
"Berhentilah untuk mengancamku, Melisa. Memangnya apa yang aku lakukan? Memang aku dan Helena melakukan apa sampai kau mengatakan seolah aku dan Helena berselingkuh di belakang mu? Ingatlah baik-baik Melisa, Helena bukan lah wanita rendahan yang akan melakukan hal serendah itu!" David menatap Melisa dengan begitu tegas dan marah. Tahu, bagaimanapun Melisa adalah istrinya, wajib pula untuknya mengutamakan Melisa, tapi keadaannya sekarang sedang tidak mendukung jadi David benar-benar tidak bisa terus mentolelir kesalahan Melisa yang cukup keterlaluan.
"Helena bukan wanita rendahan? Jadi, apakah kau ingin mengatakan jika aku adalah wanita rendahan?" Melisa menaikkan satu alisnya menatap David seolah pertanyaan itu sedang mengejek dirinya.
David membuang nafasnya, entah harus mengatakan apa kalau sudah seperti ini. Yang pasti semua pasti tidak akan mudah jika berurusan dengan Melisa, karena ujungnya semua kubunya akan ikut datang untuk membantu Melisa. Menyedihkan bukan? Manusia hidup hanya tahu mencari pembelaan, menempatkan diri selalu di posisi yang benar, tidak pernah belajar untuk memahami bahwa dirinya salah, dan sial sekali generasi gila itu sepertinya akan di wariskan kepada Denise kalau David tidak segera bersikap tegas.
"Berpikirlah sesuka mu, Melisa. Biasanya kau tidak membutuhkan pendapatku, apa yang kau pikirkan semuanya benar bukan? Kalau begitu bersikap saja seperti biasanya, benar atau tidaknya kau juga hanya akan menempatkan dirimu di tempat yang benar. Sekarang pergilah, aku harus mengerjakan sesuatu."
Melisa kini terdiam, dia berpikir keras memikirkan semua yang di ucapkan David padanya. Ini sudah dua jam setelah pertengkaran diantara mereka berdua usai, tapi sial sekali Melisa sama sekali tak bisa tenang. Selama lima tahun menikah dengan David, baru kali ini David terlihat tidak main-main, dia benar-benar seperti ingin lepas dari dirinya. Entah benar alasannya Helena atau bukan, tapi jelas Melisa tidak akan bisa tinggal diam dan membiarkan saja Helena atau siapapun menghancurkan hidupnya.
Melisa memutuskan untuk menemui Helena, dan memperingati Helena agar tak membuat ulah.
Benar saja, pagi harinya Melisa mendatangi apartemen Helena. Hari itu adalah akhir pekan jadi Helena ada di apartemen, meski siang nanti dia memiliki jadwal yang cukup padat tentunya untuk mengurus semua hal tentang kasus Velerie.
Dengan kasar Melisa menekan tombol bel pintu, membuat Helena yang tengah membersihkan kamar Velerie harus merasa begitu terganggu dan dengan segera dia melangkahkan kaki untuk membukakan pintu. Jelas itu bukan Martin, tapi entah siapapun Helena memang perlu untuk membukakan pintu bukan?
__ADS_1
Begitu membukakan pintu Helena benar-benar tak bisa percaya kalau Melisa akan berdiri di hadapannya, menatapnya dengan tatapan yang begitu menantang dan begitu penuh amarah seolah tengah menemui selingkuhan suaminya. Tentu saja Helena tahu cepat atau lambat Melisa akan menemui dia, memperingati dirinya untuk menjauh dari David dan jangan mendekati keluarganya dengan alasan apapun. Tapi yang tidak Helena sangka adakah, ternyata Melisa datang sangat cepat di luar dugaannya.
Helena menghela nafas, menatap Melisa dengan sedikit senyum yang terbit di bibirnya. Tentu saja Helena tidak merasakan takut sama sekali untuk mengahadapi Melisa meski ini benar-benar mendadak.
"Wah, tampang mu yang tidak enak itu kenapa kau bawa kemari? Kau mengalami masa yang tidak enak?Juga, kenapa kau datang padaku? Kau tidak sedang mencari suami mu kan?" Pertanyaan itu keluar dari bibir Helena dengan begitu percaya diri membuat Melisa benar-benar merasa begitu kesal dan semakin mencurigai bahwa sebenarnya mereka diam-diam memiliki sesuatu yang tidak di sadari oleh Melisa.
Melisa menatap dingin, dengan segera dia menggeser tubuh Helena dengan kasar agar leluasa untuk masuk kedalam dan bisa bicara dengan nyaman kepada Helena.
"Sepertinya aku harus membersihkan sofa yang kau duduki itu." Ujar Helena yang mulai menunjukkan betapa dia tak suka melihat Melisa duduk dengan begitu santai dan nyaman padahal sofa yang di duduki Melisa adalah sofa yang biasanya akan di gunakan Velerie saat Velerie duduk di ruang tamu.
Melisa menatap Helena dengan tatapan sinis Meksi bibirnya tersenyum. Iya, tentu saja senyum yang terbit dari bibir Melisa adakah senyum yang penuh dengan penghinaan dan makian.
Helena tersenyum menatap kedua bola mata Melisa yang terlihat terkejut saat melihat ekspresi Helena yang tidak seusia dengan apa yang dia pikirkan sekaligus dia inginkan.
"Kenapa aku harus menjauhi David? Kau takut dia kembali jatuh cinta padaku? Atau yang sebenarnya adalah, David memang masih mencintaiku dan kau takut ada kemungkinan untuk kami berdua?" Helena tersenyum dengan mimik mencemooh yang dengan jelas dia perlihatkan kepada Melisa.
__ADS_1
"Benar-benar wanita yang malang, padahal memiliki harta dan latar belakang keluarga yang bagus, tapi seumur hidup tak bisa mendapat apa yang selama ini di inginkan. David sangat dekat denganmu, kalian bahkan sudah melahirkan anak, tapi dia tetap terasa sangat jauh. Aku benar-benar kasihan sekali denganmu, bahkan lihatlah kau yang sekarang. Kau sampa mendatangiku dan sok mengancamku padahal aku tidak merasakan kalau aku harus memenuhi keinginanmu."
Melisa bangkit dari duduknya, membuat Helena merasa puas dan lega karena tempat duduk putrinya tak lagi di duduki oleh wanita gila yang sifatnya sepeti anjing. Anjing yang suka mengoyak tubuh mangsanya, menggonggong tidak karuan.
"Kau benar-benar sangat kurang ajar, Helena!"
Helena terkekeh geli mendengar apa yang di katakan Melisa barusan.
"Kurang ajar? Tentu saja itu benar, sifat kitab ajar ini aku peroleh karena pernah berteman denganmu."
Melisa mengapa Helena dengan dingin, sepertinya dia merasa kalau Helena memang tidak akan mengikuti apa yang dia katakan tadi, jadi dia pikir akan lebih baik jika dia menggunakan cara yang sedikit kasar kepada Helena.
"Jangan menatapku seperti itu, Melisa. Aku benar-benar tidak tahan melihatnya, tidak tahan untuk menikam mu, membunuh mu dengan brutal, lalu setelah itu akan aku keluarkan kedua ginjalmu untuk menggantikan ginjal anakku yang hilang."
"Sinting!" Melisa sontak menjauhkan tubuh Helena darinya, menatap dengan tatapan tajam dan nafasnya yang menderu membuat Helena menjadi begitu ingin terus menekan Melisa.
__ADS_1
"Kau pikir aku tidak bisa melakukannya?"
Bersambung.