
Airi menghela nafas, mendengar cerita Lukas dan bagiamana penampilan Lukas sekarang, sepertinya apa yang di katakan Lukas memang adalah sebuah kebenaran. Tapi sayangnya dia tidak merasa goyah atau merasa Ibu karena hatinya seperti benar-benar mati rasa sekarang.
"Karena kita sudah bertemu, apa yang ingin kau katakan?" Tanya Airi yang seketika itu membuat Lukas terdiam dengan segala pemikiran dan harapannya.
Lukas mengeraskan rahangnya, dia tiba-tiba saja merasa ragu terhadap apa yang selama ini dia inginkan jika bertemu dengan Airi. Dia ingin memeluk Airi, dia ingin memohon ampunan dan membujuk Airi untuk pulang bersama anak mereka, lalu mereka akan hidup dengan bahagia serta melupakan masa lalu yang menyakitkan. Sungguh ironis sekali karena Lukas begitu bodoh menganggap semua itu akan terwujud seolah yang memiliki hati hanyalah dirinya saja, dia lupa kalau Airi pasti akan merasakan sakit hati yang bukan tidak mungkin sama sekali tidak memilki minat kembai padanya.
"Berhentilah membuang waktu ku, kau seharusnya tahu apa yang kau pikirkan tidak pernah bisa kau dapatkan bukan?"
Lukas tak mampu lagi mengangkat wajahnya untuk menatap wanita yang dia cintai namun dia khianati itu. Sungguh dia tahu benar bahwa menunjukkan beberapa menyesalnya dia hanya akan mendapatkan balasan kebencian dari Airi. Dia ingin mendapatkan maaf dan hidup bersama sembari memperbaiki diri dan belajar menjadi sosok suami serta Ayah yang baik untuk istri dan anaknya. Namun, gestur dan cara Airi berbicara benar-benar sangat tidak sama seperti dulu, sekarang Airi nampak sangat kuat, tegar, dan juga percaya diri. Padahal dulu Airi benar-benar bergantung dengannya, Airi juga adalah wanita yang manja dan pecemburu. Perubahan Airi tentu saja karena apa yang telah di lakukan Lukas, tapi apakah sungguh mereka tidak memiliki kesempatan untuk bersama walau alasannya adalah anak? Dia ingin menunjukkan bahwa dia mampu menjadi yang terbaik versinya, tapi kenapa semua seperti sangat mustahil dengan konsisi Airi dan dirinya sekarang?
__ADS_1
"Kau sepertinya memang tidak ingin bicara ya? Padahal aku sudah memancing mu dengan begitu banyak kalimat, sepertinya kau cukup paham dan seharusnya sudah tidak ada lagi yang perlu di bicarakan."
Lukas mengepalkan tangannya lebih kuat, dia ingin mengatakan semua yang dia pikirkan tapi apakah dia pantas untuk mengatakannya? Sungguh dia boleh mengatakannya? Lukas terdiam sebentar, mecoba menguatkan diri dan berusaha sebaik mungkin untuk berbicara sesuai apa yang dia inginkan tapi tanpa menyakiti Airi.
"Airi, aku minta maaf. Maafkan aku dengan segala sikap buruk ku yang aku sendiri juga terlalu malu untuk mengakuinya. Maaf karena aku masih saja tidak bisa memahami seberapa pentingnya hubungan kita, maafkan aku yang telah menodai pernikahan kita, dan maafkan aku yang tidak pernah bisa memberikan kebahagiaan untuk mu." Lukas semakin tertunduk lesu, dia sedih dan kesal mengingat betapa bodoh dan jahatnya dia dulu. Dia mengkhianati Airi dari sebelum Airi hamil dan berlangsung cukup lama. Bejad, mungkin itu adalah kata yang pantas untuk menggambarkan semua yang telah dia lakukan.
Selama bertahun-tahun dia melakukan segala cara untuk bisa hamil, agar suaminya bahagia, dan agar mertuanya tidak terus mendesak dah menuntut adanya keturunan mengingat Lukas adalah anak laki-laki tunggal. Tapi sayang sekali, kehamilan yang berat tapi menyakitkan, dan juga membahagiakan terasa hanya sakit dan air mata yang dia rasakan sejak Lukas berselingkuh, parahnya partner selingkuhnya adalah adik kandung Airi sendiri. Belum lagi saat orang tua Lukas ikut menyalahkan dirinya, terutama Ibunya Lukas. Wanita paruh baya itu seolah memojokkan Airi, menuntut Airi untuk harus mengerti dan memaklumi apa yang Lukas lakukan seolah berselingkuh adalah hal yang normal dan bisa saja terjadi kalau istrinya banyak kekurangan dalam pernikahan. Sungguh sangat tidak adil bukan? Saat Airi belum juga hamil, mereka menyalakan Airi, saat suaminya berselingkuh juga mereka menyalahkan Airi, mereka semua seperti tidak memiliki hati dan lupa kalau mereka memiliki anak perempuan juga. Apakah mereka tida berpikir kalau saja nantinya anak mereka akan di perlakukan seperti Airi oleh mertuanya?
Airi tersenyum kecut, mengingat bagaimana perlakuan orang tua Lukas serta para iparnya, hanya orang bodoh saja yang bisa bertahan lama mengahadapi kejamnya lidah mereka, dan bagaimana bengis tatapan mereka yang seolah ingin menendang Airi keluar dari rumah mereka.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan mencoba untuk memaafkan mu. Tapi aku tidak bisa kembali padamu, aku juga tidak bisa membuka hati untuk mu. Menikah dengan mu tentu saja ada masanya aku bahagia, tapi luka yang kau juga keluarga mu berikan sungguh tidak sebanding. Aku memutuskan untuk pergi bukan hanya karena kemarahan sesaat saja, aku pergi karena aku memang sudah tidak sanggup lagi harus mengahadapi semua itu. Kau, dan juga keluarga mu sepertinya harus berunding untuk menemukan istri yang tepat untuk mu. Kau tahu benar bagiamana mereka terhadap mu entah seberapa berusaha nya aku kan? Di kemudian nanti, tolong lebih hargai wanita mu, hargai dan sayangi dia karena jika tidak kau hanya akan terus kehilangan."
Airi menatap Lukas yang terlihat sedih dan kecewa. Yah, mungkin yang Lukas harapkan bukanlah yang seperti ini. Mengenai hubungan pernikahan mereka, tentu saja dia bisa dengan mudah menuntut perceraian karena bukti yang dia miliki juga sudah jelas bahwa suaminya berselingkuh dengan adik kandungnya sendiri. Mengenai putranya, Pengadilan tidak akan mungkin mengerahkan bayi yang bahkan masih menyusui kepada pihak Ayah kan? Posisi Airi benar-benar kuat sekarang, jadi Airi tidak perlu merasa takut dengan hal apapun.
"Airi, aku tahu aku memiliki kesalahan yang tidak termaafkan, tapi apakah tidak bisa kita berusaha lagi untuk anak kita?" Lukas menatap Airi dengan tatapan matanya yang terlihat sangat memohon, matanya juga memerah seperti menahan tangis.
"Tidak. Aku tidak akan membiarkan putraku negara di lingkungan yang tidak baik, aku tidak ingin putra ku terkontaminasi prilaku keluarga mu. Mereka selalu saja mencari-cari kesalahan ku, aku tidak akan mungkin membawa putraku kesana dan menghancurkan mental putraku."
Bersambung.
__ADS_1