
Bertepatan dengan siswa terakhir yang menyelesaikan ujian prakteknya, bel tanda pelajaran berakhir pun berbunyi. Di luar dugaan, semua murid berhasil lolos dan tidak ada yang remedial, termasuk Eva yang berhasil memasukkan dua bola dari lima kali percobaan. Setelah guru memberikan pengarahan singkat, dengan cepatnya semua murid membubarkan diri.
Baik perempuan maupun laki-laki, mereka menghabiskan waktu istirahat untuk makan dengan lahap. Masih ada sekitar lima jam pelajaran sampai istirahat kedua, jadi bukan hal yang mengherankan jika murid kelas XI IPA-A memulihkan energi yang terkuras dengan makanan.
Ketika jam istirahat berakhir dan tiba saat untuk kembali ke kelas memulai pelajaran berikutnya, mendadak sebuah kabar gembira datang menghampiri.
“Pengumuman! Pengumuman! Gak ada guru, guru rapat! Jam bebas!”
Wajah malas dan capek yang sempat terhias di wajah kebanyakan siswa kini berubah menjadi raut bahagia. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, kelas yang hampir penuh tadi kembali lagi menjadi kosong.
“Kamu mau ke mana, Git?” tanya Eva.
“Aku mau cari Raihan. Katanya kelasnya juga kosong,” jawab Gita.
“... Kamu tidak berniat untuk minta putus dengannya, kan?”
Gita mengangkat kedua bahunya. “Mungkin iya mungkin tidak. Kenapa? Takut aku merebut Ren darimu nanti?”
Eva menjauhi tatapan meledek Gita. “Tidak, kok. Aku hanya kasihan dengan Kak Raihan. Kalian baru jalan satu minggu, kan? Dia sepertinya masih sayang denganmu.”
Sempat terbelalak sekilas, Gita lanjut terbahak. “Baiklah, biar sahabatku tidak khawatir, aku undurkan dulu rencana memutuskannya. Dengan begitu, kamu juga tidak perlu takut aku menarik perhatian Ren.”
“Sudah, pergi sana, jangan ngawur!” seru Eva dengan wajah yang mulai memerah.
Sekali lagi Gita terbahak sebelum akhirnya ia berjalan pergi meninggalkan Eva yang tengah mendesah panjang. Sungguh, Eva tidak paham harus bagaimana membuat Gita berhenti meledeknya. Jelas-jelas ia tidak memiliki perasaan apapun terhadap Ren.
Tidak ingin memikirkannya, Eva memutuskan untuk berjalan-jalan. Tanpa memiliki tujuan, ia membiarkan kedua kakinya memimpin perjalanan hingga tanpa sadar berakhir di depan ruang musik. Setelah memastikan keadaan sekitar—yang kosong—aman, Eva pun memasuki ruangan tersebut.
Meskipun sebenarnya tidak sengaja lewat, bukan tanpa alasan Eva bisa berakhir di sini. Di dalam ruangan dengan luas enam meter persegi, selain tersedia kursi dan meja seperti kelas umumnya, terdapat pula berbagai jenis alat musik yang berjejeran rapi di sudut belakang. Satu-satunya yang berada di depan kelas adalah organ piano klasik, dan itulah yang menarik Eva ke sini.
Dengan hati yang berdebar, Eva duduk di depan piano. Rumahnya yang megah tentu mempunyai grand piano yang bebas bisa ia mainkan kapanpun. Namun untuk bermain di luar, ini adalah pertama kalinya seumur hidup. Meskipun tidak ada yang menonton sekalipun, Eva merasa perutnya penuh dengan kupu-kupu.
“Eva-chan?”
__ADS_1
Eva terkesiap. Belum sempat menyentuh apapun, secepat kilat ia menoleh ke arah pintu sambil berdiri lurus. Ia bagaikan pencuri yang tertangkap saat beraksi. “R—Ren?” panggilnya.
Ren berjalan masuk. “Kamu sedang apa di sini, Eva-chan?”
“Ti—tidak kok. Aku tidak lagi buat apa-apa. Kamu sendiri? Tidak main basket?”
“Tidak, saya sudah capek. Jadi saya mencari kamu.”
“Oh, ada apa mencariku?” tanya Eva. “Ngomong-ngomong terima kasih, ya, tadi sudah mengajariku main basket. Berkat kamu aku tidak remedial.”
“Sama-sama, senang bisa membantumu.” Ren menarik salah satu kursi terdekat kemudian mendudukinya di samping Eva. “Itu piano, kan? Eva-chan bisa main?”
Eva buru-buru menggeleng. Bahkan kedua pipinya sudah semerah tomat. “Aku hanya bisa sedikit-sedikit ... yang mudah.”
Mengabaikan fakta yang baru saja diucapkan olehnya, kedua mata Ren justru berbinar penuh penasaran. “Benarkah? Apakah saya boleh mendengarkan permainanmu?”
Sungguh, Eva ingin menolaknya. Namun setiap mendengar nada bicaranya yang begitu sopan, Eva jadi segan untuk berkata tidak. Alhasil, ia hanya bisa mengangguk dengan pasrah.
“Bagus sekali permainanmu, Eva-chan!” girangnya.
Eva tersenyum kecut. “Terima kasih, tapi kamu tidak perlu menghiburku, Ren.”
“Kenapa? Permainanmu benar-benar bagus, kok, menurut saya.”
Eva tidak langsung menjawab, justru menyentuh tuts piano tanpa benar-benar menekannya. “Aku berbeda denganmu, Ren,” gumamnya. “Tidak sepertimu yang pandai dan terampil, aku tidak punya keahlian apa-apa. Aku tidak punya hobi yang benar-benar aku minati, juga tidak memiliki otak yang cerdas. Aku selalu belajar mati-matian hanya supaya tidak dapat nilai merah, itu saja. Aku tidak punya kelebihan apa-apa.”
Suasana mendadak hening dan canggung. Eva tidak tahu kenapa ia tiba-tiba bisa curhat pada Ren. Apakah karena pujiannya yang simpatik? Atau hanya mencari alasan untuk menutupi permainannya yang memalukan? Eva tidak tahu.
“Eva-chan,” panggil Ren mendadak, “saya tidak pandai bernyanyi.”
Selama lima detik Eva menatapnya tanpa berkedip. “Kamu bohong.”
“Tidak, saya tidak berbohong. Saya akan bernyanyi sekarang.” Untuk membuktikan ucapannya, Ren seketika berdiri lalu menyanyikan lagu “Twinkle-Twinkle Little Star” dengan suara yang lantang.
__ADS_1
Kedua mata Eva melotot besar. Di hadapannya, Ren sedang bernyanyi dengan serius dan penuh perasaan. Dia akan terlihat sungguh sempurna bagaikan artis papan atas, jikalau suaranya tidak terdengar sumbang dan menyakitkan gendang telinga.
Ren yang sudah selesai langsung menoleh kepada Eva dan bertanya, “Bagaimana? Sudah percaya?”
Eva memilih diam daripada menanggapinya. Maksudnya, ia terlalu syok untuk bersuara. Ren yang selama ini dipandang begitu sempurna tanpa celah sama sekali di mata semua orang, siapa sangka Eva akan mengetahui rahasianya yang begitu fatal!
“Kenapa ... kamu memberitahu rahasiamu?”
Kontras dengan Eva yang tampak cemas dan grogi, Ren justru biasa saja. “Hm? Rahasia? Maksud kamu tentang suara nyanyian saya, ya? Saya tidak pernah merahasiakannya, kok.”
Eva terkejut lagi. Jika Ren tidak menyembunyikan kekurangannya, lantas kenapa Eva adalah orang pertama yang mengetahuinya? Tidak pernah ada yang bertanyakah? Bagaimana dengan pelajaran Kesenian? ... Oh ya, minggu lalu tepat tes teori, tidak praktek.
“Selain tidak pandai bernyanyi, saya juga tidak pandai mengingat wajah orang. Di kelas, saya hanya ingat wajah Eva-chan dan Andi-san.”
“... Aku tidak percaya,” ulang Eva. Pernyataan apalagi ini? Ren sudah seminggu bersekolah di sini. Sungguh lelucon kalau ia hanya mampu mengenal dua orang.
Ren tersenyum miring. “Saya benar-benar tidak bohong. Saya mengenal Eva-chan dari rambutmu. Kalau untuk Andi-san, dia pakai kacamata persegi yang sangat tebal dan mempunyai tahi lalat besar di pipi kanannya, jadi mudah ingat. Kalau untuk teman yang lain ... entahlah, wajah mereka terlihat sama.”
Eva membisu, masih tidak bisa percaya. Kalau memang betul begitu, apa artinya ia harus bersyukur karena memiliki rambut yang unik dan berbeda sendiri?
“Lalu saya tidak bisa makan makanan pedas dan takut ketinggian. Saya juga sering tersesat karena buta arah. Kalau ini rahasia, jangan kasih tahu yang lain.”
Eva mengernyit. “Kalau itu rahasia, kenapa kamu memberitahukanku semua itu?”
Ren tersenyum. “Eva-chan membagikan kekurangan kamu, saya pun harus mengatakan kekurangan tentang saya. Sahabat adalah dua orang yang bisa saling berbagi dan menjaga rahasia, bukankah begitu?”
Tanpa aba-aba, tiba-tiba Ren mengenggam kedua jemari Eva. “Tenang saja, Eva-chan. Saya berjanji akan menyimpan rahasiamu untuk selamanya. Saya tidak akan berbuat hal yang membuat orang yang saya sukai sedih.”
Eva lagi-lagi terdiam. Apa Ren sedang menghiburnya dengan tulus atau mencari kesempatan untuk menyatakan perasaannya? Sepertinya Eva memang tidak bisa menebak apa sebenarnya yang ada di dalam pikiran pria asal Jepang yang aneh dan misterius ini. Namun, ada satu hal yang ia tahu. Hal itu adalah Eva bisa mendengar debaran jantungnya sendiri untuk pertama kali seumur hidupnya.
***
Bersambung ...
__ADS_1