kenal masyarakat kini masuk ke jajaran favorit di mana jelas keuangan mereka membaik dan semakin baik setiap harinya.
"Helena?"
Helena membalikkan badannya begitu mendengar namanya di sebut, dan suara itu benar-benar tidak asing di telinganya.
"Ibu?"
Helena menatap Ibunya yang sepertinya benar-benar tidak sengaja bertemu dengannya di sana.
"Ada apa? Kenapa Ibu datang kemari?"
Ibu Helena terdiam sebentar, dia terus memperhatikan wajah Helena dan bersyukur sekali karena pada akhirnya Helena terlihat baik sekarang.
"Ibu, Ibu memutuskan untuk bercerai."
Bersambung.
__ADS_1