Why?

Why?
Atap Gedung Rumah Sakit


__ADS_3

Sehari semalam sudah Martin tidak tidur dan tidak tenang, dia terus berkeliling kesana kemari mencari keberadaan Helena. Setelah kepergian mantan isterinya, ini adalah kali pertama Martin benar-benar merasakan betapa dia frustasi sampai tanpa sadar menangis karena begitu khawatir tentang Helena.


Saat ini Martin tengah menepikan mobilnya di pinggir jalan yang agak sepi untuk sebentar mengambil istirahat. Dia tidak makan maupun minum, dia benar-benar tidak merasakan lapar dan haus sama sekali. Entah harus menggunakan cara apalagi nyatanya, polisi baru akan bergerak sekitar satu jam lagi.


Setelah sekitar lima sampai sepuluh menit Martin kembali melajukan kendaraannya, mencari ke beberapa tempat sembari menunggu kabar dari teman-teman pengacaranya yang sedang berusaha mencari juga keberadaan Helena.


Di sisi lain.


Helena mengangkat kepalanya, menatap kedua orang yang telah menculiknya terkekeh melihat keadaan Helena yang begitu kacau. Helena benar-benar kehausan, kelaparan, matanya seperti kunang-kunang karena hampir lima belas jam dia di ikat dengan posisi berdiri pada tiang. Sungguh siang tadi tiang itu benar-benar seperti bara api ketika tersengat matahari sehingga kulit Helena yang menempel di sana terbakar.


"Bagaimana? Kau pasti sangat menderita bukan? Kau terlalu angkuh, sombong dan menyebalkan, makanya kau akan berakhir seperti ini. Kalau saja kau tidak sangat sombong dan menyebalkan setidaknya kau bisa bersenang-senang dulu dengan kami bukan? Sekarang kau akan mati seperti ini kau pasti sangat menyesal bukan?"


Helena tersenyum miring meski matanya benar-benar tidak bisa terbuka dengan benar.


"Anjing seperti kalian berdua, bahkan aku lebih baik dari pada menjadi mangsa kalian. Aku tidak pernah menyesali apapun, kalian tahu kenapa? Karena aku memiliki pola hidup yang baik sehingga aku yakin kalaupun memang harus mati, surga adalah tempatku. Kalian, orang seperti kalian apa pernah memikirkan tentang itu? Cih! tentu saja tidak akan mungkin bukan? Yang ada di otak kalian hanyalah apa yang kalian pikir menyenangkan tapi tidak perduli apakah orang lain merasakan yang sama. Aku, bahkan tidak akan mengaduh kesakitan apapun yang akan kalian lakukan padaku."


Kedua pria itu menatap Helena dengan tatapan kesal, sebenarnya dia ingin melakukan sesuatu untuk menyakiti Helena, membuatnya merasa bahagia jika nanti bisa melihat wajah menderita Helena.

__ADS_1


"Benarkah?"


Kedua pria itu mendekati Helena masing-masing dari mereka mendekati Helena, satu menyentuh dagu Helena dan membuat wajah Helena tegak, sementara satu lagi menyentuh perut Helena. Momen itu Helena gunakan dengan baik untuk mengambil satu ponsel pria itu, dan sejak tadi Helena memang sudah mengincar satu pria yang miliki kedalaman saku rendah sehingga mudah untuknya mencuri ponselnya. Posisinya satu pria itu ada agak belakang sehingga Helena mudah melakukan gerakan seolah dia sedang meronta.


Begitu mendapatkan ponselnya, Helena segera menggenggam erat ponselnya agar tidak begitu terlihat.


"CK! Sial! Kalau saja dia tidak di ikat seperti ini, mana mungkin kita tidak mengajarnya apa yang dia tuduhkan kepada kita tadi.


"Sudahlah, kita tunggu saja di luar dari pada nanti kita kena hukuman yang kau tahu sendiri bagaimana bos kita itu kan?" Ujar satu pria itu dan segera membawa satu lagi pria itu keluar dan berharga di pintu dan memastikan tak ada yang datang ke atap rumah sakit.


Helena dengan hati-hati menekan tombol untuk menyalakan layar, menggerakkan kepalanya, menoleh untuk melihat layar ponsel itu, dan benar saja memiliki sandi jika ingin mengoperasikan ponselnya. Untung saja Martin sudah mengajari bagaimana caranya merusak kunci layar sehingga tidak lama dari itu ponsel bisa di gunakan. Helena menekan nomor telepon Martin. Ini benar-benar sebuah keberuntungan karena Helena benar-benar melakukan apa yang di katakan Martin. Dia pernah mengajarkan kepada Helena banyak hal, terutama untuk menghafalkan nomor Martin karena akan berguna suatu hari nanti.


Halo, siapa ini?


"Atap rumah sakit, royal health." Ucap Helena dengan suaranya yang agak lemah karena memang dia sudah sangat lemah sekarang.


Helena? Kau Helena? Syukurlah.... Kau di mana? Atap apa? Aku akan kesana sekarang, pastikan keadaanmu baik-baik saja.

__ADS_1


Helena benar-benar tidak tahu Martin mendengar apa yang dia katakan atau tidak karena Helena tidak mungkin menggunakan mode pengeras suara yang jelas akan di sadari oleh para penculik itu kan?


"Atap rumah sakit royal health, aku disini. Atap rumah sakit, riyal health. Aku di sini, aku sudah kehabisan tenaga, aku di atap rumah sakit royal health." Ucap Helena yang sudah tidak sanggup lagi berkata-kata, entah Martin mendengar atau tidak, tapi sekarang Helena hanya bisa memasrahkan segalanya kepada takdir Tuhan. Helena mengeluarkan suara batuk sembari menjatuhkan ponsel dari tangannya ke dekat kaki tujuannya untuk menyamarkan suara benda jatuh, barulah setelah itu Helena menginjak ponsel yang tadi dia gunakan.


Di tempat lain.


Martin terus bicara tapi Helena sudah tidak menyahut lagi, sekarang dia berada di depan gedung apartemen Helen, dan dia juga tidak sengaja melihat Ibunya Helena yang terlihat sedih mondar mandir di sana.


"Nyonya, masuklah ke dalam. Baru saja Helena menghubungi, dia mengatakan kalau dia ada di atap rumah sakit royal health."


Ibunya Helena dengan segera menjalankan kakinya, menyatukan kedua tangannya dan berdoa semoga putrinya baik-baik saja dan dia mencoba untuk menguatkan dirinya karena keberadaan Helena di atas rumah sakit tentu sangat tidak masuk akal.


Martin juga merasakan yang sama, dia belum ingin menghubungi polisi karena ini belum tentu jelas benar atau tidak. Dia akan datang untuk memastikan barulah nanti dia akan mencari jalan keluar selanjutnya.


"Nyonya, tolong apapun yang terjadi nanti jangan membuat atau melakukan apapun yang akan membuat Helena dalam bahaya. Aku tidak tahu kenapa Helena berada di sana, tapi yang jelas keadaan Helena pasti sedang tidak baik, dia mengatakan kalau sudah kehabisan tenaga. Sekarang aku juga tidak tahu seberapa bahayanya untuk kita apalagi untuk Helena." Martin mencengkram kemudi mobilnya, rahangnya mengeras mengingat bagaimana Helena mengatakan dia sudah kehabisan tenaga.


Helena, kau harus bertahan. Meskipun aku tahu kau tidak memiliki alasan untuk bertahan hidup, tapi kau harus memberikan kesempatan kepada orang lain agar kami bisa membuatmu memiliki alasan untuk hidup lebih lama. Kali ini jika aku bisa menyelamatkan mu, aku akan menjadi lebih egois, aku akan memaksa maju seberapa banyak kali pun kau menolak, aku tidak akan membiarkan kau pergi.

__ADS_1


Martin menginjak gas mobilnya, mencoba secepat mungkin untuk sampai di sana sebelum terjadi sesuatu dengan Helena, maksudnya terjadi sesuatu yang lebih buruk lagi.


Bersambung.


__ADS_2