
Setelah dari apartemen Airi, Helena meutuskan untuk sebentar datang ke rumah Ibunya karena kakak laki-lakinya terus mengirim pesan dengan kalimat mengancam yah tidak jelas.
Satu jam perjalanan akhirnya Helena sampai, tadinya dia ingin langsung masuk dan melihat keadaan Ibunya, tapi mendengar apa yang sedang di bicarakan oleh kedua kakaknya membuat Helena membeku, dia cukup lama terdiam dan mendengarkan hingga dia merasa cukup.
Helena segera menjauh, dia berjalan dengan langkah kakinya yang gontai di barengi dengan air mata kemarahan.
Sungguh sakit sekali hatinya, tapi dia juga harus tetap menahan perasaan itu dan terus melangkahkan kaki semakin menjauh dari sana agar tak perlu mendengar lagi kalimat lain yang justru akan semakin menyakiti hati dan membuat hidupnya tidak tenang.
"Anda benar-benar melakukan banyak aktivitas hari ini, Nyonya Helena. Bagiamana kalau ikut kami untuk mengambil masa istirahat?"
Langkah kaki Helena terhenti begitu melihat dua orang pria asing berdiri di hadapannya entah sejak kapan mereka berada di sana. Melihat tatapan mereka yang tidak biasa, tatapan seseorang yang seperti ingin melakukan suatu yang tidak baik, Helena reflek memundurkan langkahnya, tapi secepat itu salah atau pria itu menahan lengan Helena, dan satu lagi membekap mulut Helena agar tak mengeluarkan suara.
"Em! Em!" Helena masih mencoba untuk melepaskan diri, tapi kedua orang itu justru mengeratkan pegangannya yang membuat tubuh Helena semakin tak bisa mengeluarkan banyak gerakan. Setelah itu dia membawa Helena masuk ke dalam mobil, dan di waktu itulah Helena mencoba untuk berteriak karena sempat terlepas kain yang di gunakan untuk membekapnya tadi. Tapi itu benar-benar tidak dapat dia lakukan karena tidak lama dari itu dia kembali di bungkam mulutnya menggunakan kain yang sudah di berikan obat penenang sehingga lama kelamaan Helena menjadi lemas dan kehilangan kesadaran diri.
Beberapa saat kemudian.
Byur!
__ADS_1
Helena terbangun dari tidurnya saat seember air mengenai tubuhnya, bahkan matahari juga sudah mulai muncul. Perlahan Helena membuka matanya, dan begitu dia bisa minat dengan jelas, Helena di buat begitu terkejut dengan apa yang dia lihat, dan bagiamana kondisinya saat ini.
Helena tengah duduk di sebuah kursi, kedua tangannya terikat dan mulutnya juga tertutup rapat oleh lakban tebal. Melihat dari tempat yang begitu minim cahaya, juga betapa berantakan nya jelas tempat itu adalah tempat dimana sudah tidak lagi di gunakan. Helena menatap dua orang yang menculiknya menatap dengan dingin, satu lagi menatapnya dengan tatapan yang begitu menjijikan sembari memperhatikan tubuh Helena. Sial! Melihat bagaimana dia tidak sadarkan diri semalaman apakah dua orang bajingan itu melakukan sesuatu padanya?
"Kenapa menatap seperti itu?" Tanya salah satu pria yang telah menculiknya.
Helena tentu saja ingin menjawab pertanyaan itu, tapi bagaimana mungkin bisa saat mulutnya di lakban? Walaupun memaksakan diri mana mungkin mereka akan mengerti apa yang dia katakan?
"Tenang saja, kami tidak akan melakukan apapun padamu saat kau tidak sadar, tapi tunggulah beberapa saat lagi baru kita akan bermain dengan permainan yang menyenangkan." Ucap satu nya lagi orang yang menculiknya.
Salah satu dari mereka melepaskan lakban dari mulut Helena dengan kasar sehingga Helena merasakan sakit karena kulitnya seperti di tarik kuat hingga rambut halus di sekitar mulutnya tercabut.
Kedua orang itu saling menatap, lalu tertawa bersamaan dengan terbahak-bahak membuat Helena sadar orang yang telah menculiknya sudah pasti tahu kalau Helena tidak akan mungkin sanggup memberikan uang sebanyak yang dia katakan. Jangan tanya lagi siapa orang yang melakukan ini, tentu saja orangnya adalah keluarganya Melisa bukan? Entah apa masalahnya, tapi sejak awal mereka benar-benar menargetkan Helena padahal jelas sekali kalau ketegangan ini terjadi karena ulah mereka semua bukan?
"Jangan banyak berkhayal, bersyukurlah kau memiliki wajah yang cantik, karena kalau tidak, aku sudah akan menghancurkan wajah mu. Beruntungnya wajah cantik mu membuat kami memiliki niat baik untuk bermain denganmu, jadi tunggulah kami puas bermain baru bisa merusak wajah mu."
Helena mengepalkan tangannya, tatapan matanya benar-benar sangat tajam hingga mata marah itu meneteskan air mata. Lagi-lagi dia harus menghadapi kesulitan seperti ini, padahal dia sama sekali tak mengerti kenapa harus selalu dia? Sejak dulu dia berteman dengan Melisa, Ibunya Melisa benar-benar begitu jelas menunjukkan bahwa dia membenci Helena.
__ADS_1
"Hah..... Jangan menangis cantik, apa kau sangat tidak sabar sampai harus menangis seperti ini?"
Helena tersenyum miring, tatapannya benar-benar tajam dan berani. Dia sangat sadar bahwa apa yang dia lakukan mungkin memang tidak akan bisa mengubah kedua orang itu untuk menghentikan apa yang dingin dia lakukan. Tapi, Helena juga tidak merasakan takut apapun karena jika pada akhirnya dia mati, maka dia akan memilih mati dengan caranya sendiri sebelum dia mati setelah di hancurkan oleh dua orang bajingan yang tidak berperasaan itu.
"Masalahnya, aku tidak yakin apakah milik kalian bisa membuat ku merasa cukup atau tidak. Aku benar-benar sedih melihat postur tubuh kalian yang seperti anjing ini, mungkinkah aku akan merasa di gelitik nantinya? Ataukah, aku bahkan tidak merasakan apapun seperti angin saja yang masuk?"
Kedua pria itu benar-benar tak bisa menahan tawanya mendengar apa yang di katakan Helena. Bagiamana pun mereka juga merasa kesal, tapi melihat Helena yang begitu berani mereka jutsru menganggap kalau Helena benar-benar menarik sekali.
"Baiklah, karena kau begitu penasaran, biarkan aku tunjukkan pada mu." Salah satu pria itu mulai mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir Helena, tapi begitu jarak bibir mereka sudah dekat, Helena langsung meludah membuat pria itu sontak menjauh dan menyeka bibirnya dengan ekspresi kesal.
Helena terkekeh melihat ekspresi kesal pria itu.
"Kau mau apa? Kalau kau ingin berhubungan badan, bukankah seharusnya kau mencari anjing betina dulu? Manusia sepertiku benar-benar tidak Sudi dengan anjing seperti kalian berdua."
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi Helena. Kapok? Tidak! Helena sengaja memancing emosi kedua orang itu agar dapat kehilangan kendali dan memukulinya hingga mati. Sejak tadi Helena mencoba untuk mendengar suara dari luar, tapi benar-benar sunyi dan sepertinya dia berada di tempat yang jauh, atau bahkan bisa saja dia ada di dalam hutan. Jadi jika Martin menyadari bahwa Helena menghilang, jelas akan membutuhkan banyak waktu, dan kedua pria itu pasti sudah akan melakukan apa yang dia katakan tadi. Di banding mati setelah di nodai, alangkah baiknya mati mengenaskan setelah di pukuli.
__ADS_1
Bersambung.