
Helena melangkahkan kakinya, menuju ke SLB.
Kepala sekolah, orang itu akan mendapatkan hukuman juga atas apa yang dia lakukan, dan untuk guru yang kabur karena dia adalah saksi, Helena akan membuat dia datang sendiri tanpa harus sibuk mencarinya lagi.
Sesampainya di gerbang sekolah.
Helena tersenyum dengan tatapan jahat, lalu kembali melangkahkan kakinya untuk menuju ruang kepala sekolah.
"Nyonya Helena, maafkan harus mencegah anda, tapi kepala sekolah sedang mengerjakan pekerjaan penting, tolong datang lagi besok." Penjaga sekolah itu sepertinya bekerja sama dengan kepala sekolah, atau mungkin kepala sekolah yang meminta dia untuk menghentikan Helena jika Helena datang.
"Oh ya? Kalau begitu, bagiamana kalau kau sampaikan kepada kepala sekolah bahwa pembicaraan kita kemarin sudah aku rekam, jika dia tertarik, bisa temui aku dan mendengarkan baik-baik bagaimana dia bicara dengan begtu jelas kemarin."
Penjaga sekolah itu terdiam sebentar, dia nampak berpikir, tapi tak lama dia mengangguk dan segera pergi menemui kepala sekolah.
"Anda juga harus mendapatkan hukuman, bukankah seharusnya begitu?"Gumam Helena seorang diri lalu tersenyum dengan tatapan dingin.
Beberapa sat kemudian.
Helena tersenyum tipis menatap kepala sekolah yang kini duduk berseberangan meja dengannya. Kepala sekolah terlihat kesal, tapi dia juga terlihat tidak ingin banyak bicara lagi.
"Apa tujuan yang sebenarnya anda datang, Nyonya?" Tanya kepala sekolah yang pada akhirnya membuat senyum di bibir Helena mengembang.
Helena menghela nafas, memundurkan tubuhnya, membiarkan punggungnya bersandar dengan nyaman sembari menatap kepala sekolah.
__ADS_1
"Untuk apa? Tentu saja untuk memberikan perhitungan kepada orang yang juga terlibat konspirasi untuk kematian putriku.
Kepala sekolah menghela nafasnya, yah mungkin dia benar-benar kesal sekali karena Helena haus lagi-lagi datang dan membuat ulah padahal dia sudah cukup menjelaskan segalanya bukan?
"Seingat ku, anda mengatakan tidak akan mengunggah riwayat akun bank saya, kenapa anda membuat ulah lagi sekarang? Jangan bilang anda ingin mengingkari janji anda lalu akan melakukan apa yang ingin anda lakukan?"
Helena berdecih, dia tersenyum dengan maksud mencemooh ucapan kepala sekolah yang terdengar menggelitik sekali.
"Siapa bilang aku akan mengunggah riwayat akun bank anda?" Helena menatap kepala sekolah dengan seringai licik yang penuh arti membuat kepala sekolah tersadar bahwa Helena bukanlah orang yang sederhana cara berpikir nya.
"Apa yang anda inginkan?"Tanya kepala sekolah.
"Penderitaan untuk anda."
"Anda terus menekan saya karena kematian putri anda, ini bukan lah hal yang wajar." Ucap Kepala sekolah dengan tegas agar membuat Helena berhenti menuntut apapun dari dirinya, karena dia tidak ada hubungannya sama sekali dengan kecelakaan itu.
"Lalu? Apa yang anda lakukan adalah wajar? Menerima suap, membantu melenyapkan barang bukti, bahkan anda juga meminta saksi untuk pergi, sungguh anda tidak lupa dengan apa yang anda lakukan bukan?"
Kepala sekolah terdiam sebentar, sungguh ternyata begitu sulit menghadapi seorang Helena, tapi dia juga harus berusaha agar tidak terlalu jauh terseret dalam masalah pelik karena bagaimanapun posisinya sebagai kepala sekolah alam hancur jika kebenaran ini terungkap.
"Nyonya Helena, kematian putri mu sama sekali tidak ada hubungannya denganku, aku bukan orang yang membunuh putri mu, aku juga tidak terlibat dalam skenario Tuhan yang mentakdirkan putrimu tiada di usianya yang masih kecil. Aku hanya tidak berdaya melawan orag itu, aku juga tidak bahagia sekali menerima uang itu anda tahu!" Kepala sekolah mulai kehilangan kesabaran hingga saat bicara intonasi nya mulai naik, tatapan matanya juga terlihat menahan mendekati akhir kalimat.
Helena tersenyum, menatap kepala sekolah dengan tatapan tegas.
__ADS_1
"Kepala sekolah yang mudah tidak berdaya, kepala sekolah yang lemah yang tidak bisa melindungi anak muridnya, kepala sekolah yang menomor belakangkan anak muridnya, adalah kepala sekolah bodoh yang tidak pantas dengan jabatannya."
Helena mengeluarkan ponsel dari sakunya, lalu memutar potongan pembicaraan di antara mereka.
Lalu? Apa yang anda lakukan adalah wajar? Menerima suap, membantu melenyapkan barang bukti, bahkan anda juga meminta saksi untuk pergi, sungguh anda tidak lupa dengan apa yang anda lakukan bukan?
Nyonya Helena, kematian putri mu sama sekali tidak ada hubungannya denganku, aku bukan orang yang membunuh putri mu, aku juga tidak terlibat dalam skenario Tuhan yang mentakdirkan putrimu tiada di usianya yang masih kecil. Aku hanya tidak berdaya melawan orag itu, aku juga tidak bahagia sekali menerima uang itu anda tahu!
Kepala seolah terdiam, tentu saja dia panik dan takut, tapi beberapa detik setelah itu dia mencoba untuk merebut ponsel yang ada di tangan Helena. Dengan segera Helena menyembunyikan ponselnya, padahal dia sudah mengirimkan rekaman suara itu kepada Martin dan ke laptopnya, tapi karena ponsel itu adalah ponsel yang sering di gunakan Velerie, penuh dengan photo Velerie, Helena hanya bisa menjaga ponsel itu dengan baik. Iya, sekarang dia memiliki pr baru yaitu, membeli ponsel karena ponsel miliknya di hancurkan oleh Farah.
"Tenang saja, aku tidak akan mengunggah rekaman suara ini dalam waktu dekat, jadi sarankan adalah, undurkan diri sebagai kepala sekolah, akui kesalahan ini di hadapan semua staf, mungkin setelah anda melakukan ini aku akan sedikit terharu dan juga tidak memiliki niat lagi untuk mengunggahnya."
Kepala sekolah terlihat sangat marah, dia seperti begitu mendendam dan siap melakukan apapun untuk membunuh Helena.
"Jangan menunjukkan ekspresi seperti itu, meskipun anda berhasil merebut ponsel ini, tentu saja sudah sangat percuma karena aku sudah mengirimnya ke email ku, juga mengirimkan kepada pengacaraku. Percayalah padaku jika aku tidak kembali dalam keadaan utuh, pengacaraku akan datang, dan anda tahu apa selanjutnya bukan?"
Kepala sekolah membuah nafas kasarnya, dia benar-benar tidak berdaya dan putus asa. Padahal untuk menjadi seorang kepala sekolah di SLB elit seperti sekarang tidaklah mudah, dia butuh dua puluh satu tahun barulah sampai ke titik ini. Padahal hanya melakukan sedikit saja kesalahan, tapi karir nya sudah hancur seperti ini.
Helena tersenyum tipis melihat kepala sekolah yang tidak berdaya.
"Anda tahu benar sekarang kan? Tindakan yang salah pada akhirnya akan membuat semua pengorbanan dan kerja keras anda hancur. Jujur aku tidak kasihani melihat anda, tapi aku tulus mendoakan agar anda tidak mengalami apa yang aku alami." Setelah mengatakan itu, Helena meraih tasnya, bangkit dari duduknya, sebentar menatap kepala sekolah lalu beranjak meninggalkan ruangan kepala sekolah. Untuk atau tujuan penting, Helena belum bisa mengunggah pengakuan kepala sekolah, jadi dia akan menahan semua bukti dan bergerak ke arah yang lain.
Bersambung.
__ADS_1