Why?

Why?
Pria Baik


__ADS_3

Di rumah sakit.


Martin menggenggam tangan Helena, terus menatapnya sembari berdoa agar Helena cepat pulih dan kembali seperti sebelumnya, atau akan lebih baik jika Helena menjadi lebih baik dari pada sebelumnya. Ibunya Helena juga masih berada di sana, menangis tanpa suara menyesali apa yang terjadi.


Sejak kecil dia menyadari benar bagiamana Helena begitu berbeda dengan kakak kakaknya yang sangat suka bicara dan bertengkar karena memperebutkan mainan atau bahkan makanan. Helena hanya akan diam, melihat saja dan menjauh tanpa bicara. Setelah melahirkan Helena dia tidak bekerja sama sekali karena mertuanya sudah tidak mau membantu untuk menjaga anaknya. Hari demi hari hanya bisa dia lewati dengan pasrah apalagi tak lama hamil Kath. Helena sering mendapatkan ketidak adilan, itu semua karena suaminya yang tidak ingin menafkahi Helena, dia juga sama sekali tak memperhatikan Helena, mendiamkan saja Helena terserah dia akan melakukan apa. Ibunya Helena hanya bisa diam-diam melakukan sesuatu untuk Helena, mulai dari bekal makan yang berbeda dan lainnya yang bisa dia lakukan, tapi nyatanya Helena masih tak bisa merasakannya.


"Bangunlah, aku benar-benar tidak bisa tenang. Aku takut sekali, aku benar-benar takut, dan jika kau memang benar-benar butuh waktu istirahat, aku akan menunggumu baik-baik, oke?"


Ibunya Helena menatap Martin yang terlihat begitu tulus saat mengatakan kalimat itu. Dia melihat bagaimana Martin menatap Helena dengan begitu lembut, sorot matanya yang terlihat benar-benar mengkhawatirkan Helena membuat Ibunya Helena merasa lega. Setidaknya ada seseorang yang benar-benar bisa memiliki perasaan tulus kepada putrinya yang malang itu. Tidak seperti dirinya, keluarganya yang bahkan seperti orang asing bagi Helena.


"Nak Martin, aku akan menunggu di luar, aku harus menghubungi orang rumah supaya mereka tidak khawatir."


Martin mengangguk setuju, segera Ibunya Helena keluar dari sana seperti yang dia katakan.


Begitu Ibunya Helena keluar, Martin kembali menatap Helena dan mencium tangan Helena yang sejak tadi dia genggam erat. Martin benar-benar merasa begitu sedih dengan semua yang terjadi kepada Helena. Dulu dia menganggap hidupnya adalah hidup dengan nasib yang menyedihkan, tapi ternyata dia salah. Dia terlalu mengasihani diri sendiri, dia terlalu berlebihan karena nyatanya masih banyak manusia dengan nasib yang jauh lebih menyakitkan darinya.


Martin menghela nafasnya, matanya sudah benar-benar merah dan perih serta panas karena hampir dua hari tak tidur sama sekali. Dia meletakkan kepalanya di pinggiran brankar, tangannya masih menggenggam erat tangan Helena. Perlahan Martin mulai tertidur dengan nyenyak.


Beberapa jam kemudian.


Martin perlahan membuka matanya, tersadar ternyata ini sudah malam dan dia juga sudah tidur cukup lama. Martin kembali melihat ke arah Helena, dan ternyata dia sudah bangun entah sejak kapan.


"Helena? Kau sudah bangun? Sejak kapan?" Martin bangkit untuk bisa lebih dekat dengan Helena dan menatanya sungguh-sungguh memastikan benar Helena tidak terlihat kesakitan sekali.

__ADS_1


"Berlebihan sekali, aku masih hidup, dan aku bangun sekitar tiga puluh menit yang lalu." Jawab Helena dengan suaranya yang terdengar lirih.


Martin menghela nafas lega, sekarang dia benar-benar yakin kalau Helena sudah membaik.


"Kenapa tidak langsung membangunkan ku?" Protes Martin.


Helena memaksakan senyumnya, Martin terlihat sangat pulas tadi, bahkan Martin sampai mendengkur cukup kuat yang menandakan dia pasti sangat kelelahan. Entah hanya dugaannya saja atau bukan, yang pasti Helena yakin benar Martin adalah orang yang sangat khawatir saat dia menghilang, dan bisa jadi selama Helena menghilang Martin benar-benar tidak berhenti untuk mencari.


"Kau terus berada di sini, bagaimana dengan Sofia?"


Martin terdiam sebentar.


"Aku titipkan dia dengan pak Han, dia membawa pulang Sofia agar bisa bermain dengan anak bungsunya."


"Martin, aku baik-baik saja di sini. Kembalilah dulu dan temui Sofia, dia pasti mencari mu terus."


Martin menghela nafas pasrah, tentu saja dia tidak bisa mengabaikan putrinya.


"Baiklah, aku akan menjemput Sofia. Aku akan mengajak dia kemari, apa tidak apa-apa? Ah, kau tenang saja aku tidak akan membiarkan Sofia mendekatimu dulu. Aku hanya ingin menjagamu dan juga menjaga dia bersamaan."


Helena tersenyum, lalu mengangguk setuju. Sofia memang bukan anaknya, tapi sifatnya yang sangat manja dan juga centil membuat Helena merasa terhibur. Apalagi saat kamar Velerie di gunakan Sofia, rasanya apartemen tidak sesepi yang dia rasakan sebelumnya.


"Baiklah, aku pergi dulu sebentar. Jika ada sesuatu cepat hubungi aku ya? Ini ponselmu." Ucap Martin seraya menyerahkan ponsel Helena.

__ADS_1


"Baiklah, terimakasih."


Martin sudah berbalik badan, tapi dia kembali ke posisi awal, menatap Helena dengan tatapan ragu-ragu yang membuat Helena bingung. Dengan cepat Martin mendekatkan wajahnya, mencium pipi Helena dan kabur begitu saja dengan cepat.


"Apa-apaan dia?!" Gumam Helena, tapi setelah berucap seperti itu dia tersenyum. Rasanya dia benar-benar tak bisa marah dengan pria sebaik Martin.


Tak lama setelah Martin pergi, Ibunya Helena masuk ke dalam untuk menemani Helena. Tentu saja Helena terkejut karena tidak menyangka kalau Ibunya akan datang, atau sebenarnya dia memang ada sejak awal dan menunggu saja di luar karena di dalam ada Martin?


"Bagiamana keadaanmu, Helen?" Tanya Bunga Helena segala mendekati Helena, duduk di tempat Martin sebelumnya berada untuk menunggu Helena.


"Ibu sejak tadi berada di luar?" Tanya Helena yang enggan menjawab pertanyaan Ibunya. Memang terdengar biasa saja dan wajar jika seorang Ibu menanyakan kabar putrinya, tapi Helena terlalu tidak biasa jadi memilih untuk tidak membahas pertanyaan Ibunya tadi.


Ibunya Helena tersenyum lalu mengangguk. Sepertinya Helena menghindari pertanyaan itu jadi dia benar-benar tidak akan menanyakan itu lagi.


"Ibu melihat Martin juga tidur, dia benar-benar kelelahan jadi Ibu duduk di luar dan menunggu saja."


Ibunya Helena menatap wajah putrinya yang masih terlihat pucat dengan tatapan sedih. Sungguh dia ingin memeluk Helena dan menyalurkan perasaannya sebagai seorang Ibu, tapi dia benar-benar tidak memiliki keberanian sebesar itu mengingat bagaimana Helena membatasi diri dengannya.


"Helen, semua yang terjadi, kebenaran yang memalukan ini, Ibu benar-benar minta maaf padamu, Helen. Ibu tahu semua rasa sakit yang kau rasakan juga sebagian Ibu yang memberikannya. Ini pasti sangat menyakitkan untukku, tapi demi Tuhan Ibu tidak ingin kau terluka sampai sepeti ini."


Helena tersenyum kelu mendengar apa yang di katakan Ibunya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2