
Hari ini adalah akhir pekan, hari di mana Jelena dan juga Martin mendatangi kantor polisi, tujuannya adalah untuk menanyakan kembali bagaimana kelanjutan kasus Velerie.
Helena pikir dengan adanya Martin akan membuat polisi itu memperlakukannya dengan baik, tapi tidak. Polisi itu terlihat melayani, tapi dia juga masih tidak terlihat ingin memperlakukannya dengan tulus.
" Kasusnya sedang kami dalami, tunggu naik statusnya, kami akan memberikan kabar kepada anda, dan lawyer anda. "
Helena menghela nafas dengan suasana hatinya yang kembali kesal setiap kali mendatangi kantor polisi.
Martin menoleh menatap Helena yang terlihat jengah, dia kembali menatap Polisi untuk berbicara.
" Bukankah ini terlalu lambat? Sudah satu bulan, dan masih berjalan di tempat seperti ini? "
Polisi itu menyatukan seluruh jemarinya membuat saling menggenggam dan menatap Martin dengan serius.
" Anda bukannya tidak tahu bagaimana jalannya proses hukum bukan? Untuk menangani kasus ini tentu saja tidak mudah, karena kami juga harus mencari bukti untuk membuktikan bahwa memang benar apa yang di katakan, keterangan oleh pelapor kepada kami. "
Martin terdiam, sebentar dia berpikir dan mulai menebak dengan segala pemikirannya. Cara bicara polisi itu seperti tidak menghargai masyarakat sama sekali, dia terlihat biasa saja dalam bicara, tapi tatapannya yang arogan seolah tidak takut akan apapun, bukankah sudah pasti bukan hanya tentang suap saja? Jelas saja ada oknum di belakangnya yang melindungi polisi itu.
" Kasus ini adalah kasus pembunuhan, bagaimana bisa anda- "
__ADS_1
Martin menyentuh punggung tangan Helena, menatapnya seolah ingin mengatakan kepada Helena untuk tidak bicara lagi, diam, karena apapun yang dia katakan tidak akan pernah berujung dengan mendapatkan apa yang dia inginkan. Cara kerja abdi negara yang sudah di sumpah akan kejujuran, loyalitas, pengayom masyarakat, pelindung masyarakat, nyatanya sudah rusak sejak lama. Mereka seperti hilang ingatan begitu mendapatkan lencana pangkat, duduk dengan nyaman di posisinya, tersenyum ramah kepada orang yang memiliki kekuasaan, memandang rendah dan terlihat malas kepada masyarakat bawah.
" Kita pergi dari sini, kita bicara di luar saja. "
Helena menatap Martin dengan kesal, Jujur saja dia mulai menilai bahwa Martin pasti merasa takut, dan juga tidak berdaya karena tekanan dari polisi itu. Martin yang di anggap payah oleh rekan kerjanya, pasti bukan tanpa sebab bukan?
Beberapa saat kemudian.
" Kenapa?! Kenapa kau menghentikan ucapanku tadi? Kau tahu kan kalau dia, dia memperlakukan kita dengan sangat tidak baik? Bicaranya memang sopan, tapi itu karena hanya ada kau saja, aku sudah memberitahu padamu bahwa dia sebelumnya memperlakukan ku seperti sampah bukan?! " Protes Helena, dia yang tidak bisa menahan kenatahannya tanpa sadar memukuli dada Martin beberapa kali. Martin tentu tak membalas, dia membiarkan saja dan diam menunggu Helena sedikit lebih tenang agar nanti mereka bisa bicara dengan nyaman.
Setelah Helena benar-benar mulai tenang, Martin mencoba untuk memulai pembicaraan.
" Apa maksudmu? Dan kenapa kau bicara dengan aksen yang sangat santai padaku? "
Martin membuang nafasnya, untuk apa bicara dengan begitu sopan? Lagi pula Helena tidak lebih tua dari usianya, di tambah lagi dia juga merasa lebih nyaman seperti itu, supaya kesannya mereka adalah teman saja.
" Bicara dengan resmi hanya akan menjaga jarak antara kita, menyulitkan. Soal maksud itu, aku seperti mencurigai bahwa polisi itu sengaja menahan kasus yang kau laporkan. "
" Apa?! " Helena terlihat begitu terkejut mendengarnya. Rasanya dia ingin mengelak karena bagaimanapun abdi negara sudah pasti akan memiliki tingkat kejujuran yang sangat tinggi bukan?! Tapi mengingat bagiamana cara polisi itu memperlakukan dirinya dan juga memperlakukan orang lain, sepertinya memang ada yang tidak biasa.
__ADS_1
Martin terlihat terus berpikir, sungguh dia merasa ada banyak hal yang janggal, juga sangat kebetulan. Bagaimana bisa kasus tabrak lari, bahkan ada saksi nyata yaitu, guru sekolah LSB yang tidak membuat mereka cepat bergerak? Anehnya saat kemarin Martin mendatangi sekolah dan meminta rekaman kamera pengawas, mereka justru mengatakan jika kamera pengawas yang mengarah ke arah Velerie di tabrak sedang rusak, dan belum sempat di perbaiki. Mendengar alasan ini, bukankah Martin bisa menebak jika ada kamera lain bukan? Martin kembali bertanya, tapi mereka juga mengatakan jika kamera pengawas lain memang sedang tidak baik beberapa waktu ini. Lalu, kenapa dia tiba-tiba di minta untuk mendampingi Helena padahal dia baru saja di maki habis-habisan oleh seniornya karena membuat klien kalah dalam sidang. Membuat Klien kalah dalam sidang bukan hanya satu ada dua kali saja, dan biasanya Martin akan mendapatkan sangsi, tapi kenapa kemarin tidak?
" Katakan padaku, apa kemungkian besarnya adalah, mereka semua di suap? " Tanya Helena dengan tubuh gemetar takut, takut sekali jika apa yang dia katakan, apa yang dia pikirkan jutsru adalah hal yang sebenarnya.
Martin terdiam sebentar, dia bingung bagaimana harus menjelaskan kepada Helena, bahwa sebenarnya sistim hukum di negara mereka tinggal memang sudah bobrok. Martin tidak ingin menjelaskan soal itu karena biasanya orang akan menganggap dirinya bodoh, sok polos, naif dan kasihan. Tapi jika tidak menyadarkan Helena tentang hal itu, maka sampai akhir Helena hanya akan mengikuti permainan para oknum yang haus akan uang.
" Ini lah yang aku maksud, Helena. " Martin menatap Helena yang kini menatapnya dengan tatapan terkejut, bingung, dan sedih.
" Aku tidak tahu seperti apa kebenarannya tapi menurut dugaan ku adalah, orang yang mencelakai putrimu pasti memiliki kekuasaan yang tinggi, dia di segani hingga membuat orang dengan rela menunduk dan patuh dengan apa yang dia katakan, patuh dan tunduk dengan suntikan dana darinya. "
Helena menahan nafasnya seraya menahan tangis. Benar, itu memang masuk akal sekali, cara polisi itu meremehkan dirinya, lawyer lain saat itu juga terlihat meremehkan dirinya.
" Jadi akan sulit menemukan pelakunya? " Tanya Helena tertunduk membiarkan air matanya jatuh karena dia sudah tidak sanggup lagi kalau harus terus menahannya.
Martin mengangkat tangannya, dia ingin menepuk pundak Helena agar dia merasa lebih baik, tapi niat itu Martin urungkan karena dia tidak boleh sembarangan menyentuh, bisa jadi Helena akan merasa terganggu, dan alasan lain yang pasti masih banyak.
" Sulit bukan berarti tidak bisa, kejahatan boleh meraja lela seenaknya saja, tapi yang akan menang dan bertahan hingga akhir adalah kebenaran, jadi mari berjuang bersama untuk memecahkan misteri ini. " Ajak Martin dengan begitu semangat.
Bersambung.
__ADS_1