
Farah keluar dari ruang sidang, dan di sanalah semua wartawan, bahkan orang biasa berkumpul menyorakinya. Tentu saja tidak ada kata kebal, dia masih merasa sakit dan sedih tapi dia benar-benar tidak bisa melakukan apapun untuk membela dirinya. Dia di jatuhi hukuman kurungan yang cukup lama, hingga lebih dari sepuluh tahun. Bukan hanya menyalahgunakan gelarnya sebagai seorang Dokter, dia juga terjerat kasus suap kepada asisten Dokter dan perawat yang waktu itu juga membantunya dalam membedah Velerie dan mengambil ginjalnya. Dia juga di jerat kasus dengan kasus pencurian organ manusia. Tiga pasal sudah melilitnya, dan bisa bayangkan jika aksinya bersama dengan kakak iparnya juga di laporkan? Untungnya hingga kini Airi masih tidak melakukan apapun, kabar dia juga tidak ada yang tahu hingga kini.
Penyambutan masyarakat benar-benar tidak kalah heboh seperti saat Melisa kemarin. Melisa mendapatkan lemparan telur dan tomat busuk, begitu juga dengan Farah.
Helena terdiam di ujung sana, mengapa dan melihat baik-baik satu persatu orang yang telah berkonspirasi dalam kematian Velerie mendapatkan bayarannya. Puas? Tidak! dia tidak merasakan itu sama sekali meski dia merasa sedikit lega dan senang. Mungkin karena Helen tahu apa yang dia lakukan ini tidak akan mengembalikan Velerie padanya, tapi begini juga lebih baik agar manusia yang tidak menyadari jika sebuah nyawa sangatlah berharga, dan manusia lain tidak boleh merebut kuasa Tuhan dengan mengakhiri hidup orang lain.
"Farah, Farah, semua jadi seperti ini, Ibu benar-benar sedih sekali." Ucap Ibunya Farah yang berada di sana. Entah separah apa sakit yang di derita oleh Ibunya Farah hingga ia duduk di kursi roda dan terlihat begitu menahan sakit. Sebenarnya Helena juga merasa Iba, tapi maaf sekali karena bagi Helena salah tetap saja salah jadi salah juga harus mendapatkan hukuman sesuai dengan apa yang di lakukan.
Ini adalah manusia sejati, di lain sisi Farah adakah adik yang jahat karena diam-diam menjadi diri dalam hubungan rumah tangga kakaknya sendiri, melakukan perbuatan keji dengan mengeluarkan ginjal Velerie demi keuntungannya sendiri, tapi Farah juga adalah Kakak, Bibi, dan anak yang baik di mata keluarganya.
Melisa, wanita super egois itu juga sama. Dia adalah pengkhianat pada persahabatan mereka, dia pembunuh di mata Helena, tapi dia adalah Ibu yang baik untuk Denise. Dia melakukan apapun untuk putrinya, dia begitu mencintai putrinya hingga tak memperdulikan sebesar apa resiko yang akan dia dapatkan.
Helena menghela nafasnya.
Langkah kakinya kini mulai tergerak meninggalkan gedung pengadilan, menuju apartemennya. Dia sudah mengambil cuti kerja tiga hari ini, dan besok harus kembali bekerja jadi dia tidak boleh membuang waktu untuk memenangkan diri dari kekacauan yang terjadi.
Hari ini Helena tak menggunakan mobil, itu semua karena pagi-pagi tadi Martin menjemput untuk bersama pergi ke pengadilan, tapi karena ada urusan yang mendadak dan harus segera dia selesaikan, maka Martin harus meninggalkan Helena sendiri saat waktunya mereka kembali setelah sidang untuk Farah selesai. Helena terus menjalankan kakinya agar segera sampai ke halte bus, tapi tanpa sadar ada sebuah mobil yang mengincar Helena dan tinggal sekitar dua meter lagi mobil itu akan menabrak Helena, sebuah tangan menarik Helena dan membuat mereka menjauh tapi mereka kompak terjatuh bersama.
__ADS_1
"Ah!" Pekik mereka berdua.
Helena terkejut sekali melihat mobil yang hampir menabraknya dari belakang melesat cepat meninggalkan mereka.
"Ah......!"
Helena tersentak mendengar suara wanita yang menolongnya memekik kesakitan sembari memegangi perutnya yang terasa sakit.
"Airi?" Helena mengeryit sebelum benar-benar memastikan bahwa wanita itu adalah Airi, kakak kandung Farah yang usianya hanya dua tahun lebih tua di banding Farah dan juga Helena.
Segera Helena membatu Airi untuk bangkit, dan menghentikan sebuah taksi. Sebenarnya Helena juga merasakan sakit di punggungnya, juga sikutnya berdarah tapi semua itu tidak dia rasakan saat melihat bagaimana Airi kesakitan hingga wajahnya terlihat pucat.
"Benturan yang cukup kuat membuat pasien mengalami kontraksi, lagi pula sudah waktunya juga untuk melahirkan, jadi kami menyarankan untuk melakukan operasi sesar karena beberapa alasan tentang kondisi pasien yang tidak mendukung untuk melahirkan normal."
Helena terdiam sebentar, apa yang harus dia lakukan sekarang? Dia tidak mungkin menjadi wali bagi Airi bukan? Dia takut akan di salahkan jika terjadi sesuatu dengan Airi. Tapi, mengingat bagaimana Airi memohon padanya untuk tidak memberitahu kepada keluarganya, terutama suami, Helena benar-benar sangat dilema. Setelah cukup lama Helena berpikir, akhirnya Helena menandatangani surat perjanjian yang di sediakan ruang sakur sebagai salah satu prosedur wajib sebelum menjalankan tugasnya dan bertindak dengan mengutamakan keselamatan pasien.
Dia jam kemudian.
__ADS_1
Airi tersenyum menatap Helena yang kini juga tersenyum menatapnya. Airi benar-benar terlihat bahagia saat dia bisa melihat secara langsung putranya yang sudah lahir dengan selamat meski sempat gak menangis sesaat setelah di lahirkan. Sebenarnya Helena sendiri merasa agak canggung dan tidak nyaman karena paham benar bahwa hubungan Airi dengan suami juga sebagai Farah pasti hancur karena dia menyebarkan video itu bukan? Meskipun tidak ada bukti yang mengatakan jika itu Helena, tetap saja Helena merasa bersalah selain.
"Airi, apa benar-benar kau tidak ingin menghubungi suamimu? Lucas juga harus melihat anaknya bukan?"
Airi menyeka air matanya yang luruh karena bahagia sekali bisa memeluk putranya secara langsung.
"Tidak, sudah beberapa waktu aku mencoba menghindar. Aku sadar bahwa sebenarnya hidupku akan baik-baik saja seandainya aku menjauh dari mereka semua. Aku akan mengurus anakku sendiri, membesarkan dia meksipun aku tahu ini akan sangat sulit untuk kami berdua."
Helena memaksakan senyumnya. Tatapan mata Airi yang penuh cinta kasih ketika menatap putranya, ucapannya yang begitu meyakinkan seolah mengingatkan Helena tentang dirinya begitu melahirkan Velerie. Saat itu semua orang terus memperhatikan Velerie seperti membatin keheranan dengan wajah Velerie. Dia benar-benar sedih dan terpukul, tapi pada akhirnya dia memilih jalan yang paling benar, dia membesarkan Velerie tanpa pernah mengeluh menghadapi tingkah polah Velerie yang begitu sulit untuk di kontrol.
"Kau yakin? Kau tahu kan segalanya butuh uang? Memiliki bayi yang masih merah artinya kau membutuhkan orang lain untuk membantumu setidaknya untuk biaya hidup kan?" Tanya Helena.
Airi tersenyum pasrah.
"Aku tahu, aku sudah menyiapkan tabungan untuk melahirkan dari jauh hari, juga biaya hidup tiga tahun kedepannya, tentu harus mengunakan mode hemat. Aku tahu semuanya akan sulit, meskipun kesulitannya masih tidak jelas, aku yakin kau akan mampu menghadapi ini semua berdua dengan putraku."
Helena tersenyum.
__ADS_1
"Kau bisa minta bantuan dariku, aku akan membantumu sebisa ku."
Bersambung.