Why?

Why?
Happy Ending


__ADS_3

Helena tersenyum lebar menatap benda kecil di tangannya, benda itu adalah alat penguji kehamilan, dan hasilnya adalah positif. Perlahan Helena mengusap perutnya yang masih rata, tidak pernah dia bayangkan sebelumnya kalau dia akan memiliki anak lagi setelah Velerie, tai sekarang dia benar-benar siap untuk menyambut anak keduanya. Sebagai seorang Ibu tentu saja Helena mengharapkan keselamatan, kesehatan, dan semoga saja anak yang akan dia lahirkan nanti akan lahir tanpa adanya kekurangan apapun.


"Bagaimana, sayang?" Tanya Martin yang sebenarnya sejak tadi dia sudah sibuk mondar mandir di depan pintu kamar mandi. Demi membelikan alat uji kehamilan, dia benar-benar menggunakan jam istirahatnya untuk segera pergi me apotik dan membeli alat penguji kehamilan. Tadinya Helena meminta agar saat pulang saja Martin membelinya, tapi Martin benar-benar tidak sabaran sehingga langsung saja dia menggunakan jam kerjanya untuk pulang.


"Ini!" Helena memberikan alat uji kehamilan kepada Martin, dan seperti dugaan Helena, Martin akan langsung mencium pipi, mata, hidung, bibir, dahi, semuanya tanpa terkecuali lalu berkali-kali mengucapkan terimakasih yang membuat Helena benar-benar merasa risih mendengarnya.


"Sayang, sekali lagi terimakasih, dan maaf karena sembilan bulan kedepannya pasti kau akan mengalami banyak sekali rintangan untuk kehamilan ini. Walaupun aku memang tidak akan tahu bagaimana rasanya hamil, tapi aku akan berusaha ada saat kau butuh."


Helena tersenyum lalu mengangguk setuju. Yang Helena ingat pada saat hamil Velerie adalah, dia benar-benar selalu ingin menempel terus dengan David, dan kalau benar berarti dia juga akan seperti itu lagi kan?


Kabar kehamilan Helena benar-benar menjadi kabar yang sangat membahagiakan untuk Ibunya Helena, dan juga Tuan Feto. Meski di dalam penjara, Tuan Feto tetap memerintahkan beberapa orang untuk menjaga Helena dari jarak jauh, bahkan pembantu yang bekerja di rumah Helena juga adalah orang yang menerima bayaran dari Tuan Feto lewat orang asisten sekretaris Tuan Feto. Kali ini Tuan Feto benar-benar ingin yang terbaik untuk anak dan calon cucunya, jadi dia ingin semua serba terjamin. Ibunya Helena juga benar-benar memperhatikan segala sesuatu tentang Helena, dia juga tidak ragu mengajak Sofia untuk ikut dengannya menginap di apartemen agar Helena bisa lebih banyak istirahat. Maklum saja, Sofia adalah anak yang sangat aktif, dan dia hanya menginginkan Helena untuk bermain dengannya. Pernah beberapa kali Helena sampai ketiduran sembari memegang mainannya Sofia. Sebenarnya Helena juga berat kalau harus membiarkan Sofia tidur di rumah Ibunya Helena, dia juga sering mengabaikan perasaan lelah karena tidak mungkin menolak ajakan Sofia untuk menemaninya bermain. Helena tidak ingin Sofia salah paham dengan adiknya dan menganggap bahwa semua orang tidak lagi menyayanginya. Tapi syukurlah, Sofia juga dekat dengan Ibunya Helena, bagi Sofia Ibunya Helena benar-benar adalah nenek kandungnya.


Sedangkan Martin, pria itu benar-benar di sibukkan dengan pekerjaannya yang bukan lagi banyak namanya. Semenjak kasus Helena selesai, firma hukum yang lusuh itu kini menjadi firma hukum favorit, banyak para petinggi dan tokoh ternama, terkenal menggunakan jasa firma hukumnya. Kasus mengenai adik dari sahabatnya, Martin sudah mengajukan permohonan untuk menggelar sidang ulang, dan setelah proses yang cukup pelik dan dramatis akhirnya pengadilan memutuskan untuk mengabulkan permohonan sidang ulang yang rencananya akan mulai di gelar bulan empat mendatang.


Jam pulang bekerja tiba, Martin benar-benar tidak membawa pekerjaan ke rumah, dia ingin fokus dengan keluarganya saja, dan seperti itulah kebiasaan Martin setiap hatinya. Apa yang terjadi pada pernikahan pertamanya sudah cukup membuat Martin mendapatkan banyak pelajaran jadi sebisa mungkin dia akan melakukan apa yang memang harus di lakukan seorang suami, masalah pekerjaan akan dia kerjakan di tempat kerja saja tentunya.


Hari demi hari telah terlalui, Mada kehamilan Helena benar-benar dia jalani dengan suka duka bersama keluarga yang selalu mendukungnya. Benar-benar Tuhan itu begitu adil, setelah semua kesedihan yang di lalui hingga Helena hampir saja bunuh diri, kini Tuhan memberikan limpahan kebahagiaan yang tiada habisnya. Ibu yang dulu seperti tak perduli kini dia menjadi salah satu orang yang paling mengkhawatirkan Helena. Martin, pria itu sama sekali tak pernah mengatakan lelah dalam memenuhi ngidam Helena, dia juga selalu berusaha menjadi suami yang baik meski tetap saja mereka juga sering cekcok bahkan untuk hal yang sepele. Tapi, untunglah mereka tak memikirkan tentang perpisahan sama sekali seberat apa ujian rumah tangga yang mereka lewati.


Masa untuk melahirkan tiba.


Meski Helena mendapatkan beberapa masalah saat akan melahirkan, syukurlah dia benar-benar bisa melahirkan anaknya dengan selamat memalui operasi bedah Caesar. Setelah perjalanan panjang, menegangkan, suka duka yang telah di lalui, apalagi hormon hamil yang begitu mempengaruhi suasana hati Helena kini telah terbayarkan dengan lahirnya anak kedua mereka.


"Selamat Tuan dan Nyonya. Anaknya seorang laki-laki, kondisinya sehat dan tidak kekurangan apapun."


Kalimat yang keluar dari mulut Dokter seraya mengangkat tinggi anak Helena agar Helena dan Martin bisa melihat bayi mereka membuat Helena dan Martin kompak menangis bahagia.


"Anak kita, dia, dia benar-benar sehat?" Tanya Helena yang juga tak bisa menahan air mata harunya.

__ADS_1


Martin mengangguk, lalu mencium kening Helena.


"Benar, dia sehat selain, dia gendut."


Helena semakin terisak bahagia. Dia mengucapkan banyak terimakasih kepada Tuhan karena memberikan angka yang sehat tanpa adanya kekurangan. Setidaknya dia tidak perlu lagi melihat anaknya menjadi bahan perundungan seperti Velerie si Putri bidadari yang kini tengah tersenyum bahagia melihat Ibunya bahagia.


Tiga tahun kemudian.


"Tiger!" Helena menghela nafas menahan kesal, padahal baru saja dia selesai membersihkan dapur, dan kini dapur kembali kotor berantakan karena putra Helena yang di beri nama Tiger itu memporak-porandakan susu formula hingga hampir semua lantai dapur rumahnya berantakan. Dia benar-benar lelah, tapi juga tidak bisa mengeluh dan mau tidak mau dia harus membersihkan itu sendiri karena pembantu rumahnya sedang tidak enak badan.


"Ibu, aku bantu ya?" Sofia tersenyum begitu cantik membuat Helena kehilangan kekesalannya. Yah, Sofia paling pandai memperbaiki suasana hatinya.


"Tidak sayang, Ibu bisa sendiri. Tolong ajak main Tiger di rumah tengah ya?" Pinta Helena yang langsung di angguki oleh Sofia.


Helena menghela nafasnya.


"Ibu, ngomong-ngomong nenek kemana? Dia kok belum juga datang?" Tanya Sofia yang tiba-tiba saja berbalik untuk menanyakan itu.


"Tidak tahu, mungkin nenek sedang ada urusan di luar. Sebentar lagi Ayah pulang, jadi menjaga Tiger cuma sebentar. Tolong ya sayang?"


"Oke, Ibu!"


Beberapa saat kemudian.


"Ayah pulang!" Martin berjalan cepat, langsung mencari keberadaan Helena, tapi karena dia bertemu lebih dulu dengan kedua anaknya, tentu saja dia langsung menghampiri kedua anaknya dan memeluk mereka bersamaan.


"Ibu di mana?" Tanya Martin.

__ADS_1


"Sedang di dapur, barusan Tiger menumpahkan susu formulanya."


Martin menatap putranya yang terlihat takut dan langsung terdiam. Yah, kalau begitu mana mungkin Martin bisa kesal kan? Toh yang laing penting anaknya baik-baik saja kan?


"Tiger, besok jangan lagi oke?"


"Oke!" Jawab Tiger dengan cara bicara khas anak umur tiga tahun.


Segera setelah itu Martin berjalan menuju dapur, dia benar-benar tersenyum melihat bagiamana Helena yang terlihat bergerundel seperti kebanyakan para Ibu-ibu rumah tangga lainya. Martin membuka kancing lengannya, menggulung sampai ke lengan, lalu perlahan berjalan menuju punggung Helena, dan memukul bokong Helena membuat Helena terperanjat kesal.


"Kau ini kenapa kebiasaan sekali sih?! Apa kau tidak bisa menyapa dengan cara yang lebih baik? kenapa setiap kali pulang bekerja selau memukul bokong ku?! Kalau kau menyebalkan begini, bisa-bisa aku- Em!" Helena tak bisa lagi melanjutkan ucapannya karena Martin sudah lebih dulu membungkam mulut Helena dengan bibirnya.


"Sekarang biarkan aku yang bantu ya, istriku sayang?" Martin tersenyum lebar membuat Helena benar-benar sudah tak merasakan kesal lagi.


Helena menyerahkan gagang kain pel kepada Martin.


"Jangan salahkan aku yang tidak pengertian, ini semua salah anak mu! Jadi mau tidak mau kau yang harus merapihkan."


Martin terkekeh, dia kembali memukul pelan bokong Helena dan membiarkan saja Helena kembali bergerundel sembari meninggalkan dapur.


Jangan tanya dia lelah atau tidak, karena jawabannya adalah dia sungguh lelah. Tapi ma bagaimana lagi? Dia memang lelah dengan pekerjaan, jadi untuk keluarga tentu saja beda urusan.


Di sisi lain.


Ibunya Helena tersenyum menyambut seseorang yang kini berjalan ke arahnya. Orang itu adalah Tuan Feto, hari ini dia telah di bebaskan dari penjara dan siap kembali menjalankan kehidupan.


"Terimakasih sudah datang." Ujar Tuan Feto lalu tersenyum kepada Ibunya Helena.

__ADS_1


TAMAT


__ADS_2