Why?

Why?
Menyerah Karena Lelah


__ADS_3

"Bu, aku kehilangan Denise juga kehilangan kemampuan untuk memiliki keturunan lagi. Aku sudah tidak bisa melakukan apapun selain diam di sini, menunggu saja kapan aku akan mati. Aku tidak lagi memikirkan soal harta, aku juga tidak bisa menghentikan Ayah. Jika di bilang aku masih membenci Helena, maka aku akan jujur kalau aku masih membenci dia. Tapi setelah aku pikirkan lagi, kebencian yang aku rasakan ini adalah hal yang sia-sia dan bodoh saja. Aku mulai berpikir kalau Ibu pasti sengaja membuatku terus membenci Helena dan menginginkan kehancuran Helena, tapi aku juga berharap ini adalah pikiran ku saja."


Ibunya Melisa menatap Melisa dengan kesal, sungguh percuma saja dia menemui Melisa kalau pada akhirnya dia tetap tidak bisa mendapat apa yang dia inginkan bukan?


"Lalu apa salah Ibu, Melisa? Hati wanita mana yang tidak sakit mengetahui bahwa ada wanita lain yang melahirkan anak dari suaminya di saat dia hamil besar dan tengah menunggu waktu untuk melahirkan? Ibunya Helena dengan percaya diri datang, mengatakan bahwa anak yang di gendongnya adalah anak Ayahmu, saat itu aku menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu karena hanya menunggu jam saja aku akan di bawa kerumah sakit dan melakukan bedah sesar."


Melisa tak menjawab sama sekali karena dia tahu masa itu pasti berat untuk Ibunya, dia tidak bisa menyalahkan Ibunya tidak bisa lupa mengerti dan memahami benar apa yah sebenarnya terjadi.


"Aku sudah menahan diri, aku sudah mencoba untuk melupakan kenyataan itu, tapi anak sialan itu malah muncul di sekitar mu terus membuatku teringat dengan masa lalu yang menyebalkan itu. Aku tidak bisa melakukan banyak hal karena Ayah mu terlalu memperhatikan segalanya tentang Ibu, hanya kau yang Ibu punya jadi tentu saja kau tidak salah membalas rasa sakit di hati Ibu." Ujar Ibunya Melisa yang masih membuat Melisa tak ingin mengatakan sesuatu.


"Aku sudah meminta kakak mu membalaskan rasa sakit hati Ibu, tapi dia malah jatuh cinta dengan anak sialan itu dan membuatnya pergi ke luar negeri. Ibu sudah mencoba membujuk agar kakak mu kembali, Ibu memberitahu kenyataannya bahwa Helena adalah anak Ayah mu juga, tapi malah dia memilih untuk bunuh diri. Menyebalkan sekali, semua itu terjadi gara-gara Helena sialan, brengsek itu kan?"


Melisa menatap Ibunya dengan tatapan terkejut.


"Jadi Kakak meninggal karena bunuh diri? Kakak bunuh diri karena dia begitu syok saat mengetahui jika gadis yang dia amat dia cintai adalah saudarinya sendiri?"

__ADS_1


Ibunya Melisa menelan salivanya karena dia benar-benar tidak sadar dengan apa yang dikatakan tentang saudara kembarnya Melisa. Selama ini Ibunya Melisa sengaja mengatakan kepada suami dan anaknya jika putranya meninggal karena depresi berat, jadi selama itu pula Ibunya Melisa menggenggam rahasia seorang diri karena dia enggan di salahkan dan menjadi sebab kematian anaknya sendiri.


"Tidak, Ibu salah bicara."


Melisa menatap Ibunya dengan tatapan sedih, jadi itu lah penyebab kakaknya meninggal? Selama ini dia diam-diam berteman dengan Helena hanya untuk membalas dendam karena mengaggap Helena adalah orang yang telah membuat kakaknya meninggal depresi karena cinta yang tidak di balas Helena.


"Ibu, sebenarnya Ibu orang yangs seperti apa? Kenapa Ibu terasa begitu menakutkan sekarang?"


Ibunya Melisa terdiam menatap Melisa.


"Ibu, berhentilah terus melihat ponsel dan mengkhawatirkan Helena, dia sudah besar. Toh dia juga tidak menginginkan bantuan dari kita terutama Ibu kan? Dia itu selalu memilih untuk sendiri karena dia penyendiri dan selalu merasa bisa melakukan segalanya sendiri, berhentilah terus melakukan tentang Helena, anak Ibu yang lain juga membutuhkan perhatian Ibu." Ucap Freya kepada Ibunya yang sejak pagi terus melihat ponselnya, menunggu Martin memberikan kabar tentang kondisi Helena. Pagi tadi Helena sudah di bawa pulang ke apartemen, Ibunya Helena yang di minta untuk tidak menemui Helena atas perintah Helena hanya bisa menunggu kabar dari David tentang kondisi Helena. Ini sudah pukul sebelas tapi David masih saja belum mengirimkan kabar sama sekali.


"Helena sudah mengetahui siapa Ayahnya, dia tentu saja semakin tidak membutuhkan kita. Lupakan saja Helena, anggap saja dia tidak pernah ada di kehidupan kita, Ibu."


Ibunya Helena menghela nafas beratnya, menganggap Helena tidak pernah ada di dalam hidupnya? Sudah sejak lama itu terjadi, sudah sejak lama Helena merasa seorang diri meski berada di tengah keluarga. Dia tidak ingin terus diam dan tidak berdaya, dia ingin memiliki hubungan yang baik dengan Helena, dia ingin menjadi Ibu yang berguna bagi Helena.

__ADS_1


"Diamkan saja, Ibu mu memang seperti itu. Dimatanya hanya ada Helena meski selama ini terkesan acuh. Hanya Tuhan yang tahu seberapa menderita nya Ayah melihat Helena, Ayah pasti akan membuat Ayah mengingat bagaimana Ibu mengkhianati Ayah bukan?" Ucap lagi kakak laki-lakinya Helena.


Ibunya Helena masih mencoba untuk diam, tentu saja dia sudah tahu kalau pada akhirnya saat kebenaran terbongkar dia akan menjadi pihak yang paling salah dan kotor di mata keluarga. Apalagi sebelum mertuanya meninggal, dia benar-benar hampir gila karena harus menjalani hari yang begitu menderita oleh kesinisan mertua, dan bagaimana suaminya terlihat tidak perduli dan selalu saja menatapnya dengan dingin.


"Fokus saja untuk anak kita, jangan berlebihan." Kalimat itu keluar dari bibir suaminya, dan meskipun kalimat itu terdengar biasa saja dan sederhana, nyatanya kalimat itu benar-benar membuat hati Ibunya Helena seperti tersayat tak beraturan.


"Helena memang bukan anak kita, tapi Helena adalah anak ku. Selama ini hanya demi menghormati mu, keluargamu, dan menjaga perasaan mu aku mengacuhkan Helena, aku mengikuti semua yang kau perintahkan padaku. Aku mengabaikan perasaan Helena, aku membutakan mataku saat Helena bersedih atau merasa iri dengan apa yang di miliki Kakak dan adiknya. Helena memang bukan anak kandungmu, tapi kau juga ingat benar bagiamana Helena begitu mematuhi apa yang kau katakan bukan? Sekarang dia dalam keadaan yang kacau, kau dan juga anak-anak justru menekan seolah Helena benar-benar tidak pernah ada. Kalian mengatakan itu, menyerang dengan ucapan apakah sengaja? Apa kalian sengaja memintaku banyak pikiran dan mati lebih cepat?"


Freya menghela nafasnya. Tentu saja bukan itu maksud nya. Dia hanya tidak ingin melihat Ibunya sedih dan tidak tenang sepanjang hari tapi kesalahan yang dia lakukan adalah, dia tidak mencoba menangkan Ibunya dengan cara yang benar.


Ibunya Helena bangkit dari duduknya menatao suaminya yang kini juga tengah menatapnya.


"Ini sudah cukup, aku sangat lelah sekali. Jika aku masih saja tidak cukup di mata mu, maka aku juga hanya bisa menyerah."


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2