Why?

Why?
Bonus Chapter


__ADS_3

Yuri membuka jendela kamarnya, dia menghirup udara pagi yang begitu segar berharap itu dapat membuat suasana hatinya membaik. Sudah beberapa waktu dia di tahan kayaknya tahanan di rumah besar dan mewah itu, dia tidak bisa pergi kemanapun dan tidak bisa bebas melakukan apapun seperi biasanya. Dua puluh empat jam dia terus di awasi, jika bukan Win, maka yang mengawasinya adalah asisten rumah tangga. Mungkin bukan kabur yang mereka takutkan, tapi mereka takut Yuri akan melakukan hal nekad seperti, bunuh diri.


Tentu saja Yuri masih belum ingin mati walaupun di penjara dalam sangkar emas seperti itu, dia masih ingin melihat putrinya tumbuh menjadi gadis yang cantik dan baik seperti Helena dan Martin, dia jugaaish ingin menonton janjinya untuk kembali datang kepada Sofia pada saat dia sudah menjadi pribadi yang lebih baik, dan bisa menjadi Ibu yang baik untuk Sofia.


"Apa yang kau lakukan dengan menatap ke arah luar? Apa kau ingin loncat ke bawah? Kau ingin mengakhiri hidup dengan cara konyol itu?" Win berucap seraya melingkarkan tangannya memeluk bagian perut Yuri dengan erat seolah dia sedang meyakini jika Yuri memang ingin loncat dari sana.


"Jangan bodoh, kalaupun kau nekad loncat, paling yang kau dapatkan hanyalah patah tulang dan sedikit berdarah. Jangan harap kau akan mati semuda itu jika ada aku di dekat mu."


Yuri kembali menghela nafasnya, sungguh setelah di tahan oleh Win doa benar-benar tidak lagi banyak bicara seperti sebelumnya yang meminta untuk di lepaskan. Dia sudah lelah, sebanyak apapun dia memohon nyatanya Win tidak akan mengabulkannya bukan?


"Sudah hampir delapan hari aku menahan diri karena kau sedang datang bulan, sekarang tentu saja kau sudah selesai kan? Karena ini juga akhir pekan, jangan harap kau bisa tenang."


Yuri masih tak mengatakan apapun, sampai saat tangan Win mulai menyusup masuk ke dalam baju tidur model celana dan atasan. Satu tangan Win menyentuh bagian dada, dan satu tangannya lagi menyentuh bagian inti milik Yuri.


"Apa kau mulai nyaman dengan tubuh wanita yang pernah melahirkan? Kau tidak mungkin lupa kalau aku memiliki beberapa bagian tubuh yang sudah kendur kan? Ayolah, tubuh jelek ku ini tentu saja bukan selera mu."


Win menghentikan kegiatannya, dia menggunakan kedua tangannya untuk membalikan tubuh Yuri agar mereka bisa saling menatap.


"Apa kau mulai tidak percaya diri? Jika itu masalahnya bagaimana kalau aku antar kau menemui dokter kecantikan? Kau bebas melakukan perawatan apapun, bukankah dulu juga begitu?"


Yuri tersenyum sinis, matanya kini menatap Win dengan tatapan matanya yang memperlihatkan bahwa dia bahkan tidak menginginkan apapun jika bersangkutan dengan Win.


"Apakah kau pikir aku masih ingin melakukan banyak hal untuk menyenangkan mu? Sadarlah, kau tidak lagi sepenting itu di mata ku."


Win hanya membuang nafas, dia tidak memperlihatkan emosi apapun dan memilih untuk menempel kan tubuh Yuri kepada tubuhnya. Sejenak dia berpikir apakah sudah saatnya dia mengatakan apa yang seharusnya dia katakan? Selama beberapa bulan ini Win banyak merenung dan mencaritahu tentang perasaannya kepada Yuri. Dia mencoba untuk mengacuhkan Yuri selama dua hari dan nyatanya dia tidak sanggup lebih dari itu, dia mencoba untuk memikirkan jika saja Yuri menikah dengan pria lain, dan lagi-lagi dia tidak bisa menerima itu. Semakin dia memikirkan itu, Win justru semakin tak dapat mengontrol dirinya yang semakin masuk lebih dalam untuk mencintai Yuri. Untuk pertama kalinya dia merawat Yuri saat Yuri sakit, demam tinggi, di saat itu pula Win mulai menyadari bagaimana perasaan takut yang begitu besar begitu dia rasakan. Dia tidak ingin kehilangan Yuri, tidak ingin sendiri tanpa Yuri. Win juga kembali menjalin hubungan dengan beberapa gadis muda, melakukan apa yang ingin dia lakukan terutama untuk urusan ranjang. Tapi nyatanya, Win masih tidak mampu menghilangkan Yuri dari pikirannya. Pada akhirnya Win memutuskan untuk tetap bersama Yuri, dan tidak lagi memiliki wanita selain Yuri. Memang Yuri terlihat begitu menolaknya dari hari ke hari, tapi Win juga tidak akan menyerah apapun yang terjadi. Dia akan tetap mengejar cinta istrinya tidak perduli butuh berapa lama waktu yang akan di habiskan.

__ADS_1


"Tentu saja aku cukup sadar, tapi sayangnya aku masih tidak memiliki niatan untuk melepaskan mu."


Yuri menghela nafasnya, benarkan apa yang dia katakan? Win memang egois, dua tidak akan menerima pendapat orang lain, dia hanya mementingkan diri sendiri, juga paling mencintai diri sendiri.


"Berhentilah untuk bermain seperti ini, Win. Mau sampai kapan kau menahan ku hanya karena kau belum merasa bosan saja? Hidup mu adalah hal yang paling berharga, berhenti menyia-nyiakan masa ini untuk hal yang tidak berguna."


"Baiklah, aku akan mengunakan waktu yang berharga ini dengan baik. Jadi aku akan berusaha lebih keras lagi agar kita memilki anak, sekarang bantu aku melahirkan anak, minimal tiga baru aku akan pikirkan lagi untuk melepaskan mu."


Yuri menjauhkan tubuhnya dari Win, menampar Win cukup kuat tapi Win benar-benar tidak terlihat kesal sama sekali.


"Kau anggap apa aku ini, Win?!" Kesal Yuri.


"Aku menganggap mu sebagai segalanya, jika kau pergi maka segalanya juga akan pergi. Cinta, harapan, kebahagiaan, harapan, semuanya akan pergi jika aku melepaskan mu."


Yuri terdiam membeku mendengar jawaban dari Win yang benar-benar di luar dugaan. Tangannya yang dia gunakan untuk menpar Win tadi kini gemetar cukup hebat karena kalimat yang keluar dari mulut Win sungguh membuat dadanya sesak.


Win meraih tangan Yuri, erat dia menggenggam tangan Yuri dan menatapnya dengan sungguh-sungguh.


"Anggaplah ini kesempatan terakhir bagiku, asalkan kau membuka kembali hati mu untuk ku, aku bersumpah akan menentukan apa yang kau inginkan, melakukan apa yang kau inginkan. Percayalah selama kau bersama denganku, Win yang bajingan ini akan menjadi pribadi yang lebih baik, aku bersumpah." Win membawa tangan Yuri ke kepalanya, Win benar-benar bersumpah dengan sungguh-sungguh.


"Aku tidak ingin mempercayai mu!" Ucap Yuri.


"Maka biarkan aku membuktikan padamu."


Sejak itu Win benar-benar berusaha menjadi pria yang baik, dia selalu mengutamakan apa yang di inginkan Yuri, bahkan dia juga mulai belajar bicara yang baik terhadap anak-anak agar dia tidak kaku saat bertemu dengan Sofia, bahkan Win juga diam-diam melegalkan pernikahan mereka.

__ADS_1


Selama dua tahun terakhir Yuri memang masih tidak mempercayai Win, tapi belakangan Yuri mulai luluh dan merasa cukup terkesan melihat Win bisa sedikit lebih dekat dengan Sofia. Sekarang Sofia akan berada di sana saat akhir pekan saja, dan hari demi hari akhirnya Sofia dan Win juga bisa menjadi baik, jauh lebih baik dan tidak ada perasaan canggung lagi.


Satu tahun setelah itu, Yuri melahirkan anak laki-laki dari Win. Lahirnya anak laki-laki pertama bagi Win dan Yuri benar-benar di sambut hangat oleh keluarga, bahkan Ibunya Win juga sudah tidak menunjukan rasa tak sukanya lagi terhadap Yuri karena sekarang yang dia inginkan hanyalah putranya bahagia.


Ayahnya Win dan Martin kini hanya bisa menghabiskan lebih banyak waktu di kamar saja karena kesehatan yang tidak kunjung membaik. Dia kini sadar benar bahwa dia tidak bisa menuntut siapapun setelah kesalahan yang dia lakukan. Dia sudah pernah menyampaikan permohonan maaf terhadap Win, tapi tanggapan Win cukup menyadarkan jika dia tidak boleh banyak berharap.


Hari ini adalah ulang tahun Ayahnya Martin dan Win yang ke tujuh puluh. Dia hanya bisa menatap ke arah jendela dengan kedua matanya yang sudah tak lagi bisa melihat dengan jelas. Sekarang dia hanya akan hidup dengan rasa penyesalan atas luka yang pernah dia berikan kepada anak, dan istrinya.


"Selamat ulang tahun, Ayah." Ucap Martin seraya membuka pintu membuat Ayah menoleh ke belakang, dia sempat terkejut dan kini tersenyum dengan matanya yang mulai berair karena bukan hanya Martin saja yang datang melainkan ada Helena yang memegang kue ulang tahun bersama Sofia dan Tiger, Yuri dan Jason putranya, juga Win yang tak terlhat menunjukan ekspresi apapun namun tetap saja kedatangan mereka membuat Ayah merasa sangat bahagia.


Selesai.......


( Sejatinya tidak ada kejahatan sempurna yang bisa menang, tapi kebenaran yang cacat tetap akan terkuak, menang pada akhirnya. Kalahkan perasaan dan keinginan jahat, kalahkan ke keegoisan yang sejatinya adalah sebuah bom waktu. )


(Jangan katakan Tuhan jahat saat kau menangis dan merasakan kepedihan, karena saat bahagia, sedetik saja mungkin untuk mengingat Tuhan. Percayalah Tuhan tetap bersama mu meski kau lupa jika Tuhan itu ada. )


Halo kesayangan?


Terimakasih banyak atas dukungannya di karya ini. Maafkan banyaknya Typo yang belum sempat di perbaiki, dan maaf jika ceritanya kurang berkesan dan jauh dari kata bagus.


Sungguh!


Bisa menyelesaikan sebuah cerita adalah kebanggaan tersendiri untuk author receh ini, dukung terus Author ya.....


Mampir juga ke karya baru Author ya ☺️

__ADS_1


" One Night Special "


Di tunggu ya.........❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2