
"Farah sedang membutuhkan dukungan kita semua, kita harus datang menemui Helena, dan minta dia untuk menjelaskan ini supaya Farah tidak di pecat dari pekerjaannya."
Airi menggelengkan kepala karena dia benar-benar merasa keheranan dengan cara berpikir Ibunya yang begitu mengutamakan Farah di banding siapapun.
"Bagiamana aku bisa melakukan itu, Ibu? Membicarakan tentang Farah begitu membuatku terus mengingat bagaimana Farah dan suamiku melakukan aktivitas ranjang mereka, tidakkah jangan hanya perasaan Farah saja yang Ibu pentingkan? Aku juga putrinya Ibu, aku menikah dengan pria pilihan Ibu, aku menjalani sulitnya berumah tangga demi memenuhi keinginan Ibu, tidak bisakah Ibu perduli padaku saat ini?"
Ibunya Farah hanya bisa terdiam, tentu saja dia tahu kalau Airi juga adalah putrinya, tapi bagaimanapun Airi adalah anak yang kuat, dibandingkan dengan Farah yang mudah sekali tertekan dan sedih, jadi Ibu mereka pikir saat ini menyelamatkan Farah adalah pilihan yang terbaik.
Airi membuang nafasnya, menyeka air matanya karena dia tersadar tidak ada yang bisa dia harapkan dari rumah orang tuanya. Ayahnya yang duduk saja di kursi roda tidak mengatakan apapun meski tatapan matanya terlihat begitu sedih, dan sangat menyesalkan apa yang sedang terjadi.
Adik bungsunya juga hanya bisa diam menangis menahan semua perasaan campur aduk di dadanya. Mungkin dia juga merasa bersalah karena selama ini Farah lah yang telah membiayai kuliahnya, tapi di lain sisi dia juga kecewa dan marah dengan apa yang di lakukan oleh kakaknya, Farah.
Beberapa saat kemudian, pria bernama Lucas, dia malah suaminya Airi, pria yah diam-diam menjalin hubungan dengan adik kandung istrinya sendiri tiba dengan langkah kaki tergesa-gesa.
"Airi aku-"
__ADS_1
Plak!
Airi menampar wajah suaminya, padahal selama ini Airi begitu menganggap suaminya bagaikan dewa, Airi selalu saja membanggakan semua hal tentang suaminya, bahkan dia juga sering berbohong kepada banyak orang tentang suaminya agar tidak ada satupun yang bisa merendahkan suaminya. Tapi, pria itu justru dengan tidak tahu malunya telah melemparkan kotoran ke wajahnya, membuat semua orang bisa melihat betapa rendah, busuk, dan bejat suaminya itu.
Lucas tak bereaksi selain dia hanya bisa menerima perlakuan Airi yang untuk pertama kalinya seperti ini.
"Sebagai seorang istri aku hanya bisa mengatakan bahwa aku sangat sedih dan terhina dengan apa yang kau lakukan padaku. Tapi sebagai seorang kakak, aku merasa di rendahkan serendah rendahnya olehmu, Lucas. Kau menganggap adikku mainan, adikku alat untuk menyalurkan keinginan mu, aku benar-benar terhina sekali karena ternyata adikku sendiri juga dengan senang hati membiarkan harga dirinya di injak-injak seperti itu. Aku benar-benar seperti tercekik sesuatu yang sangat menyakitkan, aku tidak sanggup lagi, aku tidak mampu lagi memahami semua ini. Lucas, pergilah temui adikku, kalian pasti memiliki perasaan yang begitu dalam sampai kalian bisa melakukan sejauh itu kan? Aku akan mundur, aku akan pergi, jagalah adikku dengan baik. Seperti yang Ibuku katakan, Farah adalah gadis yang rentan, aku adalah sosok yang kuat, jadi aku pasti mampu melewati ini."
Ibunya Farah mneudnuk kelu, dia benar-benar tidak bermaksud seperti itu, dia tidak bermaksud menghancurkan kehidupan putrinya, apalagi saat itu Airi sedang hamil besar, dia tidak memiliki niat seperti itu, sungguh! Ibunya Farah hanya bisa menangis tak berdaya, tak tahu harus mengatakan apa karena dia yakin sekali Airi tidak akan mendengarkan apapun yang di ucapkan Ibunya.
"Kau benar, Lucas. Aku sedang hamil, di dalam perutku ada anak mu bukan? Tapi aku benar-benar tidak perduli apapun, sungguh aku tidak perduli. Kemarin aku sempat mengeluh, betapa tersiksanya tubuhku saat aku hamil, tapi karena aku mencintaimu, karena aku menganggap mu adalah duniaku, aku rela melewati masa hamil hingga sekarang hanya untuk membuatmu bahagia setelah anak kita lahir nanti. Aku sangat naif bukan? Sekarang aku sadar dimana letak salahku sehingga kau bahkan tega melakukan hal terlarang meski aku sedang hamil dan berjuang untuk anak kita. Kalaupun hubungan kalian sudah terjalin beberapa tahun, apakah kau tidak memiliki niat berhenti saat kau tahu aku hamil?"
Lucas mengusap wajahnya dengan kasar, dia mencoba untuk meraih tangan istrinya, kembali meminta dan memohon agar istrinya tak bersikap aneh dan selalu mengutamakan keselamatan diri.
"Tidak, aku yang salah. Aku yang bajingan, aku brengsek, aku juga pengecut. Airi, aku memang salah, tapi aku tidak memiliki harapan saya menjalin hubungan dengan Farah. Aku, tetap seorang Lucas yang hanya mencintai mu."
__ADS_1
Airi membuang nafas kasarnya, menatap Lucas dengan tatapan dingin.
"Cinta? Kau salah jika kau mengatakan kau mencintaiku. Jika kau benar mencintaiku, kau tidak akan tega dan memiliki niat untuk mengkhianati cintamu sendiri." Setelah mengatakan itu, Airi berjalan keluar dari rumah orang tuanya, dia bahkan mengabaikan kakak pertama yang baru saja datang dan mencoba untuk menyapa Airi. Tapi melihat Airi yang begitu dingin dan kacau, dia memutuskan untuk tidak menanyakan apapun, dan dia mencoba untuk menahan Lucas yang ingin mencegah kepergian Airi.
"Dekat denganmu hanya akan membuat adikku merasa kacau dan tersiksa, biarkan dia tenang dulu."
Di sisi lain.
Helena tersenyum puas saat mengetahui jika kepala sekolah resmi mengundurkan diri lagi ini. Benar-benar sangat di luar dugaan karena kepala sekolah bertindak lebih cepat di banding yang dia pikirkan. Sayang sekali, suatu hari nanti dia masih harus menggunakan kepala sekolah untuk memancing seseorang agar datang padanya.
Sekarang adalah giliran pihak kepolisian yang akan menjadi target buruan Helena. Untuk urusan polisi, Helena tidak akan menggunakan unggahan bukti atau apapun, dia hanya akan menggunakan kalimat memelas di beberapa kolom komentar dan membiarkan pengguna internet menebak sendiri, lali Helena akan menghitung opini bahwa kepolisian yang membantu kasus Velerie adalah posisi yang tidak pantas menyandang posisi itu.
"Mari bermain-main, aku akan lihat apakah pada akhirnya kalian masih bisa sombong seperti dulu? " Gumam Helena lalu tersenyum tipis kepada layar laptop nya yang kini tengah membuka media sosial miliknya.
Seperti yang di katakan Helena, dia benar-benar menceritakan bagiamana pengalaman tidak baiknya terhadap seorang oknum negara yang terlihat tidak serius dalam membantunya mendapatkan keadilan untuk putrinya.
__ADS_1
Bersambung.