Why?

Why?
Sosok Malang Yang Sesungguhnya


__ADS_3

"Bukankah Ibu sudah mengingatkan mu? Kau terlalu terbawa emosi, kau juga tidak pernah mau mendengarkan ucapan Ibu! Wanita yang bernama Yuri itu tidak akan ada gunanya! Hanya karena kau ingin membuat Martin terpuruk kau sampai tidak memikirkan bagaimana dampaknya!" Ibunya Win memegangi dadanya yang sesak karena menumpuk perasaan kesal yang luar biasa, belum lama ini dia dan suaminya benar-benar berdebat cukup sengit hingga berakhir dengan hasil yang tidak dia inginkan.


Win menghela nafasnya, sejak tadi dia hanya sejak diam mendengarkan ucapan Ibunya dengan rahang yang mengeras menahan segala emosi yang rasanya belum cukup puas hanya dengan menghancurkan barang di kamarnya. Sekarang Ibunya datang memaki sesuka hati dan menyalahkan segalanya seolah semua terjadi karena dirinya.


"Sekarang pikirkan bagaimana kau akan menangani masalah ini, kau sebentar lagi akan kehilangan perusahaan dan semua harta Ayah mu! Dia akan memberikan semua hartanya kepada Martin!"


Win bangkit dari posisinya, Martin lagi, lagi-lagi Martin?


"Ayah bodoh itu, bagaimanapun Aku juga adalah anaknya, perusahaan itu tidak akan berdiri hingga seperti sekarang ini kalau tidak karena bantuan keluarga Ibu. Aku turut andil dalam memajukan perusahaan, aku adalah CEO perusahaan itu! Walaupun tanpa perusahaan aku masih bisa hidup, bahkan hidup dengan baik, tapi aku juga tidak akan tinggal diam hanya menerima saja keputusan aneh itu. Pergilah, Ibu. Aku benar-benar tidak ingin mendengarkan ucapan Ibu yang selama ini begitu menuntut untuk menjadi seperti yang Ibu inginkan, aku juga muak harus menghadapi Ayah yang selalu membandingkan antara aku dan juga Martin. Melihat perlakukan kalian berdua, aku selalu saja memiliki niat untuk menghancurkan apapun, jadi pergilah, jangan mengatakan apapun yang memprovokasi ku."


Ibunya Win menatap Win dengan tatapan dingin, seperti biasanya, Win hanya akan menjadi semakin emosional jika di ajak bicara. Sejak adanya Martin, Win memang tidak pernah tenang dan selalu saja terlihat suram.


"Kendalikan diri mu, Win. Emosional dan arogan adalah kelemahan dan juga kekurangan mu." Setelah mengatakan itu Ibunya Win bangkit dari duduknya, dia meraih tas yang dia letakkan di meja lalu berjalan untuk memuat dari rumah Win.


Win, pria itu benar-benar tidak habis pikir dengan semua yang terjadi ini. Dulu sekali hidupnya benar-benar bahagia sampai akhirnya Martin datang bersama dengan Ibunya. Ayahnya mengenalkan Martin sebagai adik tirinya, dan memaksa untuk membuka tangan menyambut Martin dengan suka cita. Awalnya Win tidak menolak kedatangan Martin, dia mencoba menerima Martin meski dia sulit menerima itu. Tapi, semenjak ada Martin Ayahnya selalu saja membandingkan antara Win dan juga Martin mulai dari hal kecil. Win tumbuh dengan manja, tapi dia juga memiliki kehebatan dalam beberapa bidang, begitu juga dengan Martin. Ayahnya selalu fokus dengan Martin, dengan kecerdasan Martin dan menganggap Martin adakah anak yang membanggakan. Sejak itu lah perlahan kebencian itu mulai meracuni hati Martin. Dia selalu saja membuat ulah dan mencoba untuk menyingkirkan Martin dari rumah, juga dari hidupnya.

__ADS_1


Ibunya Win, dia juga selalu mengatakan kalau Win kurang berusaha mengambil hati Ayahnya, dia tidak bisa menjadi Martin yang begitu dekat dengan Ayahnya. Ibunya Win menuntut Win untuk mendesak dan menjadi prioritas Ayahnya, dan menyalahkan Martin sepenuhnya saat Martin gagal melakukannya. Martin kesal, Martin membenci semua orang, bahkan juga membenci dirinya sendiri. Kenapa semua orang begitu mudah mengatur hidupnya seolah dia sendiri tidak berhak atas diri sendiri.


Seorang Ayah yang pilih kasih, seorang Ibu yang menjadikan anaknya sebagai senjata, seorang adik polos yang hanya dengan tersenyum mampu membuat hati Ayahnya luluh, seorang wanita simpanan yang terus datang menunjukkan kisah cintanya membuat Ibunya Win semakin membenci dan mendendam, mereka semua tanpa sadar telah menghancurkan Win yang malang. Hati nurani, cinta dan kasih sayang, cara menghormati, semua itu telah lenyap dari diri Win dan matanya di butakan oleh kebencian.


"Ternyata pria sialan itu malah fokus dengan keburukan ku? Lalu di mana dia meletakkan matanya saat aku membuat perusahaan yang hampir bangkrut itu kembali berdiri tegak? Kemana dia saat aku menjual semua aset Ibuku demi menyelamatkan keluarga? Sungguh luar biasa, kalau begitu yang kau inginkan, maka jangan salahkan aku yang tidak akan segan menunjukkan bagaimana gilanya seorang Win."


Di sisi lain.


"Ayah anda meminta nada untuk datang karena ada yang harus di bicarakan, Tuan Martin."


Martin menghela nafasnya, dia benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa tapi sayangnya dia juga tidak bisa menolak dan menghindar terus menerus. Ayahnya juga dalam keadaan tidak baik, tapi dia juga tidak sanggup kalau harus berhadapan dengan win dan juga Ibunya.


Martin menatap Helena yang duduk lumayan jauh darinya sembari memanggil Sofia. Helena mengangguk pertanda kalau Helena membiarkan Martin untuk menemui Ayahnya sebelum Ayahnya benar-benar tiada.


Beberapa saat kemudian.

__ADS_1


Martin turun dari mobil ajudan Ayahnya tepat di halaman rumah yang sangat besar itu. Sebentar Martin menatao rumah itu, mengingat betapa sulitnya selama dia berada di rumah itu, tapi saat dia tersadar dia mulai merasa tidak ada pilihan lain selain menemui Ayahnya, dan mendengar apa yang ingin di bicarakan oleh Ayahnya.


Setelah masuk ke dalam rumah, Martin benar-benar memilih untuk tidak melihat Ibunya Win yang datang menyambut tanpa ekspresi apapun di wajahnya. Wanita itu benar-benar masih terlihat sangat sehat, berbanding terbalik dengan kondisi Ayahnya.


"Silahkan, Tuan." Ucap Ajudan Ayahnya menunjukkan arah di mana Ayahnya Martin berada.


Martin mengikuti langkah kaki ajudan Ayahnya, hingga sampailah di sebuah kamar, dan begitu pintu kamar itu di buka, Martin bisa melihat Ayahnya tengah berbaring menggunakan selang oksigen untuk membantu pernafasan.


"Nak......" Panggil Ayahnya Martin lirih membuat Martin merasa sedih, terenyuh, dan merasa bersalah karena tak menemui Ayahnya selama ini. Segera Martin berjalan mendekati Ayahnya, mencium punggung tangannya, pipinya dan juga dahi.


"Ayah, maaf karena tidak datang lebih cepat menemui Ayah." Ucap Martin menahan tangisnya.


"Tidak, bukan salahmu. Ayah tahu betapa sulitnya bagi mu berada di sini. Ayah tidak pernah merasa kesal karena Ayah tahu kau bukanlah anak yang akan melakukan hal sekejam itu."


Martin mengusap wajah Ayahnya, sungguh dia tidak menyangka kalau pada akhirnya Ayahnya akan menjadi seperti sekarang karena perasaan sedihnya kehilangan wanita yang dia cintai.

__ADS_1


"Wah, aku benar-benar terharu sekali sampai ingin pingsan melihat kalian berdua." Win tersenyum miring menatap Martin dan Ayahnya.


Bersambung.


__ADS_2