
Airi terdiam menatap bayinya yang kini tertidur pulas setelah meminum asi darinya. Sudah beberapa hari setelah dia pergi dari rumah, menjauhi keluarga dan juga suaminya sendiri, sekarang dia akan berada di sana sampai besok siang baru dia akan pergi dari rumah sakit. Biaya rumah sakit masih menggunakan uang Helena, tapi Airi akan segera membayar kembali uang itu segera setelah Helena mengirimkan nomor rekening miliknya.
"Untungnya aku memiliki empat tahun waktu berusaha untuk hamil sehingga memiliki tabungan untuk hari ini, aku benar-benar lega sekali meski empat tahun sebelum hamil aku benar-benar kacau dan sedih, tapi beginilah rencana Tuhan yang begitu indah." Airi kini tersenyum menatap putranya, menghela nafas lega karena sekarang dia benar-benar seperti memiliki alasan untuk terus bertahan hidup. Untuk sementara watu tentu saja dia akan merasa kesulitan karena harus menahan sakit dan mengurus anaknya sendiri. Tapi apapun itu Airi benar-benar akan berjuang semampunya.
"Kau sudah bangun?" Tanya Helena yang baru saja datang, dia membawa buah-buahan dan juga sup telur untuk Airi. Memang benar rumah sakit pasti sudah menyiapkan sarapan, tapi entah mengapa Helena benar-benar ingin membawakan sup telur untuk Airi.
Airi tersenyum kepada Helena, dia juga tersenyum saat pria di belakang Helena yang tak lain adalah Martin tersenyum dengan maksud yang sopan dan menyapa.
"Helena? Aku sudah bangun sejak subuh tadi. Kau datang dengan pengacara mu, apa ada yang ingin kau tahu dariku?" Tanya Airi menatap Helena yang jelas dia sudah sangat paham bagaimana Helena selama ini. Helena sama sekali tak pernah terlibat hubungan dengan pria sama sekali sejak dia bercerai dari David. Helena tak memiliki niat dengan pria, apalagi mengajak pria itu ikut dengannya, jadi kali ini kedatangan Martin juga pasti ada maksud tersendiri bukan?
Helena tersenyum seraya meletakkan buah yang dia bawa begitu juga degan bubur yang berada di dalam mangkuk kemasan.
'Iya, dia ingin bertanya beberapa hal tentang mobil yang hampir menabrak ku."
Airi tersenyum paham, sebenarnya memang dia tidak terlaku memperhatikan benar hingga dia juga tidak ingat dengan jelas karena kejadian itu begitu cepat.
"Nyonya, sekecil apapun informasi yang anda berikan, itu sungguh sangat penting bagi kami. Anda tahu kan kalau beberapa sakti terakhir ini Helena memang sedang di sorot masyarakat karena kematian putrinya yang tidak biasa? Mobil yang hampir menabrak Helena sudah pasti sengaja melakukan itu."
__ADS_1
Airi mendengarkan dengan seksama, dia menjelaskan apa yang dia ingat tentang kejadian itu mulai dari bagaimana dia bisa berada di sana, dan sampai dia ke rumah sakit untuk melahirkan.
Martin tentu paham bahwa tidak banyak informasi yang dia dapatkan dari Airi, tapi memegangi siapa pelakunya tentu saja sudah ada yang dia pikirkan. Pengacara Jhon, pria itu tentu saja tidak akan mungkin mengambil resiko dengan mencelakai Helena karena dia tahu benar bahwa Martin akan sangat mudah untuk lebih menghancurkan dirinya. Satu-satunya yang mungkin adalah istrinya Tuan Feto. Kenapa? Karena Tian Feto jelas tidak akan mencelakai Helena karena dia tahu benar jika terjadi sesuatu dengan Helena dia akan di salahkan apalagi keputusan sidang sudah di tetapkan beberapa hari yang lalu. Istrinya Tuan Feto adalah orang yang mudah terbawa emosi, dia memikirkan dan melakukan apa yang dia inginkan bahkan tidak segan melawan keluarganya sendiri.
"Baiklah, itu sudah cukup, kau bisa istirahat." Ucap Martin sebelum meninggalkan ruangan Airi.
"Bagaimana menurut mu?" Tanya Helena, tentunya mereka sekarang berada di luar ruangan.
Martin menghela nafas, lalu menatap Helena.
Helena mengangguk saja karena dia benar-benar begitu percaya dengan apa yang di ucapan Martin. Sudah beberapa hari terakhir ini Martin benar-benar sibuk sekali, dia terlihat sangat lelah di tambah juga harus mengurus Sofia seorang diri, jadi Helena pikir untuk tidak terlalu membesarkan masalah ini toh dia hanya terluka ringan.
"Lain kali tetaplah untuk hati-hati, gunakan saja mobil sendiri, dan pastikan mobilmu juga dalam keadaan baik-baik saja. Kau tahu berurusan dengan orang yang arogan adalah hal yang rumit bukan?"
Helena kembali mengangguk.
"Kau kembali saja dulu, kau pasti sangat lelah bukan? Sampaikan salam ku untuk Sofia, katakan padanya akhir pekan aku akan jemput dia untuk tinggal di rumahku."
__ADS_1
Martin tersenyum lalu mengangguk setuju.
"Jangankan hanya akhir pekan, setiap hari juga bukan masalah. Toh kalian akan tinggal bersama nantinya bukan?" Martin bergumam pada kalimat akhir yang membuat Helena terdiam dengan dahi mengeryit bingung.
"Baiklah, aku kembali duku ke kantor. Pulang nanti tunggu aku saja, aku akan mengantarmu pulang."
Helena mengangguk seraya tersenyum. Dia menatap Martin yang berjalan meninggalkan dia sendiri sembari memikirkan apa yang di ucapkan Martin barusan. Entahlah, dia belum memiliki keberanian untuk menjalin hubungan dengan pria, dia masih merasa takut akan merasakan luka yang sama, luka yang beberapa tahun lalu dia rasakan hingga akhirnya menimbulkan rasa trauma yang cukup dalam.
Di sisi lain.
" Dasar bodoh! Kau ingin membuat kita semua dalam masalah, hah?! Susah payah aku menjadi pejabat negara, sudah sudah payah aku menjalankan bisnis sejak muda, tapi tindakan bodoh itu kau bisa menghancurkan semuanya! Bisnis yang aku jalankan tidak ada unsur uang negara, tidak ada masalah apapun, tapi jika terjadi sesuatu dengan Helena, kita akan menjadi tersangka utamanya secara otomatis! Bisnis ku yang tidak ada hubungannya akan hancur karena semua orang pasti akan mulai mengungkit dah membuat fitnahnya sendiri. Kau mau keluarga kita terperosok seperti itu, hah?! Kau ingin membunuh kita semua?!"
Ibunya Melisa terdiam, membuatkan saja air matanya jatuh entah sudah seberapa banyak dia sama sekali tidak perduli. Ibu mana yang rela melihat putrinya menderita? Semua penderitaan yang di rasakan oleh putra dan putrinya, dia sungguh tidak bisa menerima itu sekeras apapun dia memikirkannya.
"Lebih baik kau berdoa saja supaya dia tidak dicurigai, meski seharusnya kita adalah orang yang harus di curigai. Jika pada akhirnya kita di curigai, maka kau hanya akan menerima resiko itu seorang diri. Bukan hanya itu, semua orang akan mengatakan jika pantas saja Melisa jahat, ternyata Ibunya juga jahat. Percayalah itu yang akan terjadi jika kau melakukan tindakan bodoh seperti itu lagi." Tian Feto menatap istrinya dengan tatapan yang terkuat semakin kesal dan semakin marah. Bagaimana pun dia sudah banyak membuah uang dan tenaga, dia benar-benar berharap semua selesai dengan Melisa yang sudah menerima hukuman.
Bersambung.
__ADS_1