Why?

Why?
Sakit Yang Tidak Sepadan


__ADS_3

David terjauh di lantai dengan perasaan yang begitu hancur, hati yang hancur, jiwa yang seperti menghilang dari raganya. Dunia seperti begitu tak adil padanya, kemalangan demi kemalangan tak pernah berhenti menghampiri hidupnya hingga dia mengutuk Tuhan di dalam hati.


Sekali lagi, sekali lagi Tuhan mengambil kembali sesuatu yang amat sangat berharga dalam hidupnya. Denise, gadis kecil yang di perjuangkan oleh seluruh keluarga sampai harus membuat kakaknya terbunuh demi menolong dirinya ternyata tak memiliki hasil yah di inginkan.


Siang pukul tiga sore dia telah menyerah, tak bisa lagi bertahan sekuat apapun semua keluarga memintanya bertahan. Dia menutup mata meninggalkan tetesan air mata yang jatuh seolah ingin mengatakan kepada semua orang bahwa dia tidak sanggup, dan meminta maaf telah mengecewakan semua orang. Pukul tiga sore juga, waktu yang sama dan hari yang sama meski berbeda tanggal dan tahun Velerie meninggal. Mereka meninggal di jam dan hari yang sama, meninggalkan duka dan patah hati yang begitu menyakitkan.


"Bodoh! Tidak berguna! Aku memindahkan cucuku kesini untuk di sembuhkan, bukan untuk di bunuh! Dasar bodoh!" Maki Tuan Feto kepada Dokter yang menangani Denise sejak Denise di pindah ke rumah sakit tempat dia bekerja. Entah bagaimana dia akan menjelaskan karena sepertinya apapun yang dia katakan benar-benar tidak akan di dengar oleh Tuan Feto. Keadaan Denise benar-benar bisa di bilang cukup parah, tubuhnya menolak keras ginjal baru yang di donor kan padanya. Sungguh ini benar-benar tidak biasa, tapi kasus seperti ini juga terjadi.


"Tuan, anda pasti sudah di beritahukan tentang kondisi cucu anda sehingga anda mencoba untuk memindahkannya ke rumah sakit lain bukan? Kami benar-benar merasa sedih dan ikut berduka cita, tapi sungguh kami sudah melakukan apa yang kami bisa lakukan. Mengenai usia sungguh bukan kami yang bisa menentukannya."


Tuan Feto memukul wajah Dokter itu karena tak bisa menahan marah dan kesedihan, dia sungguh tidak bisa mengontrol perasaan itu hingga tak mengingat bahwa tidak semua orang bisa dia perlakukan seenaknya. Tentu saja Dokter itu tidak akan tinggal diam, pukulan di hadapan banyak orang, di hadapan Dokter lain tentu saja bukan sakit fisik yang dia permasalahkan, tapi luka hati karena egonya terlukai.


"Anda marah, kecewa dah emosi, tentu saja saya harus bisa menerima itu karena anda adalah keluarga dari pasien yang gagal untuk di selamatkan. Tapi, yang anda lakukan sungguh keterlaluan sekali." Dokter itu berucap tapi dia sama sekali tak menunjukkan ekspresi apapun. Yah, dia memang harus menahan perasaan kepala dan tidak terima itu karena Tuan Feto sedang berada dalam suasana hati yang begitu berduka.

__ADS_1


David bangkit dari posisinya, kembali mendekati putrinya dan memeluk erat-erat tubuh Denise yang kini sudah tak lagi bernyawa. Hancur sudah hatinya, hancur sudah perasaan yang sejak kemarin terus berharap bisa melihat Denise hidup lebih lama.


"Maaf, maafkan Ayah yang sudah menahan mu dengan tidak berperasaan. Maafkan Ayah yang begitu takut menghadapi kehilangan dan tidak bisa lagi melihat mu. Ayah tidak melihat bagaimana kondisi tubuh mu, kau terlaku kurus, terlalu kecil untuk rasa sakit seberat ini, Ayah sedih dan hancur sekali, tapi Ayah juga sadar bahwa ini adalah pilihan dan akhir yang membahagiakan untuk mu. Tenanglah di surga nak, berada di pangkuan Tuhan, tunggulah Ayah akan berkumpul dengan mu dan juga kakak mu. Maafkan Ayah yang tidak bisa menjadi Ayah yang baik, dan selamat jalan, Ayah akan berusaha menguatkan hati untuk menghormati keputusan mu dan keputusan Tuhan." Ucap David lirih sembari mendekap erat tubuh Denise dengan lelehan air mata yang jatuh. Entah bagiamana menjelaskan seberapa sakit hatinya, tapi dia juga merasa bersalah karena di saat terakhir seperti ini Denise juga tidak bisa melihat Ibunya.


Tuan Feto benar-benar tidak bisa menerima ini, dia tidak akan membiarkan cucunya meninggal, tapi sepertinya itu tidak akan berguna. Memasang alat penunjang hidup juga sudah tidak akan ada gunanya lagi, dan ini adalah kenyataan yang paling tidak ingin dia hadapi.


Kepedihan juga di rasakan oleh Ibunya Melisa selaku neneknya Denise, dan juga Ibunya David yang kini berada di sana. Sungguh dia tidak menyangka kalau pada akhirnya Denise akan meninggal secepatnya ini, padahal rumah sakit yang di gunakan serta dokter yang menangani jelas semuanya berkualitas tinggi dan berpengalaman.


"Kalau saja dia tidak menikahi mu, dia pasti tidak akan melahirkan putri yang penyakitan! Anak pertama mu cacat, dan Denise lahir dengan gagal ginjal, itu karena kau idiot!"


David tak mengatakan apapun, di memilih untuk fokus pada Denise saja dan kehancuran hatinya yang tak bisa di jelaskan hanya dengan kata-kata.


Di sisi lain.

__ADS_1


Melisa menangis sejadi jadinya saat seorag pengacara kepercayaan Ayahnya datang untuk menyampaikan kabar meninggalnya Denise kepada Melisa. Yah, harus wirang Ibu pasti akan hancur sehancur-hancurnya saat kehilangan buah hati yang di sayangi bukan? Melisa sudah menyaksikan betapa Denise kesakitan dalam beberapa tahun ini, dia sudah menderita bahkan sejak dia di lahirkan ke dunia. Sering kejang, sering demam tinggi, mimisan, bahkan juga tubuhnya sering menguning dan pucat.


Sudah empat tahun dia terus melihat bagaimana Denise menderita dan dia juga menyaksikan semua itu. Sejak awal Melisa memang telah bertarung untuk permainan yang tidak akan pernah dia menangkan. Dia sudah melakukan segala cara, melakukan apa yang bisa dia lakukan, tak perduli akan hidup orang lain, tapi nyatanya semua juga berakhir dengan hasil yang tidak dia inginkan.


"Kenapa? kenapa anak ku harus mati?! Dia tidak boleh meninggalkan ku! Aku tidak rela! Aku tidak mau! Aku melakukan segalanya untuk menyelamatkan nyawanya, tapi kenapa dia masih harus pergi? Aku tidak bisa menerimanya!" Ucap Melisa sembari menangis tersedu-sedu dan suaranya tidak jelas.


Tentu saja itu wajar, bahkan Ibu lain juga akan merasakan yang sama bukan?


"Nona Melisa, Tua benar-benar sudah melakukan apa yang dia bisa lakukan. Anda tahu benar bagaimana Tuan menyayangi cucunya bukan? Sekarang dia juga sedang hancur dan menggila. Saya datang kesini karena saya yakin pasti belum ada yang menyadari Nona Melisa. Tolong jangan mengalahkan keluarga, mereka juga sama sedihnya dengan Nona Melisa, terlebih Tuan David. Dia juga hancur sekali, semua orang sedang hancur hingga tidak memiliki waktu untuk memberitahu Nona Melisa." Ucap pengacara itu dengan nada pelan berharap Melisa bisa lebih bersabar dan tabah.


"Tidak, keluarkan aku dari sini! Aku harus keluar dari sini!"


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2