
"Sebenarnya aku ingin meminta bantuan darimu, kau tahu kan Velerie kehilangan dua ginjalnya? Walaupun apa yang aku minta ini jelas tidak akan bisa mengembalikan Velerie untuk hidup, tapi apakah kau bersedia membantuku mencari tahu siapa orang yang sudah mencuri ginjal anakku?"
David terdiam menatap Helena. Anakku? Sungguh? Kenapa sampai detik ini Helena sama sekali enggan menyebut Velerie sebagian anak kita? Padahal jelas sekali kalau Velerie juga adalah anak kandungnya, takut kenapa Helena selalu memperlakukan David seolah David tak ada hubungan darah dengan Velerie? Tapi sudahlah, bukan saatnya untuk membahas ini, memperdebatkan sesuatu yang jelas bagiamana kenyataannya bukankah akan terlihat bodoh dan membuang waktu?
"Tentu saja, aku sudah meminta dia detektif untuk membantu memecahkan masalah ini, aku juga bergerak meski tidak bicara dulu denganmu." Ujar David karena memang sudah dia lakukan sejak dia tahu bahwa ginjal Velerie di curi oleh Farah. Memang benar Farah adalah orang yang sudah mengangkat ginjal anaknya, tapi siapa yang menerima jelas tidak bisa di biarkan begitu saja bukan?
Helena kembali mengangguk paham, walaupun di hatinya merasa dia sama sekali tidak perduli apakah benar David bertindak atau tidak.
"David, aku pikir setelah Velerie pergi kita juga sudah tidak akan memiliki hubungan apapun, tapi aku benar-benar salah dalam hal itu, ternyata pada akhirnya aku tetap membutuhkanmu untu keadilan anak kita. David, terimakasih banyak sekali karena kau mau ikut serta dalam hal ini."
David hanya bisa tersenyum tak tahu harus mengatakan apa. Padahal Helena menyebutkan nama anak kita, tapi dia benar-benar tidak bisa bahagia karena pada akhirnya Helena mengucapkan terimakasih kepadanya seolah lagi-lagi membuat David merasa dia adalah orang asing untuk Velerie.
Setelah pembicaraan itu Helena dan David memutuskan untuk kembali ke rumah mereka masing-masing.
Begitu sampai di apartemen, Helena langsung melemparkan tasnya ke sembarang arah, menatao marah mengingat bahwa memang bear Denise menerima donor organ bahkan waktunya tidak lama dari ginjal Velerie di ambil. Tentu saja dugaan Martin semakin jelas, dan Helena juga mulai sulit mengendalikan diri. Sebenarnya saat David mengatakan bahwa belum lama ini Denise mendapatkan donor ginjal, jantung Helena benar-benar berdegup kencang, tubuhnya terasa dingin, bahkan tangannya yang gemetar sampai harus dia sembunyikan di bawah meja.
__ADS_1
Helena mengigit bibir bawahnya, matanya menatap semakin tajam dan marah memikirkan bagaimana David, Denise dan Melisa akan bahagia setelah membunuh Velerie, bahkan juga mencuri ginjalnya untuk mempertahankan hidup Denise. Tentu saja Helena sadar benar Denise hanyalah anak-anak yang tidak bersalah, dia tidak mengerti akan apa yang terjadi di antara orang dewasa yang ada di sekitarnya. Tapi, Helena tetap saja membencinya, Helena tidak rela putrinya di bunuh hanya untuk menghidupkan dan mempertahankan kebahagian dan kebersamaan orang lain. Sudah tidak tanggung-tanggung pula, mereka telah menghancurkan mada depan indah milik Helena dan Velerie, mengantarkan Velerie ke gerbang kematian.
"Tidak, kalian tidak boleh bahagia, apapun yang terjadi." Helena bangkit dari duduknya, dia meraih kembali tasnya untuk mengeluarkan ponsel, lalu menghubungi seseorang yang pasti jelas orang itu adalah penting untuknya.
Di tempat lain.
Melisa terdiam menatap David yang bagus saja pulang ke rumah. Sebenarnya Melisa tahu kalau belum lama ini David menemui Helena, bicara cukup lama bahkan bukan hanya sekali dia kali saja mereka saling melemparkan senyum. Marah, itu sudah pasti! Tapi sekarang Melisa tidak bisa langsung bertanya kepada David karena Denise sejak tadi benar-benar terus bertanya kapan Ayahnya pulang karena dia sudah rindu dengan Ayahnya.
Setelah selesai membersihkan diri, segera David menghampiri Denise dan menemaninya sampai Denise tertidur pulas barulah dia akan keluar dari kamar Denise menuju ruang baca.
"Aku ingin bicara." Ucap Melisa begitu David keluar dari kamar Denise. Tentu saja tidak ada pilihan lain bagi David karena kalau tidak bicara di tempat lain yang cukup jauh dari kamar Denise, David takut kalau nanti saat-saat mereka mulai bersitegang akan membuat Denise terbangun.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya David yang tentu saja tidak ingin berbosa basi lagi.
Melisa membuang nafasnya, menatap David dengan tatapan dingin. Melisa membatin di dalam hati, bagiamana bisa pria yang dia cintai tak sekalipun memperlakukan dengan lembut selayaknya dia adalah istri dan Ibu dari anaknya. Tapi tidak masalah, selama David masih ada di bawah kakinya, semarah apapun David tentu saja dia tidak akan pernah meninggalkan Melisa bukan?
__ADS_1
"Kenapa kau menemui Helena hari ini?"
Mendengar pertanyaan dari Melisa, David menatao Melisa dengan dahi mengeryit penuh tanya.
"Kau mengikuti ku, atau kau memataiku?" Tanya David yang jelas sekali menunjukkan apa yang sebenarnya dia rasakan.
Melisa terkekeh pelan, menatap David dengan tatapan mengejek. Sungguh dia benar-benar tidak menyangka kalau David akan semakin memilki keberanian yang semakin bertambah setiap harinya. Melawan Melisa sudah tidak tahu lagi, bahkan pernah memukul dan mengancam.
"Kau benar-benar kehilangan kendali mu, David. Aku sudah katakan padamu bukan? Jika kau terlalu banyak melakukan hal di luar keinginan ku, kau akan benar-benar sangat merugi." Ucap Melisa yang justru membuat David semakin tidak dapat berpikir dengan benar.
"Berhentilah untuk mengancamku, Melisa. Memangnya apa yang aku lakukan? Memang aku dan Helena melakukan apa sampai kau mengatakan seolah aku dan Helena berselingkuh di belakang mu? Ingatlah baik-baik Melisa, Helena bukan lah wanita rendahan yang akan melakukan hal serendah itu!" David menatap Melisa dengan begitu tegas dan marah. Tahu, bagaimanapun Melisa adalah istrinya, wajib pula untuknya mengutamakan Melisa, tapi keadaannya sekarang sedang tidak mendukung jadi David benar-benar tidak bisa terus mentolelir kesalahan Melisa yang cukup keterlaluan.
"Helena bukan wanita rendahan? Jadi, apakah kau ingin mengatakan jika aku adalah wanita rendahan?" Melisa menaikkan satu alisnya menatap David seolah pertanyaan itu sedang mengejek dirinya.
David membuang nafasnya, entah harus mengatakan apa kalau sudah seperti ini. Yang pasti semua pasti tidak akan mudah jika berurusan dengan Melisa, karena ujungnya semua kubunya akan ikut datang untuk membantu Melisa. Menyedihkan bukan? Manusia hidup hanya tahu mencari pembelaan, menempatkan diri selalu di posisi yang benar, tidak pernah belajar untuk memahami bahwa dirinya salah, dan sial sekali generasi gila itu sepertinya akan di wariskan kepada Denise kalau David tidak segera bersikap tegas.
__ADS_1
"Berpikirlah sesuka mu, Melisa. Biasanya kau tidak membutuhkan pendapatku, apa yang kau pikirkan semuanya benar bukan? Kalau begitu bersikap saja seperti biasanya, benar atau tidaknya kau juga hanya akan menempatkan dirimu di tempat yang benar. Sekarang pergilah, aku harus mengerjakan sesuatu."
Bersambung.