Why?

Why?
Aku Yang Berbeda


__ADS_3

Helena tersenyum dingin melihat bagiamana Tuan Feto menggelar wawancara ekslusif yang di siarkan secara langsung untuk menjelaskan dengan rinci bagiamana bisa dia bersikap tidak sopan kepada seorang Dokter. Tentu saja seperti dugaan Helena, Tuan Feto akan menggunakan banyak alasan demi melindungi dirinya juga nama baiknya. Pertama dia meminta maaf atas apa yang terjadi, kemudian dia menjelaskan bahwa kondisinya sedang kacau karena mengetahui keadaan cucunya yang mengkhawatirkan sedangkan dia sudah membayar mahal sekali namun merasa jika Dokternya justru tak banyak upaya. Dia juga menjelaskan bahwa resiko yang akan di dapatkan cucunya adalah kematian, padahal dia sudah melakukan apapun yang di minta Dokternya. Mengenai Melisa yang mengakui bahwa dia telah membunuh Velerie dan mencuri ginjalnya, Tuan Feto benar-benar jago sekali akting. Dia dengan mimik pasrah dan lesu mengatakan jika dia sama sekali tidak tahu menahu soal itu karen Melisa memang tidak pernah mengatakannya. Perihal donor ginjal yang di dapatkan oleh cucunya, Tuan Feto mengaku jika Melisa mengatakan kepadanya bahwa ginjal itu di dapatkan dari seorang anak kecil yang meninggal karena penyakit kronis, dan pendonor berasal dari luar negeri.


Tuan Feto benar-benar melimpahkan semua kesalahan kepada Melisa. Mau bagiamana lagi? Dia jelas tidak bisa membuat alibi karena Melisa sendiri yang sudah mengakui apa yang dia lakukan, jadi dia pikir ini saatnya Melisa melakukan pengorbanan untuk menyelamatkan nama keluarga, dan juga masa depan anaknya.


"Minumlah kopi mu, Helena." Ucap Martin yang sejak tadi duduk si sebelah Helena, menyaksikan juga bagaimana wawancara Tuan Feto yang begitu menggelikan.


"Aku sudah bilang kan untuk menonton mereka dengan meminum kopi?"


Helena tersenyum, lalu meraih cangkir kopi yang sejak tadi sudah berada di meja. Sekarang mereka akan mulai menggigit satu sama lain, melemparkan kesalahan satu dengan lainnya, bahkan tidak segan-segan untuk menikam tanpa ampun agar bisa menyelamatkan diri sendiri.


"Kau harus melihat ini hingga akhir, kau harus melihat bagaimana mereka berakhir nanti. Tidak ada yang tidak mungkin, aku percaya itu sejak aku mengenalmu."


Helena menoleh, menatap Martin yang kini tersenyum padanya. Pria di hadapannya memang pernah mengalami masa yang sulit, masa yang menyakitkan hingga merasa dunia tidak adil dan merasa semua orang kompak menyakitinya. Begitu bertemu dengan Helena yang memiliki luka jauh lebih besar, lebih dalam, lebih menyakitkan di banding lukanya membuat Martin tersadar jika dia terlalu lemah dan terlalu mudah menyerah dalam hidup. Sekarang Sofia bersama dengannya, walaupun ada masanya dia merasa repot karena harus mengurus Sofia dan bekerja, tapi itu benar-benar jauh lebih baik di banding masa sebelumnya.


"Kau sudah banyak bekerja keras dan membantuku, bagaimana mungkin semua akan menjadi tidak mungkin?"

__ADS_1


Martin tersenyum, dengan segera dia menatap ke arah televisi karena tidak ingin terlalu lama menatap Helena lalu memiliki niat yang tidak baik lagi terhadap Helena. Menyadari itu, Helena juga segera menatap ke televisi karena dia tahu kalau mata mereka bertemu mereka hanya akan melakukan apa yang seharusnya tidak di lakukan.


"Helena, apa aku boleh menitipkan Sofia sebentar? Aku sudah janji akan membelikan dia milkshake kesukaannya, tapi karena dia tidur cukup lama, aku takut tidak bisa beli milkshake karena sore nanti aku juga harus ke kantor sebentar."


Helena mengangguk, mempersilahkan saja Martin untuk pergi sebentar karena sekarang mereka berada di apartemen Helena. Sofia sedang tidur di kamar Velerie sekitar satu jam yang lalu, jadi Helena akan kembali menonton televisi seorang diri.


Beberapa saat setelah kepergian Martin, suara bel pintu apartemen terdengar, karena itu jelas bukan Martin, maka Helena harus bangkit dan sebentar melihat siapa yang datang.


Ibu?


Helena langsung menanyakan apa tujuan Ibunya datang begitu Ibunya duduk di sofa ruang tamunya.


"Helen, apa tidak lebih lama menyudahi saja konflik ini? Sejak beberapa bulan terakhir sudah banyak kekisruhan yang terjadi, Ibu sangat khawatir padamu, Jai tolong berhentilah ya?" Ucap Ibunya Helena dengan tatapan memohon, dia terlihat sedih tapi sayang sekali karena apa yang di katakan oleh Ibunya Helena justru membuat Helena merasa begitu tidak mengerti dengan cara berpikir Ibunya. Rasanya dia ingin memakai, mengatakan apa yang ingin dia katakan lalu mengusir Ibunya untuk segera meninggalkannya. Tapi sepertinya itu tidak akan membuat Helena merasa lega jadi dia putuskan untuk meladeni ucapan Ibunya barusan.


"Katakan, katakan padaku alasan yang sebenarnya, jangan menyembunyikan maksud Ibu dengan mengatas namakan merasa kasihan padaku. Sungguh, aku tidak bisa menerima alasan yang bahkan tidak aku mengerti sama sekali."

__ADS_1


Ibunya Helena terdiam sebentar, menatap kedua bola mata Helena yang nampak begitu dingin sama seperti sejak kematian Velerie. Tentu saja dia tahu dan melihat secara langsung bagaimana Helena berusaha untuk memecahkan kebenaran tentang kematian Velerie, tapi dia merasa ini sudah harus segera di akhiri dan berhenti menimbulkan onar. Setiap hari di rumahnya selau datang orang yang ingin sekali bertanya apa yang terjadi, menanyakan bagaimana dan di mana Helena. Sungguh dia merasa terganggu sekali karena berita dan juga orang-orang yang selalu datang ke rumahnya.


"Ibu, Ibu hanya merasakan bahwa kau pasti sangat lelah. Ibu pikir akan lebih baik jika mulai sekarang kau mulai hidupmu yang baru, kebahagiaan baru dan melupakan masa lalu."


Helena membuang nafasnya, apa yang di katakan Ibunya tentang meminta Helena untuk menjalani hidup baru, dengan kebahagiaan baru tentu saja tidak salah, yang sangat salah adalah waktu yang di gunakan oleh Ibunya sangat tidak tepat.


"Begitulah? Aku lelah? Aku memang lelah, aku merasa hancur dan sakur setiap satu mengingat aku gak lain memiliki sosok yang selama ini menjadi semangat hidupku. Aku merasa kesepian, merasa sendirian, tapi Ibu, Ayah, kakak ku, adikku, kalian semua tidak ada yang datang dan mengatakan bahwa kalian akan bersama denganku. Kalian semua, selalu merasa bahagia dengan diri kalian tanpa aku, jadi tolong jangan mengatakan dan bersikap seolah aku adalah anak yang Ibu sayangi."


"Helen, Ibu memang benar-benar menyayangimu."


Helena menatap Ibunya dengan tatapan kesal.


"Jangan coba untuk membohongiku, Ibu. Coba ingat kembali seberapa banyak Ibfu mengorbankan aku untuk Kakak dan adikku? Mulai dari menu sarapan, uang jajan sekolah, pembayaran uang sekolah, bahkan Ibu tidak lupa bukan di antara anak Ibu yang lain, aku adalah satu-satunya anak yang lulus sekolah tapi tidak bisa mendapatkan ijazah karena bahkan separuh lebih belum di bayar. Coba ingat lagi, berapa kali aku harus mengunakan baju bekas, lalu bagaimana dengan yang lainnya? Ibu, aku diam selama ini tapi aku benar-benar menangis di dalam hati, aku selalu mengatakan aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja, tapi apa Ibu pernah sekali saja memikirkan bagaimana perasaan ku?"


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2