
Helena tersenyum miring, menatap Farah sebentar sebelum dia menghela nafas dan terkekeh kecil.
"Aku tidak perduli, memangnya kau pikir aku tidak tahu semua itu? Tentu saja aku tahu, Farah. Kau mengambil kedua ginjal putriku jelas kau memenuhi keinginan seseorang yang kau anggap tinggi dan menjanjikan mu keselamatan setelah mendapatkan banyak uang. Mari kita lihat seberapa hebatnya orang itu, aku juga penasaran."
Farah menatap dalam diam, dia benar-benar tidak percaya kalau Helena justru sama sekali tidak perduli dan terlihat begitu santai dan tidak penasaran siapa orang di balik semua ini.
"Kenapa? Kau bingung karena aku tidak bertanya siapa orangnya? Tentu saja karena aku tahu kau bahkan tidak pernah bertemu langsung dengan orang itu bukan? Kau tahu kenapa dia tidak pernah muncul di hadapan mu? Tentu saja untuk mengantisipasi jika saja ini terbongkar, kau akan berada di urutan terakhir dan pertama yang akan menanggung semua ini."
Farah tak lagi bisa mengatakan apapun, dia diam seribu bahasa sembari membatin dengan hati yang begitu kacau. Hancur, hancur, benar-benar hancur dan dia tidak tahu harus mengatakan apa, dia juga tidak akan sanggup jika harus menghadapi tatapan menghina dari semua orang nanti.
"Kau sudah banyak bekerja keras selama ini, kau juga sudah menerima banyak uang suap kan? Kenapa kau tidak mulai istirahat saja di rumah? Kau fokus lah mengurus Ayah dan Ibumu, bagiamana?" Helena mengakhiri kalimatnya dengan senyum indah yang justru membuat Farah merasa sangat tertekan.
Farah menggelengkan kepalanya, menatap Helena dengan marah karena memang itu adalah apa yang sedang di rasakan saat itu. Sungguh dia benar-benar sangat marah sekali, padahal hubungannya dengan Helena sangat baik selama ini, dan hanya karena kematian Velerie, lalu Farah mengambil ginjalnya secara diam-diam di begitu terlihat bersalah di mata Helena. Tidak, dia tidak bisa menerima itu, dia tidak membuat Velerie mati, kenapa dia di jadikan orang yang paling menderita?
"Kau tidak bisa melakukan ini semua kepada ku, kau hancur dan sedih karena putrimu meninggal, kenapa kau seolah menyalahkan ku?!"
Helena tersenyum dengan tatapan mata yang dingin, menatap Farah dengan acuh seolah dia begitu tak perduli dengan air mata yang jatuh dari mata Farah.
"Sayang sekali, aku tidak perduli." Ujar Helena yang semakin membuat Farah merasa begitu kesal, lebih kesal dari sebelumnya.
"Kau masih bisa terjerat kasus hukum, kau yang selalu dah menyebarkan rekaman itu, kau juga tidak akan bebas begitu saja, lebih baik kau tarik kembali video itu sebelum semakin menyebar dan kau juga kan merasakan dampaknya."
__ADS_1
Helena terkekeh, dia benar-benar tidak tahu kalau begitu jalan pemikiran Farah. Dia sudah sejauh ini apakah Farah tidak berpikir bahwa sebenarnya dia sama sekali tidak takut apapun.
"Benarkah? Aku akan menantikan itu, jadi karena menurut mu aku akan kena dampaknya, maka akan lebih baik kalau aku melakukan hal yang lebih gila lagi." Helena mengeluarkan ponselnya dari dalam sakunya, sebentar tersenyum dan menekan tombol 'putar' untuk mendengar apa yang ingin di dengarkan kepada Farah.
Hanya ginjal saja apa yang salah? Anakmu juga sudah jelas mati, mau di ambil ginjal, jantung, hati, usus, atau otaknya sekalipun dia tidak akan tahu dan tidak akan merasakan apapun, kau saja yang berlebihan!
Helena tersenyum menatap Farah, sementara Farah ternganga terkejut karena tidak tahu kalau Helena bahkan merekam pembicaraan mereka.
Tetap saja, tetap saja apapun yang aku lakukan, putri cacat mu itu sudah mati! Dia tidak akan pernah menuntut saat ginjalnya di ambil untuk menyelamatkan orang lain, lagi pula anakmu itu tidak bisa berpikir, dia bahkan tidak akan tahu ginjalnya hilang!
Farah segera bangkit dari posisinya, dia menatap Helena dengan tatapan marah tapi sayangnya itu sama sekali tidak membuat Helena merasa takut. Helena jutsru tersenyum mengejek melihat wajah marah Farah yang seharusnya Farah memasang wajah memelas, sedih, lalu memohon kepada Helena bukan?
Helena menghela nafas, menekan, menyentuh beberapa kali layar ponselnya untuk melakukan sesuatu, lalu setelah itu dia menunjukan layar ponselnya ke arah Farah.
"Menyebarkan ke internet, judulnya adalah pencurian organ yang di lakukan oleh dokter ahli tulang, sekaligus dokter forensik. Aku menyebutkan namamu dengan sangat jelas, nama lengkap mu."
Farah yang terkejut segera meraih ponsel itu, tapi karena gerakan tangannya yang panik dan terlalu kuat membuat ponsel milik Helena jatuh ke lantai, terpental dan membuat ponsel itu menjadi rusak di bagian layar.
"Ah.....!" Dengan frustasi Farah kembali merah ponsel itu, mencoba menekannya untuk membatalkan unggahan yang sedang di lakukan Helena, tapi sayang sekali layarnya tidak bisa di pencet, dan rekaman suaranya sudah terunggah beberapa detik lalu.
Helena terkekeh, dia hanya melihat saja bagaimana Helena akan mendapatkan hukuman atas apa yang dia lakukan meski dia tidak melaporkan Farah ke kantor polisi. Bagi Helena sekarang kantor polisi adalah tempat yang miskin akan keadilan, jadi dia akan melakukannya sendiri, dia akan menghukum para penjahat itu dengan caranya sendiri.
__ADS_1
Tak ingin terus melihat Farah, Helena memutuskan untuk keluar dari ruangan Farah, tersenyum puas dan berkata di dalam hati,
Rasakan bagaimana hidupmu yang akan hancur, aku tidak akan menoleh untuk melihatmu apalagi memperdulikan mu. Semoga beruntung, tapi jika kau merasa tidak sanggup, bagaimana kalau kau temani putriku saja? Kau bisa menemui dia dan meminta maaf karena telah mencuri organ dalamnya. Semoga beruntung, mantan teman.
Helena melangkahkan kakinya, menuju ke SLB.
Kepala sekolah, orang itu akan mendapatkan hukuman juga atas apa yang dia lakukan, dan untuk guru yang kabur karena dia adalah saksi, Helena akan membuat dia datang sendiri tanpa harus sibuk mencarinya lagi.
Sesampainya di gerbang sekolah.
Helena tersenyum dengan tatapan jahat, lalu kembali melangkahkan kakinya untuk menuju ruang kepala sekolah.
"Nyonya Helena, maafkan harus mencegah anda, tapi kepala sekolah sedang mengerjakan pekerjaan penting, tolong datang lagi besok." Penjaga sekolah itu sepertinya bekerja sama dengan kepala sekolah, atau mungkin kepala sekolah yang meminta dia untuk menghentikan Helena jika Helena datang.
"Oh ya? Kalau begitu, bagiamana kalau kau sampaikan kepada kepala sekolah bahwa pembicaraan kita kemarin sudah aku rekam, jika dia tertarik, bisa temui aku dan mendengarkan baik-baik bagaimana dia bicara dengan begtu jelas kemarin."
Penjaga sekolah itu terdiam sebentar, dia nampak berpikir, tapi tak lama dia mengangguk dan segera pergi menemui kepala sekolah.
"Anda juga harus mendapatkan hukuman, bukankah seharusnya begitu?"Gumam Helena seorang diri lalu tersenyum dengan tatapan dingin.
Bersambung.
__ADS_1