
"Maaf, maaf karena menabrak putrimu. Hari itu, aku benar-benar tidak tahan melihat putriku menangis kesakitan, aku tidak tahan melihat putriku terus kejang, dan juga kehilangan kesadaran karena kesehatannya yang semakin memburuk. Aku datang ke sekolah anakmu berniat menemuimu dan meminta ginjal anakmu secara baik-baik. Tapi saat aku tahu kalau Velerie juga memiliki masalah dengan paru-paru nya, kau pasti tidak akan membiarkan putrimu mendonorkan satu ginjalnya untuk Denise kan? Makanya, makanya aku aku menabrak Velerie padahal aku benar-benar sangat takut sekali. Aku tidak punya pilihan lain saat itu, Helena." Melisa mengakhiri ucapannya dengan suara tangis yang kembali pecah mengingat bagaimana sulitnya hidup belakangan ini.
Helena mengepalkan tangannya, gila! Dia benar-benar tidak menyangka kalau dugaannya benar-benar adalah kenyataan.
"Kau membunuh putriku, mencuri ginjalnya, bahkan entah kau atau keluargamu membunuh guru Vethie Jolie yang tidak bersalah. Katakan, katakan bagaimana aku bisa menerima permintaan maaf dari iblis sepertimu?"
Helena menahan tubuhnya yang gemetar, menahan dirinya untuk tetap tenang dan sabar mendengar langsung pengakuan Melisa, melihat langsung bagaimana Melisa meyakinkan apa yang dia ucapkan tadi dengan ekspresi nya.
"Aku memang salah, aku salah karena merebut David, memaksa David untuk menikahiku dan meninggalkanmu. Aku tahu aku sudah membuat kesalahan data dengan membunuh putrimu. Tapi, kau juga seorang Ibu bukan? Kau tahu bagaimana sulit dan skaitnya melihat anak kesakitan bukan? Kau seharusnya juga tidak terlalu menyalahkan ku karena aku juga tidak berdaya dan tidak memiliki pilihan lain."
Helena menatap Melisa, lalu terkekeh meski sebenarnya yang begitu dia inginkan adalah menangis. Padahal yang bisa merasakan sakit dan sedih saat anaknya kesakitan bukan hanya Melisa bukan? Dia juga sedih, dia sedih sekali sampai dia ingin mati menyusul putrinya. Kenapa? Kenapa di dunia ini begitu banyak orang egois yang bahkan tidak memikirkan kalau orang lain juga bisa merasakan sakit yang sama. Ini bukan soal harus mengerti meski mereka adalah seorang Ibu, ini soal keegoisan dan tidak mampunya mengahadapi dunia. Helena tidak bisa menerima kenyataan bahwa putrinya tiada dengan cara yang tragis hingga dia merasa tak lagi sanggup hidup. Melisa yang tak sanggup melihat anaknya kesakitan hingga pada akhirnya membunuh kehidupan lain, membunuh kebahagiaan orang lain demi kebahagiaan diri sendiri dan menutupi perasaan tidak siap kehilangan.
"Melisa, bukan hanya kau yang seorang Ibu. Tapi aku juga seorang Ibu yang harus kehilangan putriku, melihat dengan kedua bola mataku sendiri saat-saat terakhir putriku yang begitu tragis dan menyedihkan. Jika itu adalah kau, bagaimana kau akan menghadapinya?"
__ADS_1
Helena menatap Melisa yang tak bicara karena dia merasa begitu tak tahu harus mengatakan apa. Helena tersenyum kelu, lelah, sungguh dia lelah dan tidak tahan lagi. Dia ingin berteriak dan memaki sampai dia puas, tapi apa gunanya? Velerie tidak akan hidup lagi bukan?
"Kalau begitu, temani putriku, temui dia dan minta maaf untuk apa yang sudah kau lakukan. Berada di dekatnya, jaga dia untuk menebus kesalahan yang sudah membuat dia berada di tempatnya sekarang."
Melisa menggeleng dengan tatapan memohon, tentu saja itu tidak mungkin bukan? Sekarang Melisa harus benar-benar menjaga Denise, dia tidak akan pergi kemanapun apapun yang terjadi.
"Melisa!" David berlari dengan langkah cepat, nafas tengah dan kini sudah berada di atap rumah sakit. Sebenarnya saat rapat di undur karena beberapa hal, jadi David memutuskan untuk sementara ke rumah sakit dan menemani Denise sebelum sore nanti tepat di jam rapat akan di laksanakan. Begitu melihat di kamar tidak ada Denise, tidak ada Melisa juga segera David mengeluarkan ponselnya. Di sana dia melihat pesan yang di kirimkan Melisa padanya, juga mertuanya yang kini sedang mengurus banyak masalah tentang media sosial yang meledak hanya dalam hitungan saat saja. Keberadaan Melisa di ketahui saat David bertanya kepada salah satu perawat yang melihat Melisa baik menggunakan lift, jadi dia memiliki firasat yang tepat hingga akhirnya sampai ke atap rumah sakit.
Melihat Melisa yang menangisi hingga tubuhnya gemetar, juga melihat bagaimana Helena berdiri degan pisau yang ada di tangannya, lalu Denise yang sepertinya tertidur jika di lihat dari belakang. David menatap Helena seolah ingin menanyakan kenapa Helena melakukan itu? Kenapa dia harus berbuat sampai sejauh ini?
Helena tersenyum, tatapannya benar-benar dia tunjukan dengan jelas bahwa dia begitu jijik mendengar apa yang di tanyakan David padanya. Apa yang dia lakukan? Hah..... Bahkan ini adalah kali pertama David berbicara, bertanya dengan nada yang tinggi atau membentak.
"Kenapa? Tentu saja aku hanya ingin. menagih ginjal Velerie yang di curi oleh istrimu, juga meminta istrimu untuk menghidupkan kembali Velerieku."
__ADS_1
David terdiam dengan ekspresi wajahnya yang terlihat kaget, tidak mengerti dan bingung karena yang dia pikirkan antara dia tidak percaya tapi juga ingin tahu apakah benar atau tidak.
"Helena, apa yang kau katakan? Kenapa kau meminta itu kepada Melisa?" Sebenarnya untuk mengatakan pertanyaan itu David benar-benar seperti tidak siap jika pada akhirnya dia akan mendapatkan jawaban yang tidak dia inginkan. Tapi melihat Denise yang tak bergerak di kursi rodanya membuat David seolah ingin mengulur waktu dan menyelamatkan putrinya.
"Kenapa tidak kau coba untuk menanyakan itu kepada istrimu tercinta? Tanyakan padanya apa yang sudah dia lakukan, tanyakan kenapa kami berada di tempat ini."
David menatap Melisa yang masih menangis, hingga saya mata Melisa menatap mata David, saya itulah David tak bisa menahan deta jantungnya yang begitu kuat seolah di benar-benar tidak akan bisa menerima kenyataan yang sangat tidak dia inginkan.
"David, aku, aku benar-benar terpaksa melakukannya. David, aku hanya ingin melindungi anak kita, aku hanya ingin menyelamatkan Denise. Aku tidak salah bukan? Lagi pula Veletie juga mengalami masalah dengan paru-paru nya sejak dia lahir, dia sering sakit juga jadi aku bisa di bilang telah membantunya melenyapkan rasa sakit bukan?" Tanya Melisa sembari menangis terisak berharap David akan memaklumi dan membatunya agar Denise selamat dari Helena.
David memundurkan langkahnya, tatapan matanya benar-benar tidak bisa di pungkiri bahwa dia sangat terkejut, dan jelas sulit untuk menerimanya.
"Kau, jadi kau? Kau, kau yang membunuh putriku untuk menyelamatkan putriku yang lainnya? Kau, melenyapkan putriku yang bahkan tidak pernah memiliki perasaan benci padamu? Dia bahkan tetap tersenyum dan tertawa saat kau memakinya, kenapa? Kenapa kau membunuh anak kecil yang bahkan tidak pernah membuat salah? Kenapa, kenapa kau seperti iblis?!"
__ADS_1
Bersambung.