
Yuri terdiam sebentar, hatinya membatin, jadi begitu ya arti Yuri bagi Win? Padahal selama ini Yuri benar-benar terus berharap Win apalah pelabuhan cintanya, dia juga terus berdoa agar Win perlahan mengubah sifat dan sikapnya agar bisa perlahan menjadi lebih baik. Tidak, dia sudah benar-benar salah tentang itu, dia memang seharusnya sejak awal tidak menuju Win yang menyembunyikan jutaan luka di balik sikap manis yang awalnya dia tunjukan.
"Jadi begitu ya?" Yuri tersenyum, tapi tidak bisa di bohongi kalau dia memang terlihat sangat kecewa oleh ucapan Win.
"Kenapa? Kau tidak siap kehilangan semua itu? Tahu, tentu saja aku tahu, tentu saja kau tidak siap, wanita seperti mu hanya perlu di iming-imingi sedikit saja uang langsung saja menganggap yang adalah Tuhan."
Yuri menghela nafasnya.
"Win, harus ku akui dulu aku jatuh hati pada mu karena kau adalah pria yang manis, dan juga tanggap dengan situasi. Aku juga tidak menampik kalau aku buta karena semua materi yang kau berikan, aku merasa ketergantungan, semua itu benar sekali, tapi aku sudah sangat lelah menghadapi sulitnya hidup bersama dengan mu. Lihatlah kekasih mu itu, Win. Dia sangat cantik, tubuhnya juga masih bagus, aku yakin kau cukup puas memiliki dia. Aku yang banyak kekurangan ini, aku yang tubuhnya memiliki bagian yang kendur tentu tidak akan pantas jika di sandingkan dengan kekasih mu. Aku cukup tahu diri, toh selama kau bahagia dan puas dengan apa yang kau punya tentu saja aku harus ikut bahagia kan?"
"Yuri!"
Win menarik Yuri dan menyeretnya tak perduli bagaimana sulitnya Yuri mengimbangi langkah kaki Win yang begitu lebar dan cepat. Tentu saja Yuri tidak perlu mencoba melepaskan diri apa lagi mencoba untuk menghentikan apa yang akan di lakukan Win. Mungkin ini terkesan bodoh dan konyol, tapi Win yang seperti ini sudah pasti akan menyakiti Yuri.
Bruk!
Win melemparkan tubuh Yuri ke lantai tak perduli kalau rasanya pasti sakit sekali. Bagi Win sesuatu yang dia anggap miliknya artinya adalah, tidak boleh mengatakan akan meninggalkan dirinya, dan harus dia yang membuang karena barang yang dia miliki jelas tidak memiliki hak untuk menolak majikannya bukan?
__ADS_1
Dengan mimik wajahnya yang terlihat begitu kesal, Win berjalan mendekati Yuri, membuat wajah Yuri menatap ke arahnya dengan mengarahkan dagu menggunakan kakinya.
"Wanita murahan seperti mu beraninya mengatakan hal yang tidak masuk akal, tunggu aku bosan menyiksa mu baru akan ku buang kau."
Yuri menolehkan wajahnya, dia bangkit meski rasanya benar-benar sakit sekali.
Murahan?
Yuri tersenyum kelu, dia mengingat bagaimana Martin memperlakukannya bagai wanita satu-satunya di dunia ini, bagi Martin Yuri adalah hal yang paling berharga untuknya hingga menjaga Yuri adalah sebuah keharusan. Sekarang dia di perlakukan sebagai sampah, dia tidak ada apa-apanya karena pria yang memperlakukannya dengan begitu kejam adalah pria yang dia pilih, pria yang dengan mata tertutup dia agungkan seolah dia adalah satu-satunya pria tebaik di dunia.
"Apa yang kau tertawakan?!" Tanya Win yang semakin kesal karena Yuri benar-benar memperlihatkan senyum aneh yang di rasa tengah merendahkan seorang Win.
"Aku menertawakan kebodohan ku sendiri, Win. Aku menertawakan tindakan salah ku yang bodoh, bahkan aku juga mencintai mu dengan bodohnya. Aku sudah muak sekali terus berharap pada mu, aku muak mengemis perhatian dan juga rada cinta mu. Aku lelah, lelah sampai tidak tahu sudah berapa ratus wanita yang tidur bersama mu. Dulu aku selalu membandingkan antara kau dan Martin, aku menemukan banyak sekali kekurangan pada diri Martin, dan aku hanya bisa melihat kelebihan dari mu. Aku benar-benar bingung dan juga merasa bahagia karena aku pikir aku pasti akan bahagia bersama dengan mu. Tapi, begitu aku hidup bersama dengan mu, aku justru menemukan banyak sekali kekurangan mu, dan merasa kalau Martin sejuta kali lebih baik dari pada dirimu. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan diri ku sendiri hang bodoh ini, bagaimana bisa mengira sebuah bola sampah sebagai bola berlian?"
Plak!
Win melayangkan sebuah tamparan yang cukup kuat di wajah Yuri. Tentu saja rasanya sangat sakit, pipi Yuri juga langsung memerah dan sisi bibirnya mengeluarkan setitik darah.
__ADS_1
"Berani sekali, kau?! berani sekali menyamakan ku dengan pria payah tidak berguna itu?! Dia hanya sedang beruntung karena mendapatkan wanita emas, kau yang hanya burung gagak jangan lah banyak omong! Lihat saja diri mu! Lihat bagaimana menjijikan dan menyebalkan wajah mu! Masih untung aku mau memungut mu untuk sekedar memuaskan ku, kalau tidak, sampai detik ini kau dan pria itu pasti hanya akan menjadi gembel yang hidup di kolong jembatan!"
Yuri menghela nafasnya, dia kembali tersenyum, tapi kali ini tatapan matanya benar-benar terlihat tajam menatap Win.
"Andai saja aku tahu akan jadi seperti ini hidup ku, maka menjadi gembel dan hidup di jalanan jauh lebih baik dan aku juga tidak akan menyesalinya sama sekali."
Win semakin tak tahan lagi menahan emosinya, dia meraih leher Yuri, mencengkram kuat dan menekannya. Yuri tentu saja kesakitan dan juga sesak, dia mencoba untuk memberontak dan memukul tangan Win, tapi Win justru tak bergeming sama sekali, dia justru semakin mengeratkan cengkraman tangannya.
"Berani sekali kau?! Kau pikir kau pantas mengatakan itu? Tidak, kau tidak memiliki hal apapun untuk bicara! Martin si brengsek bajingan itu sejuta lebih buruk dari manusia sampah! Walaupun kau memang sama sampahnya dengan dia, tapi aku akan membuah sampah ku ke tempat dimana dia tidak akan bisa memungut sampah ku!"
Bruk!
Win kembali menghempaskan tubuh Yuri kelantai, seketika itu Yuri terbatuk-batuk karena akhirnya oksigen bisa masuk ke tubuhnya.
"Jangan gila kau, Win! Bukan Martin yang sampah, tapi kau! Kau bilang aku sampah bekas kau pakai? Tidak, kau lupa ya? Aku adalah bekas Martin, kau merebut sampah ini darinya, kau menggunakan sampah ini hingga cukup puas kan? Kau pikir Martin akan memungut sampah sepertiku? Tidak, dia tidak akan melakukannya!"
Win kembali mendekati Yuri, meraih rambut Yuri dan menariknya hingga wajah Yuri terangkat berhadapan dengan langit-langit kamar.
__ADS_1
"Sekarang kau semakin terang-terangan membela dia ya? Kau pikir apa yang bisa dia lakukan untuk mu? Percuma kau membelanya, kalau dia dengar ini, dia pasti akan muntah kan?"
Bersambung.