
Perlahan Martin merebahkan tubuh Sofia ke tempat tidur, masih tinggal di hotel, dan rencananya mereka akan kembali besok pagi pagi sekali. Setelah itu Martin berjalan ke depan di mana Helena menunggunya untuk melihat isi USB itu, yah untungnya Martin membawa laptop juga.
"Maaf membuatmu menunggu lama." Ucap Martin seraya berjala menuju Helena sembari membawa laptopnya.
"Tidak, kau bisa santai saja. Lagi pula kamar kita bersebelahan." Ujar Helena yang memang tidak masalah dengan itu.
Martin kini sudah duduk di sebelah Helena, membuka laptopnya dan mempersiapkan segalanya untuk melihat isi USB itu.
Video rekaman mulai di putar, di sana guru Vethie Jolie terlihat sangat tertekan dan sedih, dari latar yang terekam dalam video sepertinya video itu di ambil di rumah orang tuanya.
"Halo, namaku Vethie Jolie. Aku adalah seorang guru dari sekolah SLB Chetra. Aku membuat video ini karena hari ini aku resmi resign dari pekerjaan ku karena sebuah paksaan yang tak bisa aku tolak. Aku menerima uang suap sebanyak dua ratus juga yah di berikan secara transfer, lalu seratus juga secara tunai. Aku sudah menolaknya, aku ingin memenuhi kewajibanku agar bisa memberikan saksi mata atas peristiwa salah satu murid ku yang di tabrak hingga tewas. Tapi, aku mendapatkan ancaman bahwa jika aku tidak tutup mulut dan pergi jauh dari sini, dia akan mencelakai Ibu dan anakku. Aku benar-benar tidak berdaya, hatiku hancur dan sedih, aku juga merasa marah dan kecewa kepada diriku sendiri karena tidak dapat melakukan apapun. Entah mengapa aku merasa bahwa pada akhirnya aku tidak akan selamat kemanapun aku pergi, jadi mulai hari ini juga aku memutuskan untuk memindahkan tempat tinggal Ibu dan anakku di dekat kantor polisi, dan aku akan tinggal di tempat lain." Guru Vethie Jolie menyeka air matanya yang jatuh karena dia benar-benar sangat sulit mengendalikan tekanan yang begitu besar di hatinya.
"Aku, juga benar-benar meminta maaf kepada anda, Nyonya Helena. Aku tahu anda pasti kecewa, tapi percayalah aku juga tidak berdaya sama sekali. Tapi, lewat video ini aku akan mengatakan apa yang aku lihat waktu itu. Aku bersumpah demi Tuhan, demi keluargaku, demi cintaku kepada sang pemilik kehidupan bahwa apa yang aku katakan adalah benar." Guru Vethie Jolie terdiam sebentar berusaha benar-benar sekuat tenaga untuk menguatkan serta meyakinkan dirinya.
"Waktu itu, aku melihat samar orang yang mengendarai mobil mewah itu. Walaupun memang kacanya gelap, tapi aku masih bisa melihatnya. Rambut panjang, dan jelas itu adalah wanita. Aku tidak tahu apakah kesaksian ini akan berguna atau tidak, tapi aku harap kasus ini berakhir dengan baik sesuai dengan yang seharusnya."
Video berakhir.
Helena terdiam dengan tatapan mata yang terlihat begitu syok dan marah. Wanita? Apakah penabrak itu sebenarnya adalah Melisa sehingga kedua orang y begitu melindungi?
__ADS_1
Tidak,! Helena menggelengkan kepalanya sembari menangis sedih. Bagaimana jika itu benar? Bagaimana dia akan melampiaskan kemarahannya karena jika membunuh Melisa dia pasti tidak akan merasa itu cukup.
" Tidak, aku tidak tahu! Aku, bagaimana aku akan menghukum wanita itu? Kematian jelas itu termasuk hukuman ringan, ah! Aku frustasi hanya karena memikirkan binatang itu!"
Grep!
Martin meraih tubuh Helena, membawanya masuk ke dalam pelukannya, membiarkan saja Helena menangis sampai dia merasa puas dan lega. Kesaksian yang diberikan guru Vethie Jolie benar-benar memberikan banyak sekali berita penting. Mulai dari suap, juga pelaku yang kini di palsukan jelas akan membuatnya mendapatkan apa yang di inginkan oleh Martin.
Menggiring opini masyarakat dan membuat mereka mempertanyakan kemampuan Pengacara Jhon setelah ini pasti akan sangat mudah bukan? Walaupun ini baru permulaan, tapi Martin benar-benar cukup puas hanya dengan membayangkannya saja.
"Tenanglah, kita masih belum bisa membuatnya benar-benar di anggap pelaku karena kita belum memiliki bukti sama sekali yang bisa membuatnya menjadi pelakunya bukan? Kau harus tetap tegar, bagaimanapun semua ini hanya kau yang bisa, aku hanya sedikit membantu saja." Pinta Martin sembari mengeratkan pelukannya karena tubuh Helena benar-benar gemetar hebat.
Beberapa saat kemudian.
"Aku akan melakukan itu, aku akan melakukannya, Martin." Ucap Helena dengan yakin.
Martin mengeryitkan dahi, menatap Helena dengan mimik penuh tanya.
"Melakukan apa?"
__ADS_1
"Apapun, aku akan melakukan apapun untuk menjadikan orang yang bersalah menjadi tersangka. Maafkan aku karena sok pintar, tapi kali ini aku akan melakukanya sendiri, Martin."
Martin membela nafasnya, lalu mengangguk untuk menyetujui apa yang di katakan Helena. Tidak ada gunanya dia mencegah, memang benar dia merasa khawatir akan terjadi sesuatu dengan Helena nanti. Tapi, Martin juga meyakini satu hal yaitu, Helena tidak akan membiarkan dirinya mati begitu saja sebelum dia benar-benar mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Baiklah, berjuanglah dengan cara mu, aku juga akan berjuang sekuat tenaga untuk membantumu. Pengacara Jhon, Farah, kepala sekolah, aku akan memantau mereka untukmu."
Ucapan Martin barusan benar-benar membuat Helena merasa tenaganya serta tekadnya berkumpul menjadi satu seolah tak mudah untuk di lawan. Kali ini jelas Helena akan menghadapi orang kaya yang selalu mengutamakan diri sendiri, jadi Helena haus benar-benar cerdas menghadapi orang seperti mereka.
"Namun, jangan pernah lupa kalau kau juga seorang manusia. Kau harus tetap menjaga kesehatan, jangan lupakan itu, jadikan kesehatanmu adalah prioritas utamamu. Jangan mengeluh dan mematokan hidupmu hanya untuk satu tujuan lalu mengakhiri hidup demi menemui putrimu, sungguh itu adalah keputusan yang paling bodoh dan salah."
Helena memaksakan senyumnya, sial! dia benar-benar kesulitan menjaga hatinya agar tidak merasakan sesuatu yang aneh setiap kali Martin begitu hebat dalam berbicara dan bertindak. Padahal selama ini dia benar-benar terus berdoa dan berharap kalau saja dia sudah berhasil mendapatkan keadilan untuk Velerie, dia benar-benar ingin mengakhiri hidupnya yang di rasa tak ada gunanya. Tapi Martin seperti secara perlahan mengubah hatinya, mendorong dan menawarkan pilihan lain seolah meminta Helena untuk melihat dunia dengan cara yang berbeda dan kebahagiaan yang berbeda pula.
"Kenapa kau mengatakan kalimat yang lagi-lagi membuat orang lain merasa goyah?"
Martin terdiam sebentar sembari menatap Helena.
"Orang lain? Kalau itu orang lain aku tidak akan pernah mengatakannya."
Helena dan Martin kini terdiam akan menatap.
__ADS_1
Bersambung.