
Setelah Sofia benar-benar masuk ke dalam kamar, Helena bangkit dari duduknya, berjalan beberapa langkah dan berhenti saat dia bisa dengan jelas melihat bagaimana sorot mata Yuri, dan mimik wajahnya yang begitu tidak karuan.
"Kau seharusnya menghabiskan waktu mu untuk bermain bersama anak mu, kau seharusnya mencoba untuk mendekatkan diri dengannya. Berhentilah menyalahkan orang lain, kau benar-benar memalukan karena tidak berani mengakui kesalahan yang kau lakukan hingga situasi tidak lagi mendukungmu. Jangan lupa kalau kau sendiri yang membuat Sofia takut padamu, perlahan melupakan mu, dia hanyalah anak-anak yang butuh kau peluk dan lindungi, bukan untuk kau manfaatkan. Dari cara suami mu memperlakukan mu, aku yakin sekali hidup mu tidak bahagia, tapi kalau aku boleh memberi saran padamu, hiduplah dengan baik, jangan buang sesuatu yang sebenarnya sangat berharga yaitu, harga diri mu."
Ucapan Helena itu benar-benar begitu membekas, seolah terus terngiang di telinga Yuri. Sekarang dia sudah berada di rumah, dia membawa hatinya yang sedih ke rumah itu, dan seperti yang dia batin kan, pada akhirnya dia juga hanya akan mendapatkan luka yang semakin dalam.
Yuri tersenyum pahit karena begitu sampai di rumah, dia justru harus melhat suaminya dan juga asisten sekaligus kekasihnya itu duduk berduaan, dan wanita itu bergelayut manja sementara Win terlihat tidak keberatan. Sungguh Yuri tidak mengerti kenapa dia masih saja tidak bisa lepas dari Win, padahal Win sudah memintanya pergi berkali-kali bukan?
"Dari mana saja kau? Pagi-pagi kau sudah pergi ala sedang menemui mantan suami mu yang baru saja jadi orang kaya?" Tanya Win seraya bangkit dari posisinya, berjalan mendekati Yuri lalu meraih tangannya untuk dia cengkram cukup kuat.
"Ah.....!" Yuri memekik sakit tapi dia juga tidak memiliki keberanian untuk melawan atau mencoba untuk melepaskan tangannya juga tidak.
"Jangan macam-macam dengan mu, Yuri! Kau seharusnya tahu bagaimana kalau aku sudah marah kan?!"
Yuri kembali tersenyum, tapi senyum di bibirnya itu di barengi oleh air mata yang jatuh dari kedua bola mata indahnya. Yuri sekarang sadar benar bahwa selama ini dia telah di percaya oleh harapannya sendiri, dia terlalu nyenyak bermimpi sehingga saat dia tersadar dari mimpi kenyataan itu terasa benar-benar sangat menyakitkan.
__ADS_1
"Kau ini bodoh atau apa?! Aku tanya dari mana saja kau, hah?!" Win semakin mengeratkan cengkraman tangannya, menatap Yuri semakin tajam, sorot matanya yang menakutkan itu seolah ingin menelan Yuri dengan kasar membuat Yuri semakin larut dalam penyesalan karena telah melangkahkan kakinya ke arah yang salah.
"Aku sungguh tidak mengerti apa yang sebenarnya kau inginkan, Win. Baiklah, aku juga sudah cukup lelah, aku tidak bisa menjawab pertanyaan mu lagi karena aku benar-benar butuh waktu untuk menyendiri sekarang." Yuri mencoba untuk melepaskan tangannya, tapi Win justru semakin kuat mencengkram lengan Yuri hingga Yuri kembali mengaduh tak tahan dengan rasa sakit dari cengkraman Win yang terasa berkedut ngilu.
"Beraninya kau mengabaikan ku?! Kau pikir kau siapa?! Kau hanyalah wanita menyedihkan yang aku pungut, kau hanyalah wanita yang tidak di inginkan siapapun, kenapa kau bertingkah seolah kau adalah Nyonya?!"
Yuri benar-benar tidak tahan lagi, sakit di pergelangan tangannya tentu saja masih bisa dia tahan, tapi sakit yang begitu menumpuk di hatinya benar-benar sudah tidak sanggup lagi menerima kasihan lagi. Yuri sudah akan menyerah dan lebih baik kalau dia pergi untuk menemui Sofia, dan hidup bersama Sofia kembali.
"Sakit, aku sedang sangat kesakitan sekarang, Win. Sekarang bukankah ada kekasih mu? Semalam kau mabuk cukup parah pasti tidak saru kan? Datang lah kepada kekasih mu saja Win. Waktu mu benar-benar akan membahagiakan jika dihabiskan bersama dengannya."
"Kau pasti batu saja menemui manusia keparat, sialan itu iya kan?!"
Yuri membuang nafas kasarnya, sungguh dia ingin menangis sejadi-jadinya, dia ingin membenturkan kepalanya bila perlu sampai mati saja. Kenapa selalu saja dia salah di mata Win? Sebenarnya apa arti harta jika hidupnya seperti di neraka.
"Win, apapun yang aku katakan kau juga tidak akan mempercayainya kan? Kau tidak akan mempercayai jawaban ku karena di mata mu hanya kau dan tuduhan mu yang akan selalu benar. Aku benar-benar lelah Win, aku lelah dengan hidup ku yang seperti ini. Sekarang aku akan melakukan apa yang sering kau katakan pada ku, aku akan pergi dari sini."
__ADS_1
Win mengeryitkan dahinya, lalu tertawa terbahak-bahak selang beberapa detik setelah itu.
"Pergi dari rumah ini? Kau sedang bercanda hah?! Kau keluar dari rumah ini memang mau pikir kau bisa? Kau tidak memiliki tempat tinggal, kau tidak akan memiliki apapun karena semua yang kau terima dan gunakan hanyalah pinjaman saja. Tentu kau harus mengembalikan semua itu padaku, barulah kau bisa pergi dari sini."
Yuri terdiam sebentar, hatinya membatin, jadi begitu ya arti Yuri bagi Win? Padahal selama ini Yuri benar-benar terus berharap Win apalah pelabuhan cintanya, dia juga terus berdoa agar Win perlahan mengubah sifat dan sikapnya agar bisa perlahan menjadi lebih baik. Tidak, dia sudah benar-benar salah tentang itu, dia memang seharusnya sejak awal tidak menuju Win yang menyembunyikan jutaan luka di balik sikap manis yang awalnya dia tunjukan.
"Jadi begitu ya?" Yuri tersenyum, tapi tidak bisa di bohongi kalau dia memang terlihat sangat kecewa oleh ucapan Win.
"Kenapa? Kau tidak siap kehilangan semua itu? Tahu, tentu saja aku tahu, tentu saja kau tidak siap, wanita seperti mu hanya perlu di iming-imingi sedikit saja uang langsung saja menganggap yang adalah Tuhan."
Yuri menghela nafasnya.
"Win, harus ku akui dulu aku jatuh hati pada mu karena kau adalah pria yang manis, dan juga tanggap dengan situasi. Aku juga tidak menampik kalau aku buta karena semua materi yang kau berikan, aku merasa ketergantungan, semua itu benar sekali, tapi aku sudah sangat lelah menghadapi sulitnya hidup bersama dengan mu. Lihatlah kekasih mu itu, Win. Dia sangat cantik, tubuhnya juga masih bagus, aku yakin kau cukup puas memiliki dia. Aku yang banyak kekurangan ini, aku yang tubuhnya memiliki bagian yang kendur tentu tidak akan pantas jika di sandingkan dengan kekasih mu. Aku cukup tahu diri, toh selama kau bahagia dan puas dengan apa yang kau punya tentu saja aku harus ikut bahagia kan?"
"Yuri!"
__ADS_1
Bersambung.