Why?

Why?
Akhir Yang Di Inginkan Melisa


__ADS_3

"Aku juga berharap kau benar-benar selalu baik, juga menghabiskan waktumu dengan sabar." Ucap David yang jelas tidak akan sanggup mendoakan kebahagiaan Melisa karena dia sadar benar Melisa tidak akan mendapatkan semua itu bukan? Kehilangan anak, jauh dari Ayah dan Ibu, bahkan juga hubungan mereka yang akan segera di akhiri, mana mungkin Melisa akan mendapati kebahagiaan?


"Tentu saja, aku akan bahagia dengan pilihan ku sendiri." Melisa tersenyum membuat David merasa begitu aneh tapi juga tidak berani bertanya apapun kepada Melisa.


Melisa segera meraih lembaran pengajuan cerai, menandatangi tanpa membaca isinya karena jelas itu tidak akan ada gunanya bukan?


"Ini!" Melisa menyodorkan lembaran itu untuk lebih dekat dengan David. Dia tersenyum kepada David sebelum mereka benar-benar berpisah dan tidak akan bertemu lagi.


Begitu David pergi, Melisa juga kembali ke dalam sel. Dia benar-benar tidak mengatakan apapun untuk beberapa saat, dia menatap tangannya yang tadi berjabat tangan dengan David. Sentuhan dari pria yang dia cintai, jelas itu tidak akan pernah dia dapatkan lagi, dia juga tidak akan pernah bisa melihatnya lagi meski dari jarak jauh.


Melisa tersenyum, dia menata tangannya yang kini gemetaran, sementara tangannya menangis dengan bibirnya yang terkunci rapat. Semua kenangan bersama David benar-benar akan menjadi bagian yang akan terus dia syukuri, begitu juga dengan Denise. Semua orang kini sudah tak lagi bisa bersama atau berada di dekatnya. Ayah, Ibu, Denise, dan juga David.


Melisa bangkit dari duduknya, perlahan berjalan menuju kamar mandi. Melisa terdiam sebentar, dia mengarahkan matanya ke sikat gigi yang biasa dia gunakan, lalu meraihnya. Tanpa ekspresi Melisa mematahkan sikat gigi itu. Bentuknya yang tumpul tentu saja bukanlah bentuk patahan yang di inginkan Melisa. Dia membuang bagian di mana ada sikat untuk gigi, lalu kembali ke tempat semula. Melisa menggosokkan batang sikat gigi itu ke dinding hingga ujungnya agak meruncing. Terus saja seperti itu hingga ujungnya cukup runcing. Sebentar Melisa menatap batang sikat gigi itu sembari menangis tanpa suara.


Melisa menyeka air matanya setelah menyimpan benda itu, lalu memangil sipir yang berjaga untuk membantu nya menyiapkan kertas dan juga kena yang akan dia gunakan untuk meninggalkan pesan kepada Ayah dan juga Ibunya. Melisa menuliskan pesan yang ingin dia sampaikan kepada mereka berdua dengan air mata yang bercucuran, tangannya yang gemetar hebat sehingga tulisan tangannya juga agak berantakan tapi tetap masih bisa terbaca.


Setelah itu, Melisa menitipkan kepada sipir agar nanti menyampaikan suratnya kepada Ayah dan juga Ibunya. Melisa kembali duduk di lantai tanpa ekspresi setelah apa yang ingin dia lakukan telah terlaksana. Setelah beberapa saat, dia bangkit dan menuju kemar mandi.

__ADS_1


"Denise, Ayah, Ibu, dan David. Terimakasih karena telah menjadi bagian dalam hidup ku, terimakasih karena telah begitu sabar menghadapi ku, dan untuk mu putri ku tersayang, maafkan Ibu yang sama sekali tidak bisa menjadi Ibu yang baik, Ibu yang gagal menyelamatkan mu dari kematian. Kau pasti sedih dan membutuhkan teman kan sayang? Ibu datang, Ibu datang khusus hanya untuk menemui mu." Melisa mengeluarkan batang sikat gigi yang telah dia runcingkan. Melisa benar-benar tidak bisa menahan air matanya yang terus saja tak berhenti menitihkan air mata. Berada di penjara seumur hidup tentu saja sama halnya mati bukan? Dia tidak bisa melakukan apapun selain bernafas saja, jadi akan lebih baik kalau dia mati saja dan menyusul putrinya.


Melisa mengarahkan tinggi tangannya yang menggenggam batang sikat gigi, lalu sekuat tenaga dia mengarahkan ke pergelangan tangannya. Darah mulai menetes, rasa sikat, ngilu dan perih juga di rasakan benar oleh Melisa, tapi dia benar-benar tidak ingin berhenti. Dia menusukkan lagi ke tangannya, lebih dalam dan darah yang keluar juga semakin banyak. Melisa tersenyum puas, tidak terlaku sakit seperti yang dia pikirkan, jadi mati seperti itu, dengan jalan itu bukanlah pilihan yang buruk.


Melisa jatuh terduduk, punggungnya menyender di dinding kamar mandi, air matanya masih berjatuhan, tapi bibirnya tersenyum puas.


Kehidupan.......


Mungkin memang bukan hal yang mudah saat seseorang harus hidup dan menjalaninya. Ada banyak sekali masalah yang datang silih berganti, kadang juga datang secara bersamaan. Setiap manusia jelas memiliki kesabaran, mereka pasti juga sudah pernah bersabar sebelum menentukan sebuah keputusan dan pilihan.


"Selamat tinggal dunia, selamat tinggal Ayah dan Ibu, selamat tinggal penyesalan dan selamat tinggal penderitaan."


Perlahan Melisa mulai tak bisa lagi melihat dengan jelas, tubuhnya benar-benar dingin, telinganya berdengung hebat hingga sama sekali Melisa ya dapat mendengar apapun dan beberapa saat setelah itu, Melisa benar-benar sudah tak bisa lagi menahan dirinya dan tak sadarkan diri.


Di sisi lain.


"Nona Yuri pergi ke panti asuhan, Tuan."

__ADS_1


Win meletakan batang rokok yang sejak tadi dia sesap. Panti asuhan? Win menghela nafasnya, dia berpikir apakah perlu untuknya membawa Yuri, tidak! Bukan perlu, tapi Win harus membawa Yuri kembali karena dia merasa tidak rela Yuri meninggalkannya. Entah sebenarnya perasaan apa yang dia miliki untuk wanita yang dulu sama sekali gak dia hargai, tapi Win pikir dengan seiringnya watu berjalan dia akan memahami, tapi tentu saja dia harus bersama dengan Yuri.


"Tuan, apa saya harus menjemput Nona Yuri sekarang?"


"Tidak, Yuri tidak akan ikut dengan mu. Kalaupun memaksa dia, jelas saja kau akan di tangkap polisi mengingat kau hanyalah orang asing, aku juga tidak bisa membuktikan hubungan kami berdua."


"Jadi, apakah saya hanya akan memperhatikan beliau saja?"


Win membuang nafasnya.


"Aku akan pikirkan bagaimana caranya membawa dia, tapi untuk sekarang aku sedang dalam mood yang tidak baik. Kalaupun nanti menemui Yuri, yang ada aku pasti hanya akan membuat dia memberontak. Aku akan cari cara sendiri nanti, kau fokuslah menjaga dia dari jarak jauh, pastikan kau melaporkan semua kegiatannya di sana."


"Baik, Tuan."


Setelah kepergian orang yang dia minta untuk mencari tahu keberadaan Yuri, Win kembali menyesap rokoknya. Sekarang dunianya benar-benar sedang kacau, dia kesal kepada Ayah dan Ibunya, juga tengah kesal kepada dirinya sendiri. Dia benar-benar mulai menyadari kalau dia tidak terbiasa tidak ada Yuri, jadi dia merasa kalau pasti suasana hatinya akan sedikit baik jika ada Yuri kan?


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2