
Helena tersenyum puas saat mengetahui jika kepala sekolah resmi mengundurkan diri lagi ini. Benar-benar sangat di luar dugaan karena kepala sekolah bertindak lebih cepat di banding yang dia pikirkan. Sayang sekali, suatu hari nanti dia masih harus menggunakan kepala sekolah untuk memancing seseorang agar datang padanya.
Sekarang adalah giliran pihak kepolisian yang akan menjadi target buruan Helena. Untuk urusan polisi, Helena tidak akan menggunakan unggahan bukti atau apapun, dia hanya akan menggunakan kalimat memelas di beberapa kolom komentar dan membiarkan pengguna internet menebak sendiri, lali Helena akan menghitung opini bahwa kepolisian yang membantu kasus Velerie adalah posisi yang tidak pantas menyandang posisi itu.
"Mari bermain-main, aku akan lihat apakah pada akhirnya kalian masih bisa sombong seperti dulu? " Gumam Helena lalu tersenyum tipis kepada layar laptop nya yang kini tengah membuka media sosial miliknya.
Seperti yang di katakan Helena, dia benar-benar menceritakan bagiamana pengalaman tidak baiknya terhadap seorang oknum negara yang terlihat tidak serius dalam membantunya mendapatkan keadilan untuk putrinya.
Untuk urusan polisi, tentu saja Helena hanya bisa menahan diri dan lebih bersabar lagi karena jelas tidak akan mudah. Kali ini dia hanya bisa memancing para pengguna Internet untuk terus berpendapat dan menekan pihak kepolisian. Masalah Farah kemarin juga pasti akan heboh, dan pihak kepolisian juga pasti akan di pertanyaan kualitasnya setelah itu.
Helena menoleh ke arah ponsel milik Velerie, dan dia baru ingat kalau dia harus membeli ponsel yang baru. Helena menghela nafas, melihat kearah jam dinding yang kini menunjukkan pukul tujuh malam, dan dia masih ada waktu kalau hanya untuk membeli ponsel. Segera dia bangkit dari posisinya, tidak usah ganti baju, tidak perlu juga membersihkan wajah untuk di ganti dengan make up yang baru. Sungguh penampilannya tidak penting sama sekali untuknya. Baru saja membuka pintu apartemen, ternyata Martin sudah berada di depak pintu tersenyum menatap Helena, dan mengangkat paper bag kecil, dan dari gambarnya isi di dalamnya pasti ponsel genggam.
Helena tersenyum tipis, menatap Martin dengan tatapan berterima kasih.
"Kau bahkan tahu kalau ponselku rusak?" Tanya Helena.
Martin tersenyum, mengangguk. Tentu saja dia tahu, Helena masuk ke rumah sakit di mana temannya bekerja, lalu keluar dari sana menuju SLB, tapi saat Martin ingin menghubunginya Helena tidak bisa di hubungi sama sekali.
__ADS_1
"Aku tidak tahu, tapi karena kau tidak bisa di hubungi, aku jadi ingin membelikan ponsel untukmu."
Helena tersenyum dan mengangguk.
"Aku akan mengirimkan uangnya padamu, kau sebutkan saja harganya, oke?"
Martin membuang nafasnya, lalu menatap Helena dengan tatapan sebal.
"Kau ingin menggantinya maka lebih baik biarkan aku masuk ke dalam, buatkan aku teh dan aku juga butuh duduk sebentar saja."
Helena tersentak, dia terkekeh setelahnya karena dia lupa Martin adalah tamu. Melihat Helena yang tertawa seperti itu Martin benar-benar tidak menyangka kalau Helena akan menjadi jauh lebih cantik, sebelum nya Helena juga cantik, hanya saja karena dia selalu terlihat murung, sedih, dan marah, Martin terlalu biasa melihat Helena yang seperti itu, sungguh! Kalau saja bisa terus melihat Helena banyak tertawa pasti akan membuatnya matanya terasa segar.
David jatuh bersimpuh di kamar bacanya setelah tak sengaja membaca berita tentang Farah. Dia pikir dia sah lihat karena dia juga mengenal Farah cukup akrab, berita tentang video itu sangat ramai, tapi siapa sangka begitu David menekan tombol buka, dia melihat beberapa berita yang begitu mengejutkan. Farah mengambil dua ginjal Velerie, dan dokter yang membantu Farah kini sedang di periksa dan sedang di dalami oleh pihak rumah sakit yang bersangkutan.
"Anjing mana yang begitu tidak tahu diri, beraninya, beraninya dia melakukan ini?!" David membiarkan air matanya jatuh, entah dia tidak perduli seberapa banyak air matanya jatuh. Segera dia bangkit meski seluruh tubuhnya terasa begitu lemas dan gemetar, dia tidak bisa menerima ini, dia tidak bisa menerima putrinya bahkan di manfaatkan dengan tidak berperasaan seperti itu.
David keluar dari kamar bacanya, dia berniat untuk menuju garasi mobil dan menuju ke rumah orang tua Farah. Tapi sial, Denise keluar dari kamar dan segera berjalan mendekati David dan meminta David untuk menemaninya tidur malam itu.
__ADS_1
"Pergilah, cari Ibumu saja! Kenapa kau selalu seperti ini, kau kan bisa tidur dengan Ibumu!" Ucap David yang saat itu benar-benar sulit mengontrol emosinya. Melihat Denise menangis ketakutan tentu saja David merasa bersalah, dia menyesal sudah membentak putrinya, tapi dia juga tidak bisa terus terkekang dan tidak tidak bisa melakukan apapun seperti ini. Velerie juga anaknya, tapi kenapa dia seperti terus di persulit hanya untuk bertemu, dah sekarang dia juga harus merasa kesulitan untuk sedikit saja mengurus masalah Velerie.
"Berani sekali kau membentak putriku? Kau lupa bahwa dia tidak pernah di bentak, dia ketakutan karena ulahmu!" Ucap Melisa yang berjalan dengan buru-buru saat dia mendengar David berbicara dengan nada bicara yang begitu lantang.
Ibunya David juga datang kesana untuk melihat apa yang terjadi, dia hany bisa membuah nafas dan menatap David seolah meminta David untuk lebih sabar dan lebih mengalah saja.
David masih terdiam di tempatnya, menatap Denise yang menangis tapi otaknya tengah memikirkan bagiamana selama ini Velerie hidup? Apakah saat malam dia akan menangis meminta untuk di temani? Selama ini dia tidak pernah memiliki waktu sebanyak yang dia berikan kepada Denise, jadi apakah sungguh dia adalah Ayah yang lantas untuk Velerie? Belum lagi melihat Ibu kandungnya sendiri begitu mementingkan perasaan Melisa, dan begitu mendesak untuk terus mengalah tidak perduli apakah David benar atau salah.
Denise, jika dia di besarkan dengan cara seperti ini, apakah dia akan baik-baik saja saat dewasa nanti? Apakah dia mampu beradaptasi dengan orang lain yang belum tentu akan bisa memaklumi dia dan mengalah seperti yang di lakukan keluarganya?
Tidak, cara mendidik seperti ini jelas adalah seperti menciptakan monster di hati anaknya sendiri.
"Tidurlah dengan Ibumu, ada yang harus Ayah kerjakan, dan mulai besok kau sudah harus belajar untuk tidur sendiri." Setelah mengatakan itu segera David meninggalkan tempat, berjalan menuju parkiran dan langsung menuju ke rumah orang tua Farah menggunakan mobil miliknya.
Beberapa sat kemudian.
David dengan segera keluar dari mobil, tatapannya yang garang dan dingin jelas membuat orang tua Farah yang menyadari kedatangan David benar-benar merasa takut karena bisa saja David akan membunuh Farah bukan?
__ADS_1
"Kunci pintunya, jangan biarkan dia masuk!"
Bersambung.