Why?

Why?
Keyakinan Penuh


__ADS_3

"Pengacara Martin, apa anda sungguh yakin akan menyeret Tuan Feto?" Seorang petugas kepolisian itu terlihat ragu, tapi memang siapa yang tidak mengenal Tuan Feto? Dia di nobatkan sebagai raja bisnis di kota mereka tinggal, dan dia juga di kenal sangat merakyat, juga tegas dalam menangani masalah korupsi. Sebelum menjabat sebagi salah satu tokoh ternama yang penting, mengenai harta kekayaan Tua Feto memang terbilang bersih, jadi kemungkinan untuk melakukan korupsi benar-benar mendekati nol persen.


Martin tersenyum dengan tatapan dingin, yakin? Bahkan dia tidak pernah merasa seyakin sekarang ini dalam bertindak. Tuan Feto memang memiliki koneksi bisnis yang luas, orang yang bergaul dengan dia juga sudah pasti orang dari kalangan atas. Tapi, Martin benar-benar merasa yakin dapat menyelesaikan masalah ini, lalu kembali mengajukan untuk menggelar sidang ulang atas tragedi yang menewaskan Ibunya, juga membuat pelaku yang telah melecehkan adik sahabatnya hingga adik sahabatnya memilih untuk mengakhiri hidupnya.


"Apa aku terlihat seperti sedang tidak yakin?"


Polisi itu terdiam, bukan merasa tidak yakin akan kemampuan Martin yang telah menunjukkan taringnya beberapa waktu terakhir ini, hanya Tuan Feto memang orang yang memiliki kekuasaan tinggi, dia khawatir akan terjadi sesuatu dengan Martin dan pihak kepolisian terlambat untuk mengetahui dan menyelamatkannya.


"Tuan, aku sungguh mengapresiasi keberanian anda, tapi saya merasa akan lebih baik jika anda tidak terlalu blak-blakan. Saya mengkhawatirkan keselamatan anda, Pengacara Martin."


Martin tersenyum, menatap polisi itu dan menghela nafas. Ternyata dia benar-benar terlihat begitu mengkhawatirkan keselamatan dirinya, jadi Martin bisa sedikit lega karena tenyata ada banyak juga polisi yang bekerja dengan hati dan kejujuran. Selama berjalannya kasus Velerie ini, Martin tersadarkan jika masih ada sebagian besar oknum yang memiliki kredibilitas dan kejujuran, bekerja dengan hati, dan tidak segan membantu dan dengan tangan terbuka menyambut serta mendengar keluh kesah masyarakat biasa.


"Tenang saja, apa yang terjadi sebulan yang lalu sudah cukup mengajarkan bahwa aku memang harus ekstra hati-hati."


Polisi itu menghela nafas, lalu mengangguk.


"Anda juga tidak ingin melaporkan kejadian itu untuk kami cari pelakunya?" Tanya Polisi yang memang sudah mengetahui tentang kejadian itu.


Martin berdecak, lalu tersenyum membayangkan betapa gilanya orang hingga pada akhirnya terus ingin membunuh hanya untuk menyelamatkan diri.


"Orang yang memiliki niat untuk membunuh, entah motifnya uang atau apapun, intinya dia sudah hampir mendorong nyawaku untuk jatuh ke lembah Kematian, jadi kenapa aku harus melepaskan dia? Aku datang juga untuk memprosesnya."


Polisi itu mengangguk paham, lalu segera mengerjakan apa saja yang perlu dia kerjakan untuk melayani Martin.


Setelah semuanya selesai, Martin memutuskan untuk sebentar kembali ke kantor, niatnya adalah untuk menjemput Sofia dan akan dia titipkan kepada Helena yang sudah sampai di apartemen, sudah pulang bekerja.

__ADS_1


Begitu sampai di kantor, Martin di buat begitu terkejut melihat beberapa petugas toko elektronik mondar-mandir membawa perangkat komputer, laptop, mesin photocopy dan scan, perabotan seperti tak untuk dokumen, bahkan mesin pembuat kopi juga.


"Tunggu, siapa yang memesan ini semua?"


"Martin! Martin!" Panggil seorang pengacara yang sudah Senior di sana, usianya sekitar lima puluh tahunan. Dia bergegas menuju Martin dengan mimik wajahnya yang terlihat begitu bersemangat.


"Ada apa, Pak? Ini kenapa ada banyak barang baru?"


"Semua berkatmu, benar-benar berkat kerja kerasmu! Pemerintah menyoroti kerja kerasmu, begitu dia tahu di sinilah kantor kau bekerja, dia langsung mengirimkan semua barang-barang ini! Kau adalah bintang Keberuntungan kami, Martin! Bahkan, sekarang firma hukum kita sudah mulai kebanjiran job!"


Semua pengacara yang bekerja juga sudah di luar, mereka tersenyum seolah berterimakasih kepada Martin telah memberikan perubahan, telah mendatangkan rejeki untuk mereka semua yang hampir putus asa. Usia mereka sudah tidak muda, jadi wajar saja mereka hampir tak memiliki harapan cerah lagi. Asalkan bisa mendapatkan sedikit untuk makan keluarga mereka saja mereka sudah benar-benar merasa senang.


Martin tersenyum, melihat semua wajah yang tulus, melihat bagaimana putrinya nampak nyaman di gendongan pria yang paling senior di sana, rasanya Martin benar-benar merasa bersyukur pada akhirnya dia berada di tempat yang benar. Tempat yang memanusiakan dirinya, tempat yang bisa dia sebut keluarga selain keluarga aslinya, mereka bahkan bisa dengan mudah tertawa hanya dengan membicarakan secangkir kopi. Sungguh berbeda dengan firma hukum dimana dia bekerja sebelumnya, dia sana dia hanya akan di anggap rendah, tak ada yang Sudi memperlakukannya dengan baik, tidak ada yang mau juga menganggapnya benar-benar seorang pengacara.


"Semangat!"


dia orang terkekeh melihat bagaimana Martin memeragakan ekspresinya hingga mengangkat tinggi kedua tangannya, mimiknya lagi lebih lucu sehingga Sofia ikut tertawa melihatnya.


Beberapa saat kemudian.


Martin membawa Sofia untuk datang ke apartemen Helena karena sampai malam nanti rencananya Martin dan kawan-kawannya akan mengerjakan pekerjaan penting alias lembur jadi tidak mungkin membiarkan Sofia terus berada di sana karena takut nanti akan terganggu dengan suara mereka.


Sesampainya di apartemen Helena.


"Eh, Sofia sudah datang?" Helena tersenyum menyambut kedatangan Sofia.

__ADS_1


"Selamat malam, Ibu? Aku boleh kan tinggal di sini sementara?" Tanya Sofia, ( cara bicara yang tidak jelas, cadel )


Helena mengeryit, lalu menatap Martin dengan mata uang menyipit sebal. Ibu? Tunggu dulu, kenapa bisa tiba-tiba saja Sofia memanggilnya Ibu?


Martin tentu saja tahu apa maksud tatapan matanya Helena, tapi dengan segera dia membuang tatapannya agar tak bertemu dengan tatapan mata Helena yang seperti sedang protes terhadapnya.


"Ibu, aku mau di gendong Ibu!" Ucap Sofia sembari mengangkat kedua tangannya, meregangkan meminta Helena untuk menggendongnya.


Helena benar-benar hanya bisa menghela nafas, kau tersenyum karena tidak mungkin baginya menunjukkan wajah tidak enak kepada Sofia yang tidak tahu apa-apa bukan?


Setelah mengambil Sofia, Helena kini menatap Martin yang masih mencoba mengindari kontak mata dengannya.


"Kau sedang menguji kesabaran ku ya, Tian Martin?"


Martin memaksakan senyumnya yang terlihat kikuk sembari menggaruk tengkuknya yang gak gatal.


"Latihan dari sekarang kan tidak masalah, nanti waktu kita sudah menikah Sofia pasti sudah terbiasa."


Helena membuang nafasnya.


"Siapa yang akan menikah denganmu?"


"Duh duh! Kenapa harus bertanya sih? Mana mungkin aku meminta Sofia memanggilmu Ibu kalau yang akan ku nikahi wanita lain?"


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2