
"Sebenarnya apa aku bagimu, Melisa? di menderita atau bahagia menikah denganmu aku sudah menjalaninya dan berusaha menjadi suami yang baik, Ayah yang baik karena aku sadar benar itu bukan tuntutan tapi kewajiban yang harus aku lakukan. Kau selalu menekan ku, menginjak harga diriku dengan mengungkit apa yang sudah orang tuamu berikan pada ku, dan keluargaku. Kau memaki putri pertama ku sesuka hatimu dan aku hanya bisa diam, menangis di dalam hati karena aku tidak berdaya. Kau istriku, aku sudah memberikan mu nasehat, meminta pengertian darimu, tapi kau tidak memperdulikan itu, kau tidak bisa menahan makian mu terhadap Erie ku. Kau ingin aku bagaimana sebenarnya? Kenapa tidak kau minta saja orang tuamu untuk membunuhku? Aku lelah, Melisa."
Melisa tak mengatakan apapun. Sejak dulu dia hanya bisa mencintai David dalam diam dan merasakan sakit dalam hati melihat bagaimana David dan Helena yang terlihat begitu bahagia dan saling mencintai. Dia begitu tidak rela membiarkan David memiliki urusan atau hubungan dengan Helena, dan itu adalah sebab kenapa dia begitu tak menyukai Velerie. Velerie adalah anak dari David dan juga Helena, mengingat fakta itu Melisa benar-benar tidak bisa menerimanya. Dia akan terus mengingat bahwa masih ada bekas Helena di tubuh David, membayangkan bagaimana mereka pernah saling memeluk, saling berciuman, melakukan hubungan suami istri, Melisa benar-benar kesal sekali.
"Kalau begitu, batalkan saja niatmu yang ingin pergi."
David menatap Melisa dengan kesal.
"Aku harus ke makam Velerie, tidak ada niat lain!"
Melisa membulatkan matanya, pergi ke makam Velerie? Melisa benar-benar menjadi semakin kesal mendengar nya. Padahal seharusnya setelah kematian Velerie dia dan David bisa hidup dengan bahagia tanpa adanya Helena atau siapapun lagi dari masa lalu David.
"Jangan harap kau bisa pergi ke sana, kau sudah harus sadar bahwa apapun yang akan kau lakukan, mau kau datang ke makam anak cacat itu setiap hari tidak akan mengubah apapun!"
David mengeraskan rahangnya, menatap pilu dan sedih karena lagi-lagi harus mendengar Putrinya di maki padahal putrinya sudah tidak lagi hidup di dunia ini. Kenapa? Apa sebenarnya yang salah dengan Velerie? Semasa hidup tidak sekalipun mendapatkan ruang di hai keluarganya, sudah meninggal pun masih tak di hargai sama sekali.
__ADS_1
"Makam Erie sedang di bongkar, akan di lakukan autopsi menyeluruh, dan tolong biarkan aku pergi, tolong jangan menahan ku dengan menggunakan Denise."
Melisa tak berniat mengatakan apapun, dia diam dengan segala pemikirannya, membiarkan David pergi bergegas dan buru-buru.
Beberapa saat kemudian.
David sampai kesana, dia dengan segera menghampiri Helena yang berada di sana. Tapi begitu dia melihat Helena terdiam dengan mata memerah, di tambah ada seorang pria yang berada di sampingnya, dan menggenggam tangan Helena. Sial! Ini bukanlah urusannya, tapi dia juga tidak bisa menampik perasaan sedih dan cemburu. Melihat kantung jenazah mulai di angkat untuk di naikkan ke dalam mobil ambulans, segera David mendapatkan kembali konsentrasi nya dan segera mendekati Helena yang terlihat sangat hancur dan sedih sekali saya kedua matanya melihat kantung jenazah itu.
"Helena?" Panggil David membuat Helena otomatis menatap ke arahnya.
Martin mengeryitkan dahi mendengar pertanyaan pria itu, tapi dengan pertanyaan itu Martin jadi tahu siapa pria yang tiba-tiba datang dengan mimik wajah tidak biasa itu. Helena tak mengindahkan keberadaan pria itu, dia jutsru membawa tangan Martin untuk menyingkir, menjauh dari David.
"Helena...." David meraih lengan Helena, membuat langkah kakinya terhenti dan mau tidak mau Helena harus membuang satunya untuk bicara dengan David.
"Tidak ada yang perlu aku katakan padamu, kau juga bukanlah siapapun yang perlu aku hubungi untuk melakukan ini semua." Helena menjawab dengan wajah datar, yah mungkin karena dia sudah benar-benar lelah menangis sejak tadi. Setelah mengatakan itu Helena menatap dingin tangan David yang masih saja berada di lengannya, membuat David tak memiliki pilihan lain selain melepaskan lengan Helena dan hanya bisa menatap penuh tanya tangan Helena yang masih bertautan dengan jemari seorang pria asing.
__ADS_1
Martin menatap Helena, sepertinya hubungan Helena dan juga mantan suaminya sama tidak baiknya seperti hubungannya dengan mantan istrinya. Memang beginilah kehidupan rumah tangga, tidak ada yang namanya cerai dan masih baik-baik saja, karena kalau baik-baik saja tidak akan mungkin ada perceraian bukan?
"Sebentar saja, tolong sebentar saja aku butuh bicara denganmu." Pinta David dengan tatapan memohon sekarang dengan apa yang dia ucapkan. Tapi, Helena sedang tidak ingin bicara banyak, dia sendiri juga sedang hancur, hancur sekali bahkan dia merasa ingin mati saja. Tolong, dia benar-benar tidak ingin mendengar pertanyaan apapun lagi, dia tidak ingin mengorek semakin dalam luka yang sedang dia rasakan.
"Tidakkah anda melihat bahwa Helena sedang tidak baik? Jangankan untuk bicara, bahkan dia seperti sedang ingin membungkam mulutnya dengan rapat. Dia sedang sangat hancur, jadi bisakah anda mengerti keadaan ini? Saya tahu anda adalah Ayah dari Velerie, anda butuh penjelasan bagaimana ini bisa terjadi, tapi tunggulah sebentar saja, nanti aku akan jelaskan."
Helena menatap Martin dengan perasaan berterimakasih, ternyata Martin memang memahami dirinya, mengerti apa yang Helena butuhkan tanpa harus Helena mengatakannya secara langsung.
David terdiam, tatapan matanya kini lekat tertuju kepada Helena. Iya, wajah Helena sudah cukup menjelaskan betapa hancur dirinya, dan sepertinya dia juga tidak memiliki pilihan lain selain sabar, menunggu penjelasan tentang bagaimana bisa makam putrinya di bongkar tapi tidak memberitahukan kepada dia. Sudah cukup bagi David tidak bisa berada di dekat Velerie saat dia tengah meregang nyawa, di makamkan, dan bahkan saat di bongkar kembali makam anaknya dia juga tahu setelah selesai. Entah ada yang perduli atau tidak, tapi David benar-benar merasa begitu gagal menjadi seorang Ayah untuk Velerie.
Beberapa saat kemudian.
Para ahli forensik kini tengah menyelesaikan pekerjaannya, dan mereka bertiga juga hanya bisa menunggu hingga selesai. Setelah itu semua rampung, dokter forensik sudah mengatakan jika butuh waktu untuk mendapatkan hasil observasi dari lab. Bisa dia atau tiga hari, bahkan Minggu. Jadi baik Helena ataupun Martin hanya bisa menunggu dengan sabar sekarang.
"Sudah selesai, jadi kau bisa mencoba untuk tenang. Walaupun hari ini adalah salah satu hari yang tidak ingin kau ingat, tapi percayalah tidak ada usaha yang akan percuma jika tujuannya adalah untuk kebaikan." Ucap Martin kepada Helena yang membuat David merasa tidak nyaman.
__ADS_1
Bersambung.