Why?

Why?
Kegundahan Hati


__ADS_3

Helena mengeryit saat melihat media sosialnya dan mendapatkan kabar bahwa Ibunya tengah sakit, dan sudah sejak dua hari yang lalu. Sebentar dia hanya menghela nafas sembari menjauhkan ponselnya. Sebenarnya Helena juga merasa kasihan dan sedih, tapi mengingat bagaimana perdebatan mereka terkahir kali, Helena merasa jika menemui Ibunya sekarang adalah pilihan yang salah. Bukankah Ibunya akan merasa terganggu dengan adanya dia di sana? Canggung juga pasti akan di rasakan oleh keduanya jadi Helena memutuskan untuk tidak menemui Ibunya dulu.


Sebentar Helena meutuskan untuk membersihkan dirinya di bawah guyuran shower, lalu sebentar duduk di balkon apartemen sembari menikmati kegundahan hati yang dia rasakan karena pemakaman Denise sungguh membuat Helena mengingat bagaimana dia juga menangis sejadi-jadinya persis seperti yang Melisa lakukan.


Helena menghela nafasnya, memejamkan mata mencoba untuk menenangkan diri yang begitu rapuh itu. Ini sudah beberapa bulan sejak kepergian Velerie, hatinya masih saja sakit, marah, dan juga begitu menyalakan diri sendiri begitu pula dia menyalahkan dunia, serta Tuhan.


Setelah cukup lama berada di balkon Helena memutuskan untuk masuk ke dalam, tak sengaja dia melihat kembali layar ponselnya yang menyala sehingga dia tergerak untuk melihatnya. Ada tiga kali panggilan telepon, dan juga beberapa pesan yang masuk. Lagi, itu adalah kakak laki-lakinya dan juga Freya. Helena meutuskan untuk menerima saja panggilan suara dari kakaknya karena dia tahu ketika kakaknya sudah lebih dari dua kali menghubungi maka kalau tidak di ladeni akan menjadi panjang urusannya.


"Ada apa?" Tanya Helena begitu sambungan teleponnya terhubung.


Kau mau bersikap kekanakan sampai kapan?! Ibu sudah sakit, bukankah seharusnya kau sudah menerima pesan dari ku? Kau mau aku datang dan memohon dan bersimpuh di kaki mu, hah?!


Helena membuang nafasnya, sungguh dia benar-benar tidak tahu juga kenapa dia memiliki perasaan yang begitu ingin membatasi diri. Memang benar dia sering mendapatkan ketidak adilan di dalam keluarga, tapi perasaan untuk menjauh itu benar-benar tidak bisa di kontrol sama sekali oleh Helena.

__ADS_1


"Kau maunya aku bagaimana? Kalau aku datang, yang ada kau hanya akan menyalahkan ku atas semua yang terjadi bukan? Bisa jadi kau akan terus berteriak sesuka hati mu dan membuat Ibu jadi semakin sakit."


Jangan sok tahu! Memang kenapa kalau aku menyalakan mu? Sejak awal Ibu selalu saja paling memikirkan mu! Mulai saat kau mutuskan untuk menikah muda, lalu hamil dan melahirkan anak cacat! Belum lagi bercerai dan harus membiayai anak yang merepotkan padahal pada akhirnya dia tetap saja mati kan?! Kalau saja kau mendengarkan apa yang di katakan Ibu dulu, kalau saja kau menitipkan saja anak itu ke panti asuhan dan melanjutkan hidup tanpa anak mu yang cacat itu, Ibu pasti tidak akan sering sakit kepala dan tekanan darahnya yang sering naik!


Helena mengepalkan tangannya, bukankah apa yang di katakan oleh kakaknya seharusnya sudah sangat cukup?


"Benar, aku meutuskan semua jalan hidup ku sendiri, tapi pada akhirnya aku juga berjuang sendiri bukan? Dari pada terus mengorek letak kesalahan ku, bagiamana jika kau lihat tagihan bank bulanan mu, mungkin saja Ibu melihat tagihan yang belum kau bayar itu dan syok lalu sakit." Setelah mengatakan itu Helena segera menekan tombol untuk mengakhiri panggilan telepon mereka. Benar-benar membingungkan bukan? Datang atau tidak tetap saja dia akan menjadi orang yang paling salah, jadi untuk apa dia harus mendengar banyak omong kosong?


Helena tadinya ingin segera pergi tidur, tapi saat dia mendapatkan panggilan telepon kembali dari Airi, Helena segera membatalkan niatnya dan menerima panggilan terlebih dulu.


Helena segera menutup teleponnya dan bergerak keluar dari apartemen. Tujuannya adalah untuk datang ke apartemen yang Airi sewa karena Airi membutuhkan pompa asi. Bukannya tidak bisa membeli secara online atau meminta orang lain untuk datang, hanya saja untuk saat ini Airi hanya mempercayai Helena saja. Helena mampir ke sebuah toko peralatan bayi yang ada di pinggir jalan untuk membeli apa yang memang di butuhkan Airi, barulah setelah itu dia melanjutkan laju kendaraannya menuju apartemen Airi. Sungguh Helena benar-benar tidak sabar karena sudah beberapa hari ini dia tidak bertemu secara langsung dengan bayinya Airi yang di beri nama Diego itu. Sungguh Helena merasa bersemangat hingga tanpa dia sadari ada sebuah mobil yang sejak tadi mengintai dan mengikuti kemana Helena pergi.


Begitu sampai di apartemen Airi Helena bergegas untuk masuk, lalu dengan tersenyum dia membalas sapaan Airi. Airi benar-benar memutuskan untuk menjadi Ibu tunggal, bahkan uang operasi kemarin Airi memaksa Helena untuk menerimanya kalau tidak dia tidak akan bisa hidup dengan tenang.

__ADS_1


"Bagaimana kabar kalian beberapa hari ini?" Tanya Helena seraya mendekati keranjang bayi Diego.


Airi tersenyum menatap Helena yang kini sedang menatap Diego dan menatapnya dengan lembut.


"Kami sungguh baik-baik saja, awalnya memang terasa sulit apalagi ini kan pengalaman pertama ku menjadi Ibu. Sekarang kami benar-benar hidup dengan baik, semoga saja kedepannya tetap seperti ini."


Helena mengangguk paham, dulu dia juga kesulitan sekali saat harus menjadi Ibu di usia yang begitu muda, di tambah Velerie memiliki beberapa masalah kesehatan, terutama dengan paru-paru juga jantungnya. Tapi semua benar-benar telah dia lalui meski jalannya sungguh sulit karena harus menghadapi begitu banyak masalah. Di tolak mertua, orang tua kandung yang seperti tidak mendukung, David yang meninggalkan mereka berdua dengan air matanya. Yah, cukup berat dan menyakitkan selain, terutama saat David bersimpuh memohon ampun dan memukuli wajahnya sendiri karena pada akhirnya dia menyerah dan Haris meninggalkan Helena juga Velerie. Mengingat itu rasanya Helena memang masih merasa kesal dan kecewa, tapi karena dia mulai sadar jika David juga tidak berdaya waktu itu, Helena memutuskan untuk perlahan merelakan semua yang terjadi di dalam hidupnya, menjadikan semua itu sebagai proses untuk menjadi dewasa dan kuat.


Setelah dari apartemen Airi, Helena meutuskan untuk sebentar datang ke rumah Ibunya karena kakak laki-lakinya terus mengirim pesan dengan kalimat mengancam yah tidak jelas.


Satu jam perjalanan akhirnya Helena sampai, tadinya dia ingin langsung masuk dan melihat keadaan Ibunya, tapi mendengar apa yang sedang di bicarakan oleh kedua kakaknya membuat Helena membeku, dia cukup lama terdiam dan mendengarkan hingga dia merasa cukup.


Helena segera menjauh, dia berjalan dengan langkah kakinya yang gontai di barengi dengan air mata kemarahan.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2