Why?

Why?
Niat Yang Pernah Ada


__ADS_3

Berita tentang Tuan Feto di tahan kini memenuhi media sosial, setelah tiga kali sidang dalam waktu satu bulan lebih dia di putuskan bersalah karena telah menghilangkan barang bukti, menyuap beberapa pihak, juga penganiayaan terhadap Helena. Kebenaran tentang siapa Helena tak di bocorkan sama sekali karena Tuan Feto benar-benar yakin bahwa Helena tidak akan menyukai hal itu. Biarlah kini dia hidup di dalam penjara, walaupun memang benar tidak lama, hanya empat tahun saja.


Mengenai Ibunya Melisa, mau tak mau wanita itu harus terjerumus juga. Pada awalnya dia pikir akan mengarahkan semua bukti kepada suaminya, tapi Tuan Feto benar-benar sudah mengantisipasi segalanya sehingga Ibunya Melisa benar-benar kesulitan mencari jalak keluar.


Masalah harta, tentu saja dia sedang tidak ada waktu untuk mengurus itu dan fokus mencari jalan keluar dari setiap masalah yang dia hadapi. Saat ini dia sudah mendapatkan surat panggilan sebagai saksi, tapi tetap saja dia tidak bisa tidak panik karena setelah pemeriksaan itu dia pasti akan mulai di tetapkan sebagai tersangka bukan?


Di sisi lain.


"Dia benar-benar menyerahkan diri dengan rela, tapi aku benar-benar terkejut karena ternyata dia memang tidak separah itu melakukan kesalahan." Ujar Martin setelah menonton berita tentang Tuan Feto. Saat ini dia sedang bersama Helena karena niatnya hanyalah untuk mengantarkan sarapan saja, tapi karena berita itu dia sebentar bertahan untuk melihat berita.


Helena menghela nafasnya.


"Apakah kau akan percaya begitu saja? Aku benar-benar merasa itu sulit untuk di terima oleh akal sehat ku." Ujar Helena.


"Tentang bisnis Tian Feto, dia bisa di bilang bersih dan tidak ada dana kotor dalam bisnis. Semua aset dan kekayaan yang dia miliki murni hasil kerja kerasnya. Hal itu sebenarnya sudah cukup menjelaskan bahwa dia memiliki keteguhan dan kredibilitas yang tinggi. Seperti yang tengah di bicarakan, sepertinya Ibunya Melissa adalah orang yang patut di curigai."


Helena tak lagi ingin bicara, entah seperti apa kebenaran yang sesungguhnya, bukankah mereka tetap saja bersalah dan Velerie tidak akan bisa kembali hidup? Menghukum orang yang salah sudah seharusnya bukan?


"Aku pernah memiliki niat yang cukup besar untuk membunuh mereka dengan tanganku sendiri, tapi setiap aku ingin melakukan itu semua, kau selalu datang padaku, mendekatiku dan membuatku merasa kalau aku hanya akan menyesali seumur hidup jika aku melakukannya."


Martin tersenyum, syukurlah..... Setidaknya karena hal itu Martin masih bisa tenang dan memiliki harapan untuk mengejar wanita yang ada dia sebelahnya itu.


Satu Minggu kemudian.

__ADS_1


Helena tersenyum senang saat Sofia berlari ke arahnya membawa balon berwarna merah muda. Sofia benar-benar terlihat sangat bahagia saat bertemu dengan Helena setelah satu Minggu full Sofia tidak bertemu dengan Helena karena Martin memutuskan untuk tidak membuat Helena kerepotan dan cepat pulih sehingga menahan putrinya yang terus menanyakan keberadaan Helena, bahkan menangis tidak tahu siang ataupun malam hanya untuk bertemu dengan Helena.


Meskipun Sofia memang bukanlah Velerie, Helena yakin sekali kalau Sofia adalah sosok yang telah sedikit mengobati kerinduannya terhadap Velerie. Panggilan Ibu yang Helena pikir hanya Velerie yang bisa melakukanya, kini ada Sofia, telinganya tak lagi sepi jadi Helena benar-benar merasa tidak ada salahnya dia tetap mempertahankan hidupnya dan biarkan Tuhan saja yang menentukan kapan waktu untuknya tiba menyusul Velerie.


"Ibu.........!"


Helena meraih tubu Sofia yang kini berada di hadapannya, membawanya ke dalam gendongannya.


"Apa Ibu datang terlambat?"


Sofia menggelengkan kepala dengan cepat.


"Tidak, kami memang sengaja menunggu Ibu datang." Jawab Sofia yang terlihat begitu bahagia. Hari ini adalah hari dimana Sofia merayakan ulang tahunnya yang ke empat, dan ulang tahun kali ini Sofia rayakan bersama dengan Martin juga Helena saja. Memang sangat sederhana, berbeda sekali saat Sofia sedang tinggal bersama Ibu kandungnya, tapi syukurlah Sofia benar-benar terlihat bahagia dan tidak sedih sama sekali.


Beberapa saat kemudian.


"Tuhan, aku ingin tinggal bersama Ayah dan Ibu Helena, aku tidak ingin tinggal terpisah dengan Ibu Helena. Aku juga ingin adik, kalau tidak bisa banyak satu saja tidak apa-apa."


Helena menatap Martin dengan tatapan kesal dan mengancam, tapi Martin benar-benar tak terlihat takut sama sekali. Dia hanya membalas tatapan marah itu dengan senyum. Tentu saja Martin ada pelaku di balik doa Sofia barusan, tapi sungguh Martin sama sekali tidak menyesali akan hal itu, toh Sofia juga menginginkan apa yang juga Martin inginkan.


Setelah sibuk dengan kue, Sofia akhirnya membuka kado ulang tahun yang di berikan Helena. Sebuah tas kecil imut sepasang dengan sepatu dan juga topi berwarna merah muda, dan Sofia benar-benar menyukai hadiah dari Helena. Yah, sepertinya hampir semua anak-anak kecil perempuan memang menyukai warna merah muda.


Beberapa saat kemudian.

__ADS_1


Helena bangkit perlahan setelah beberapa saat menemani Sofia untuk tidur siang. Setelah itu dia keluar dari kamar untuk membantu Martin yang kini sedang membersihkan apartemen sisa dari pesta kecil yang mereka adakan.


"Biarkan aku membantumu!" Ucap Helena lalu dengan segera mencoba untuk mengambil barang-barang yang ada di meja.


"Tidak, tidak usah! Aku akan melakukannya sendiri, sayang." Ucap Martin lalu tersenyum lebar karena melihat Helena mengeryit keberatan.


Martin meletakkan semua perabotan kotor ke wastafel, sebentar mencucinya sampai bersih, lalu meletakkan di tempatnya. Setelah itu dia kembali ke ruang tamu di mana Helena berada, tak lupa dia juga membawa buah dan minuman soda siapa tahu Helena juga menyukainya.


"Kau mau minum soda tidak?" Tanya Martin begitu dia sampai ke rumah tamu.


"Buah sangat tidak cocok kalau di sandingkan dengan soda." Ujar Helena membuat Martin tersenyum malu. Martin meletakkan buah itu di meja, berikut dengan minuman soda, lalu berbalik untuk mengambil camilan yang sengaja dia beli karena tahu Helena pasti akan datang ke apartemennya.


Martin kembali dengan beberapa camilan.


"Yah, setidaknya ini lebih baik." Ujar Helena.


Sebentar mereka mengobrol santai sebelum pada akhirnya Martin mulai berbicara serius.


"Kau melihat berita pagi tadi?" Tanya Martin.


"Iya, aku tahu berita apa yang akan kau bicarakan."


Martin meraih tangan Helena, menggenggamnya erat membuat Helena merasa percuma jika mencoba untuk melepaskan tangannya.

__ADS_1


"Ibunya Melisa membocorkan soal kau adalah anaknya Tuan Feto, kau pasti kesal sekali kan? Yah, bagaimanapun sekarang ada aku, kau pasti tidak begitu kesal kan?"


Bersambung.


__ADS_2